INERSIA

cahyo laras
Chapter #46

Penghancuran Mental Sang Parasit

"Hai, Gaes... ini pertama kalinya aku ke mall naik motor lho!"

Suara Olla terdengar ceria mengalahkan deru angin dan suara knalpot. Dari pantulan kaca spionku yang bergetar, kulihat ia sedang merekam wajahnya sendiri menggunakan ponsel untuk Story Instagram. Senyumnya begitu lebar, matanya berbinar riang, kata-katanya sangat friendly seolah membonceng Supra butut adalah petualangan paling estetik abad ini.

Tapi begitu kameranya mati? Ceritanya beda seratus delapan puluh derajat.

"Aduh, Daf! Awas mobil boks!" pekik Olla sambil menepuk pundakku keras-keras.

Kedua lengannya melingkar di perutku, mengencangkan pegangannya sampai aku nyaris kehabisan napas. Aroma parfum floral mahalnya terhirup jelas setiap kali angin berhembus, sangat kontras dengan bau asap knalpot Metromini yang sedang kami salip. Bermanuver di tengah kemacetan Sudirman jelas neraka baginya. Aku harus meliuk di celah sempit berjarak beberapa sentimeter dari spion mobil mewah, menahan rem mendadak saat angkot berhenti sembarangan, dan menulikan telinga dari klakson sahut-sahutan. Cengkeraman Olla di tulang rusukku makin brutal. Semoga dia kapok!

Sesampainya di parkiran basement mall, udara pengap langsung menyergap. Kami menaruh helm di sadel. Olla melepas jaketku dan menaruhnya di setang motor. Karena ranselku isinya hanya botol minum dan payung butut, kutinggalkan saja dicantolkan di depan.

Olla tampak ngos-ngosan. Wajahnya sedikit pucat.

"Kamu nggak apa-apa kan, La?" tanyaku.

Olla hanya mengacungkan jempolnya sambil menunduk memegang lutut.

Namun, sedetik kemudian, keajaiban terjadi. Ia menegakkan tubuh, mengambil cermin kecil dari tasnya, merapikan rambut cokelat kehitamannya yang sedikit kusut karena helm, melakukan touch up bedak dalam gerakan secepat kilat, dan voila. Ia kembali memancarkan aura influencer elit yang segar bugar. Gila. Skill manipulasi visual yang sama sekali tidak bisa kucontoh. Paling pol aku hanya menyisir rambut dengan jari, dan bersyukur kalau ada air wastafel untuk membuatnya sedikit klimis.

Kami berjalan masuk ke dalam area mall yang benderang, disambut hembusan AC sentral yang dingin.

"Kita cari pakaian dulu yuk, Daf," ajak Olla, langkah sepatunya berbunyi ritmis di lantai pualam.

"Ya, terserah kamu," jawabku datar. Dalam hati, aku sangat merindukan kasurku di kosan.

Kami menaiki eskalator. Tiba-tiba, langkah Olla terhenti di ujung undakan. Matanya membelalak, tubuhnya refleks tegang.

"Ada apa?" tanyaku.

"Aduhh... ngapain sih dia di sini," gerutu Olla dengan nada kesal bercampur panik.

Aku mengikuti arah pandangannya. Dari kejauhan, sekitar lima belas meter di depan kami, berdiri seorang pria muda berkulit putih.

Olla langsung berbalik dan berjalan lebih cepat. Aku mengikuti disampingnya.

"Mantanmu? Pria berkaos oversize hijau botol itu?" kataku cepat.

Langkah Olla terhenti. Ia mendongak, menatapku dengan raut wajah keheranan. "Hah? Kamu tahu? Di antara puluhan orang yang lewat, kamu sadar itu orangnya?"

"Sangat kentara kok," jawabku. Pria itu berdiri menyamping, pura-pura melihat ponsel, tapi bola matanya terus melirik liar memindai kerumunan. Gelisahnya sangat tidak natural. "Memangnya kenapa dengan dia?"

Olla beringsut mendekat, setengah berbisik di dekat lenganku. "Namanya Kevin. Kami putus tiga bulan lalu karena dia overprotective banget. Ngebatesin aku kerja sama siapa, brand apa, photoshoot sama siapa... aku risih. Setelah putus, dia ngemis balikan tapi aku tolak. Akhirnya dia sering buntutin aku. Kok bisa ya kebetulan banget ketemu dia di mall ini?"

Aku menghela napas. Kebetulan apanya?

Bukan, La. Dia tidak di sini karena kebetulan. Saat di jalan tadi, kamu asyik membuat Story IG. Dia menontonnya, mengenali jalan atau landmark di latar belakang motorku, dan langsung memacu kendaraannya menyusul ke mari. Kamu sendiri yang memberikan koordinatmu padanya.

"Gimana ya, Daf? Aku udah risih banget dibuntutin dia," keluh Olla cemas.

Aku diam. Mataku menyipit, lensa mataku seolah melakukan zoom in pada sosok Kevin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Membedah anatomi psikologisnya.

Pemindaian dimulai. Rambut undercut standar barbershop murahan. Kaos oversize yang dipakainya bukan merek desainer, melainkan brand lokal yang sedang diskon, kainnya sedikit melar di bagian kerah. Celana jeans-nya model pasaran, dan sneakers-nya adalah sepatu hypebeast versi replika kelas A, terlihat dari jahitan solnya yang sedikit asimetris. Postur tubuhnya membungkuk pelan, matanya haus validasi. Sesekali ia melirik bayangannya sendiri di kaca etalase.

Kesimpulan: Kevin bukan anak konglomerat. Dia lelaki middle-class biasa. Obesinya pada Olla bukan murni karena cinta, melainkan karena ego dan status sosial. Memiliki pacar seorang influencer cantik adalah piala kebanggaan (trophy girlfriend) yang membuatnya dihormati di tongkrongannya. Tanpa Olla, dia kembali menjadi pemuda biasa yang tak terlihat. Ia menguntit karena ia kehilangan sumber validasi dan harga dirinya, bukan kehilangan cintanya.

Untuk menghancurkan parasit seperti ini, aku tidak butuh tinju. Aku hanya perlu mengebom egonya sampai hancur berkeping-keping.

"Olla, ikut aku," perintahku.

Aku meraih pergelangan tangan Olla. Ia tersentak kaget, tapi pasrah saat aku menariknya menjauh dari radar penglihatan Kevin.

"K-kita mau ke mana, Daf?" tanyanya.

"Membuang parasit."

Aku menarik Olla masuk ke sebuah toko buku Gramedia yang cukup sepi. "Tunggu di sini sebentar. Jangan keluar dari area rak novel," instruksiku. Olla mengangguk bingung.

Aku melesat ke lorong alat tulis. Aku mengambil satu lembar kertas stiker doff (hitam matte), sebuah spidol metalik warna emas (gold marker), dan gunting kecil. Lalu aku bergeser ke area elektronik. Kuambil sebuah flashdisk dengan casing besi padat berlapis karet yang terlihat paling kokoh dan industrial, harganya seratus lima puluh ribu. Kubayar semuanya di kasir dengan cepat.

Kemudian, aku masuk ke dalam bilik toilet pria mall. Ku-kunci pintunya. Dari dompetku, aku mengeluarkan kartu debit BRI Simpedes biruku. Tanganku bergerak secepat ahli bedah. Aku mengukur, memotong stiker hitam matte itu, dan menempelkannya dengan sangat presisi menutupi seluruh permukaan kartu biruku, hanya menyisakan bagian chip emasnya saja yang terbuka.

Lihat selengkapnya