INERSIA

cahyo laras
Chapter #47

Cola Dingin Tanpa Es

Satu jam kemudian, aku resmi merangkap jabatan dari seorang akuntan menjadi unta pengangkut barang.

Kami berkeliling mulai dari toko sepatu, skincare yang botolnya kecil tapi beratnya minta ampun, sampai pernak-pernik handphone. Belanjaannya makin menggunung. Kedua tanganku kini penuh dengan tali-tali kantong kertas berbagai merek yang mulai meninggalkan bekas merah di telapak tanganku.

"Daf... makan yuk," ajak Olla. Langkahnya sedikit gontai karena lelah mengelilingi mall.

"Mau makan apa? Makan di mall biasanya mahal, La. Overpriced," jawabku, jiwa mendang-mendingku kembali meronta.

"Aku yang bayarin, tenang aja," kata Olla enteng.

"Gasss."

Dia yang bayar, kan? Apa itu harga diri? Di kamus budak korporat sepertiku, makanan enak dan gratis adalah rezeki nomplok yang haram hukumnya untuk ditolak.

Kami melangkah masuk ke sebuah restoran ayam goreng cepat saji yang ramai. Aroma khas minyak goreng, gurihnya tepung bumbu rahasia, dan manisnya saus tomat langsung menyergap hidung. Suara obrolan pengunjung berpadu bising dengan musik latar mall. Kami berhasil menempati satu meja kosong di sudut ruangan.

"Aku yang pesan aja ya," kata Olla, bersiap berdiri.

"Nggak usah, aku aja. Nampannya berat. Duitnya aja sini, kamu duduk jagain belanjaanmu," potongku praktis.

Olla mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari tasnya dan menyodorkannya padaku.

"Kamu mau pesan apa?" tanyaku.

"Apa aja deh, terserah kamu..."

Alisku sedikit terangkat. Terserah aku?

"Beneran? Nanti kalau salah pesan gimana? Umm... Tapi Lagipula, mau pesan apa pun, di sini ujung-ujungnya cuma ada ayam goreng tepung sih," kataku sambil menyambut lembaran uang itu.

Aku berjalan menuju antrean meja kasir. Aroma ayam goreng makin pekat. Aku berdiri di sana, memandangi papan menu digital yang menyala terang. Otakku mulai menggali arsip lama. Mengingat-ingat memori menyedihkan empat tahun lalu, masa-masa di mana aku menjadi stalker menyedihkan yang rajin menonton Story IG Olla setiap kali dia makan di luar.

Ah, oke.

"Mbak," kataku saat tiba giliranku di depan kasir. "Pesan dada ayam dua, paha atas satu. Nasinya satu saja. Saus sambal dan saus tomatnya tolong dipisah di piring kecil. Lalu cola ukuran sedang satu, cola kemasan botol satu. Oh ya, boleh minta gelas kertas kosong satu dan sarung tangan plastik plastiknya sepasang?"

Kasir itu mengetik pesananku dengan sigap. "Baik, Mas. Totalnya seratus dua puluh ribu."

"Oke. Thanks," kataku, menyerahkan uang Olla.

Tidak berapa lama, pesananku siap di atas nampan merah, lengkap dengan struk dan kembalian. Aku membawanya kembali ke meja.

Aku meletakkan piring berisi satu dada ayam dan satu paha atas berukuran besar tepat di depan Olla. Tanpa nasi. Lalu, aku menuangkan saus sambal dan saus tomat ke satu piring kecil, mencampurnya menjadi satu. Terakhir, aku meletakkan gelas kertas kosong, dan menuangkan cola dari botol kemasan ke dalamnya tanpa tambahan es batu sama sekali.

"Ini kembaliannya," kataku, meletakkan sisa uang Olla di atas meja. Aku kemudian duduk, menarik piringku sendiri yang berisi dada ayam, nasi putih hangat, dan segelas cola dingin yang embunnya menetes di dinding gelas bersama bongkahan es batu.

Aku baru saja akan menyobek bungkus sedotan saat aku menyadari Olla sama sekali belum menyentuh makanannya.

Gadis itu terdiam kaku. Mata bulatnya menatap nampan di depannya seolah melihat hantu. Lalu, ia mendongak menatapku dengan ekspresi tak percaya.

"Daf..." panggilnya pelan.

"Ya?"

"Kamu kok tahu?"

Lihat selengkapnya