INERSIA

cahyo laras
Chapter #48

Gangguan Dihari Minggu

MINGGU, 08.00 WIB.

Dok... Dok... dok...

Suara gedoran keras di pintu kayu lapuk kamarku beresonansi di dalam kepalaku yang masih berat.

"Daaff... Daffaa... heeii bangun... Daafff!"

Itu suara Mas Bowo, tetangga kamar kosku. Ketukannya konstan dan brutal. Bukan tok-tok sopan, melainkan dok-dok panik menggunakan kepalan tangan.

Aku membuka mata dengan enggan. Ada apa sih pagi-pagi begini? Perasaanku, aku nggak punya cucian yang masih direndam di kamar mandi luar. Biasanya gedoran darurat level ini cuma punya dua arti: antara ada pakaian yang lama direndam sampai baunya apek, atau ada biawak nyasar masuk ke kloset. Ah, pasti biawak.

"Ya... ya..." sahutku parau, mengumpulkan kesadaran.

Aku bangkit dari kasur lipatku. Rambutku awut-awutan seperti sarang burung dara. Aku hanya memakai celana kolor bola selutut dan bertelanjang dada. Hawa kamarku pengap, perpaduan aroma buku tua, debu, dan sisa keringat semalam.

Gedoran di pintu tak kunjung berhenti. Malah sekarang terdengar suara kasak-kusuk beberapa orang. Biawaknya sebesar apa sih? Atau jangan-jangan ada komodo lepas dari kebun binatang dan nongkrong di kamar mandi kosan?

Aku memutar kunci, lalu menarik engsel pintu yang berderit.

Tampak tidak hanya Mas Bowo, tapi ada Ucup juga di sana. Mata mereka berdua melotot lebar.

"Ada apa? Biawak masuk lagi?" tanyaku sambil menggaruk perut.

"B-bukan, Daf. Lu dicariin," jawab Mas Bowo dengan suara agak bergetar.

"Dicariin? Dicariin siapa? Gue nggak pernah telat bayar kosan kok sama Ibu Kos," balasku.

"Itu..." Ucup menunjuk dengan dagunya ke arah pintu luar rumah kos-kosan kami yang terbuka.

Aku menjulurkan kepala, melongok ke arah luar.

Pemandangan yang kulihat jauh lebih mengagetkan daripada komodo mabuk. Mataku langsung terbuka seratus persen. Kantukku menguap tak bersisa.

Olla?!

Gadis itu berdiri di teras kosan, mengenakan kaos oversize putih bersih, celana kulot jeans, dan sneakers putih berkilau. Rambut terurai indah, dan wajahnya glowing memantulkan sinar matahari pagi. Aroma parfum floral-nya yang mahal bahkan bisa tercium menyapu bau selokan di depan pagar.

Ngapain dia ke sini?! Dan dari mana dia tahu aku ngekos di sini?! Pantas saja Bowo dan Ucup panik seperti melihat penampakan malaikat. Ini kos-kosan cowok kelas bawah. Kehadiran cewek spek influencer seperti Olla di ambang pintu adalah sebuah anomali brutal yang merusak tatanan ekosistem kosan kami.

"Itu cewek lu, Daf?" bisik Ucup takjub.

"Bukan... aduh, ngapain sih dia ke sini?" rutukku pelan.

"Lu punya utang sama dia?" timpal Mas Bowo curiga.

"Enggak... gue anti ngutang."

Aku segera mundur, menyambar kaos oblong hitam kusut yang tersampir di sandaran kursi, memakaianya asal-asalan, lalu melangkah cepat keluar menemui sumber malapetaka di hari liburku ini.

"Halo, Daf... kosanmu estetik ya?" sapa Olla dengan senyum tanpa dosa, matanya melihat ke sekeliling tembok kosan yang catnya sudah mengelupas.

"Estetik apanya? Ngapain kamu ke sini, La?" tanyaku to the point, masih mengumpulkan nyawa. "Belum cukup kagetku kamu Jumat kemarin tiba-tiba datang ke kantorku, sekarang datang ke kosanku? Aku masih mau melanjutkan mimpiku tadi."

Olla memajukan bibir bawahnya. "Enggak, anu... katamu kan waktu makan malam itu kamu ngekos di daerah Tebet. Jadi tadi pagi aku nyariin deretan kosan cowok di sini. Kan ada banyak banget tuh, ya udah tiap warung kopi atau warung indomie deket kosan cowok aku tanyain ada yang kenal Daffa nggak... eh, nemu deh bapak-bapak yang nunjukin ke sini."

Aku memijat pangkal hidungku. Namaku selangka itu kah sampai semudah itu dicari pakai metode door-to-door manual? Dia berpeluang besar salah orang, lho!

Aku menoleh ke kiri dan kanan. Tetangga kosan lain mulai mengintip dari balik jendela. Aduh. Kalau aku menyuruhnya masuk ke ruang tamu komunal depan TV, orang-orang bakal kepo dan jadi fitnah. Tapi kalau aku menyuruhnya masuk ke kamarku... aku hanya bisa berharap Pak RT tidak tiba-tiba melakukan sidak warga.

Ya sudahlah, langsung suruh masuk kamar saja. Bodo amat kamarku berantakan seperti kapal pecah.

"Masuk," instruksiku singkat.

Aku berjalan masuk, diikuti Olla di belakangku. Mas Bowo dan Ucup yang masih berdiri di lorong buru-buru menempelkan tubuh mereka ke tembok, memberi jalan seolah sedang dilewati oleh ratu keraton. Olla menyapa mereka dengan senyuman ramah yang membuat kedua pria lajang itu nyaris pingsan berdiri.

Aku membuka pintu kamarku lebar-lebar dan mempersilahkannya masuk.

"Maaf, tapi ini kamarku. Acak-acakan banget. Namanya juga kosan cowok. Duduk di mana saja yang kosong," kataku sambil menendang celana jeans kotor ke kasur.

Olla melangkah masuk. Mata bulatnya langsung melakukan scanning taktis ke seisi kamarku. Hidungnya sedikit mengernyit mencium udara pengap. Pandangannya menyapu tumpukan kertas laporan, buku-buku yang berjejal sembarangan di lemari, bungkus kopi saset di dekat laptop, hingga debu tipis di atas meja.

"Daf... ada sapu dan pengki?" tanya Olla, meletakkan tas selempangnya di atas kasurku.

"Hah? Buat apa?" tanyaku curiga.

Alih-alih menjawab, Olla berbalik ke arah pintu. Mas Bowo dan Ucup rupanya masih nongkrong di ambang pintu, menonton kami seperti sedang menonton layar tancap.

"Maaf, Mas-mas... ada sapu, pengki, sama kemoceng?" sapa Olla lembut.

"A-ada, Ci! Bentar!" seru Mas Bowo bersemangat. Ucup juga ikut melesat pergi tanpa disuruh.

Dalam hitungan kurang dari tiga puluh detik, dua abdi dalem dadakan itu kembali membawa sapu ijuk, pengki plastik, dan kemoceng bulu ayam.

"Makasih ya, Mas..." senyum Olla mengembang.

"Sama-sama, Ci!" jawab mereka kompak, dengan sikap tegap layaknya prajurit.

Olla mengambil alat-alat itu. Ia menatap lantai kamarku, lalu menggeleng pelan. Ia kembali menoleh ke arah Bowo dan Ucup.

"Mas, maaf ngerepotin lagi," Olla merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu rupiah yang masih mulus, lalu menyodorkannya ke arah mereka. "Bisa minta tolong sekalian beliin karbol wangi cemara ukuran besar, cairan pembersih kaca, kain lap microfiber, sama kantong sampah hitam yang tebal? Kembaliannya buat Mas berdua aja buat ngopi sama beli rokok."

Melihat uang seratus ribu rupiah disodorkan oleh bidadari kosan, Bowo dan Ucup saling pandang dengan mata berbinar. Di mata mereka, Olla adalah majikan absolut yang tak tertandingi otoritasnya hari ini.

"S-siap, Ci! Laksanakan! Lima menit kelar!" seru Ucup, langsung menyambar uang itu dan berlari keluar menuju minimarket bersama Bowo naik motor berisik mereka.

Lihat selengkapnya