Di dalam kabin Innova yang dingin, Olla bercerita panjang lebar mengenai tujuan kami.
Rumah makan ini sudah berdiri sejak setahun lalu. Adiknya, Linda, setelah lulus kuliah manajemen bisnis, sok ide memutuskan untuk buka usaha sendiri dengan modal suntikan dari Olla. Nama tempatnya? 'Ayam Bahagia'. Sebuah nama yang sangat umum, pasaran, dan sama sekali tidak memiliki nilai branding atau Search Engine Optimization (SEO) yang bagus.
Linda menyewa ruko dengan lahan parkir luas di pinggiran Jakarta. Namun, sesuai dengan hukum alam bisnis Food and Beverage (FnB): ketika produkmu adalah produk subsitusi massal yang terlalu umum (Ayam), maka kamu akan langsung bertarung di lautan berdarah (red ocean) memperebutkan market share.
Di dekat lokasi ruko itu saja sudah ada beberapa franchise ayam goreng raksasa asal Amerika dan lokal yang sudah go national. Tentu saja produk Linda yang tidak punya Unique Selling Proposition (USP) akan langsung tersisih, digilas oleh mesin kapitalis.
Olla sudah berusaha semaksimal mungkin mempromosikan tempat itu di media sosialnya. Ia bahkan mengemis kolaborasi pada teman-teman influencer-nya untuk datang me-review, tapi hasilnya nihil. Hype sesaat tidak akan pernah bisa mengalahkan habit pelanggan. Olla sudah membakar modal terlalu banyak, dan kini usahanya hanya sebatas hidup segan mati tak mau.
Cerita kegagalan bisnis yang sangat mengharukan dan banyak terjadi di luar sana. Tapi... apa urusannya denganku? Pokoknya setelah selesai jadi tukang pegang kamera, aku mau langsung pulang. Besok Senin, aku harus kerja lagi.
Kami akhirnya sampai di rumah makan itu.
Ayam Bahagia. Papan namanya menggunakan font yang terlalu standar dengan warna kuning dan merah terang. Parkirannya benar-benar luas, dilapisi paving block yang bersih. Mataku langsung melakukan estimasi liar. Ruko di pinggir jalan raya utama dengan parkiran seluas ini? Harga sewanya minimal seratus lima puluh juta per tahun. Olla pasti sudah sangat menderita membiayainya.
Kami keluar dari mobil. Hawa panas jalanan langsung menyergap.
Dari dalam ruko yang sepi, seorang perempuan muda berlari keluar menyambut kami.
Langkahku mendadak terhenti. Napasku tertahan di tenggorokan.
Gadis itu... wajahnya... astaga. Dia sangat mirip dengan Via.
Jika Olla dan Via memang memiliki kemiripan struktur wajah (doppelgänger beda gaya), maka Linda ini ibarat copy-paste dari Via dengan rasio yang sedikit diubah. Kalau dijejerkan, mereka benar-benar mirip, hanya saja Linda jauh lebih tinggi. Postur Linda yang menjulang itu bahkan sedikit lebih tinggi dariku. Saat Linda berdiri berdampingan dengan Olla, mereka lebih terlihat seperti tante dan keponakan. Adiknya jauh lebih tinggi dari kakaknya.
Sialan. Kenapa semesta selalu punya selera humor yang buruk? Melihat wajah Linda sukses membuat ulu hatiku kembali berdenyut ngilu.
Aku memaksa wajahku tetap datar saat bersalaman dengannya.
"Daffa."
"Linda."
Tanpa banyak basa-basi, kami langsung bersiap membuat konten. Aku mengambil alih kamera mirrorless lengkap dengan stabilizer gimbal yang sudah disiapkan Linda.
Konsep kontennya? Sangat menyedihkan. Dari depan ruko, Olla berjalan masuk dengan senyum ceria yang dipaksakan. Olla memesan makanan di kasir. Lalu cut. Transisi ke makanan yang sudah terhidang di meja. Olla makan sambil memberikan review berlebihan ke arah lensa. Selesai.
Konten standar level pemula. Tidak ada hook yang menarik, tidak ada storytelling, murni jualan (hard-selling) yang akan langsung di-skip oleh penonton reels dan tiktok dalam dua detik pertama. Tapi ya sudahlah, tugasku cuma memencet tombol record.
Dalam setengah jam, penyiksaan kreatif itu selesai.
Kami bertiga duduk di salah satu meja kayu di sudut ruangan yang sepi. Angin dari kipas dinding berhembus pelan.
Tiba-tiba, bahu Linda mulai bergetar. Wajahnya menunduk, matanya memerah, dan perlahan air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Mbak... maafin aku ya, Mbak," isak Linda, suaranya parau. "Aku nggak bisa bikin tempat ini laris. Aku bener-bener buta marketing. Lawan kita raksasa semua di depan sana."
Olla memeluk pundak adiknya, mengusapnya pelan. "Gak apa-apa, Lin. Namanya juga usaha. Kita tetep ikhtiar kok dengan segala cara yang kita bisa."
"Tapi ini udah setahun, Mbak... setahun!" tangis Linda pecah. "Mbak nyuntik dana puluhan juta terus ke usahaku ini, tapi uangnya habis gitu aja cuma buat bayar operasional, listrik, sama gaji karyawan. Nggak ada profit sama sekali!"
"Gak apa-apa, Lin. Selama Mbak masih mampu dari hasil endorse, ya Mbak bantu terus. Kita berdoa dan sabar ya, semoga ada jalan."
Aku mencibir dalam hati. Cih. Motivasi kosong yang hanya akan memperpanjang penderitaan finansial. Cash flow yang berdarah-darah tidak bisa disembuhkan dengan doa dan kesabaran, tapi dengan audit dan perubahan strategi radikal.
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat makan ini. Interiornya rapi, kursinya bersih, tapi tempat ini tidak punya "jiwa". Tidak ada alasan spesifik kenapa orang harus membelokkan setir mobilnya ke mari. Orang yang datang pasti hanyalah orang yang kebetulan lewat dan kelaparan, atau supir truk yang numpang ke toilet. Tidak akan ada repeat order (customer retention). Andai aku punya uang lebih pun, lidah logisku pasti akan lebih memilih beli franchise ayam raksasa di seberang jalan yang secara konsistensi rasa dan SOP kebersihannya sudah terjamin ( trust issue ).
"Daf... ini, dimakan aja. Anggap saja promosi," kata Olla tiba-tiba, menyodorkan dua piring sisa dari properti review tadi ke hadapanku.
Aku menatap piring itu. Karena saat rekaman tadi Olla hanya memotek ayamnya dengan garpu dan mencomot nasinya sedikit, makanan ini terhitung masih bersih dari kontaminasi air liurnya. Alhamdulillah, makanan gratis.
Ada sepotong dada ayam bakar berselimut bumbu kecap pekat, ayam goreng kremes, sejumput serundeng, nasi putih mengepul, dan sambal ulegan.
Tapi masalahnya... makan di depan dua wanita yang sedang berpelukan dan menangis tersedu-sedu ini rasanya sangat absurd. Hei, bisakah kalian tunda dulu tangisannya? Bagaimana aku bisa makan dengan tenang?
"Kenapa, Daf? Makan aja..." suruh Olla dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca. "Sekalian kamu cicipin. Kira-kira apa yang kurang dari masakan adikku ini."