INERSIA

cahyo laras
Chapter #50

Rencana Merampok CSR Secara Legal

SENIN, PUKUL 09.00 WIB.

Hari liburku telah usai, tapi perangnya baru saja dimulai.

Aku duduk di kubikelku yang sempit, menatap layar monitor dengan tatapan sedatar meja kerja. Di layar itu, terpampang laporan tahunan publik milik PT Cipta Utama Region Universal Transformation, alias PT CURUT. Perusahaan raksasa yang gedung pencakar langitnya berdiri arogan tepat di seberang jalan kantorku.

Sebagai seorang akuntan yang sering berselancar di celah gelap laporan keuangan, aku sudah lama mengincar perusahaan ini. Dari anomali angka di sheet pengeluaran mereka, aku tahu persis bahwa PT CURUT memiliki alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang raksasa. Namun, lebih dari separuhnya selalu mengalir ke vendor-vendor fiktif yang website-nya saja dibuat menggunakan template gratisan. Uangnya menguap, masuk ke kantong pribadi para petingginya.

Mereka adalah lumbung uang kotor. Dan hari ini, lumbung itu akan kubongkar untuk mendanai masa depan Rumah Makan Ayam milik Linda adiknya Olla.

Namun, gedung PT CURUT punya tingkat keamanan berlapis. Aku tidak bisa masuk begitu saja sebagai staf rendahan dari seberang jalan. Aku butuh Kuda Troya. Aku butuh identitas yang membuat mereka membukakan pintunya sendiri untukku.

Jari-jariku mulai menari di atas keyboard. Klak-klik-klak-klik.

Target operasiku hari ini adalah meretas sebuah perusahaan investasi bernama PT Komoditas Utility Transportasion International Liquidity alias PT KUTIL. Perusahaan ini sedang gencar mencari partner ekspansi. Keamanan website mereka sangat menyedihkan. Hanya butuh waktu dua belas menit bagiku untuk melewati firewall usang mereka dan masuk ke Content Management System (CMS) direktori direksi mereka.

Aku mencari nama "Samsul Bahri", sang Direktur Investasi.

Dari dalam ransel, aku mengambil flashdisk. Aku memuat sebuah foto pasfoto diriku yang sudah ku- edit semalaman. Di foto itu, aku menambahkan kacamata frame tebal, meniruskan sedikit rahangku, dan memasang kumis palsu yang melintang rapi.

Aku me- replace foto asli Pak Samsul dengan foto manipulasi diriku. Enter. Selesai. Selama dua jam ke depan, wajahku resmi menjadi wajah Direktur Investasi PT KUTIL di seluruh jaringan internet global.

Pukul 10.15 WIB. Waktunya eksekusi.

Aku berjalan ke toilet lantai lobi bawah kantorku dengan membawa paperbag. Di dalam bilik toilet yang bau kapur barus, aku bertransformasi. Aku melepas kemeja seragamku, menggantinya dengan kemeja oxford biru dongker dan jas abu-abu slim-fit yang kubeli di pasar loak akhir pekan lalu. Aku merapikan rambutku ke belakang (slicked back) menggunakan pomade hingga klimis. Terakhir, aku menempelkan kumis palsu dari bulu sintetis ke atas bibirku, lalu memakai kacamata frame tebal tanpa lensa.

Aku menatap pantulanku di cermin wastafel. Bau pomade murahan menyeruak. Pria di cermin ini bukanlah Daffa si jongos ketik. Ini adalah Samsul, sang aristokrat ibu kota yang siap melempar uang miliaran.

Aku keluar dari gedung kantorku dan menyeberang jalanan Sudirman yang panas terik. Aspal memantulkan uap panas, tapi jas abu-abuku menjadi zirah yang sempurna.

Lihat selengkapnya