SELASA, PUKUL 12.15 WIB.
Jam istirahat makan siang. Panas matahari Jakarta sedang berada di titik paling mendidih, memanggang aspal Sudirman hingga menciptakan fatamorgana di atas jalan raya. Cuaca yang sangat sempurna untuk mengeksekusi rencana sabotase dehidrasi.
Aku melipir ke sebuah gang sepi di belakang kantorku, membuka bagasi Supra bututku, dan mengeluarkan "Jubah Gaib" andalanku: jaket ojol hijau pudar dan helm half-face yang kacanya sudah banyak goresan. Begitu ritsleting jaket ini kutarik hingga ke leher, identitasku sebagai akuntan lenyap tak berbekas. Aku hanyalah satu dari jutaan kurir tak kasatmata di kota ini.
Di tanganku, terdapat sebuah kantong plastik tebal berisi lima gelas es kopi susu gula aren ukuran large. Embun dingin menetes dari dinding plastik gelasnya, kontras dengan udara panas di sekitarku. Aromanya manis dan legit. Namun, di balik rasa manis itu, aku telah mencampurkan ekstrak obat pencahar cair dosis ganda ke dalam masing-masing gelas. Bukan racun mematikan, tentu saja. Hanya sedikit... "percepatan sistem pencernaan" secara paksa.
Aku memacu motorku menyeberang jalan, membelok masuk ke jalur loading dock (area bongkar muat) dan basement B3 gedung PT CURUT.
Udara di basement ini terasa berat, pengap, dan beraroma campuran asap knalpot diesel serta semen lembap. Aku memarkir motorku di dekat area tong sampah besar, lalu berjalan kaki menelusuri lorong beton menuju pos Engineering (Teknisi Gedung) yang sudah kupetakan letaknya kemarin.
Di dalam ruangan berdinding kaca itu, tampak empat orang teknisi berseragam wearpack biru dongker sedang duduk bersantai. Mereka sedang menyantap nasi bungkus, tertawa-tawa di sela jam istirahat.
Aku mengetuk pintu kaca itu. Tok. Tok.
Keempat pasang mata menoleh ke arahku. Aku menyodorkan kantong plastik berisi lima gelas es kopi susu itu dengan senyum kaku khas kurir yang kelelahan.
"Permisi, Bang. Ada pesanan kopi," kataku dengan suara yang sengaja kuserakkan.
Salah satu teknisi berbadan tambun, yang name tag-nya bertuliskan 'Heri', mengerutkan kening. "Kopi? Perasaan kita nggak ada yang pesan GoFood deh, Mas."
"Lho? Ini bener kan Pos Engineering PT CURUT Basement 3?" tanyaku, pura-pura mengecek layar ponselku yang gelap. "Di aplikasinya atas nama Bapak... anu, Hamba Allah. Katanya traktiran Jumat..eh, Selasa Berkah buat tim teknisi. Udah dibayar pakai GoPay kok, Bang. Diterima aja, saya mau kejar target poin nih."
Mendengar kata "udah dibayar" dan "traktiran", raut wajah curiga mereka langsung menguap, digantikan oleh binar kebahagiaan kaum pekerja kasar. Di tengah panasnya basement, lima gelas es kopi susu gratis adalah oase dari surga.
"Wah, alhamdulillah! Rezeki anak saleh nggak ke mana!" sahut Heri girang, langsung menyambar kantong plastik itu dari tanganku. "Makasih ya, Mas Ojol! Ati-ati di jalan!"
"Sama-sama, Bang. Mari," balasku menunduk sedikit, lalu berbalik pergi.
Aku tidak benar-benar pergi. Aku berbelok di ujung lorong, bersembunyi di balik bayangan pilar beton tebal dekat deretan toilet karyawan basement. Dari titik buta CCTV ini, aku memulai stopwatch di ponselku.
Tick. Tock.
Kopi itu dicampur dengan obat pencahar cair aksi cepat (fast-acting laxative). Dalam kondisi perut yang sedang mencerna nasi padang, reaksinya tidak akan butuh waktu lama.
Menit ke-12.
Suara tawa dari ruang Engineering mulai mereda. Sayup-sayup terdengar suara rintihan tertahan. "Aduh... kok perut gue melilit ya? Sambel padangnya basi kali nih..."
Menit ke-15.
Kekacauan meledak. Pintu ruang Engineering didobrak terbuka dari dalam. Heri dan tiga temannya berlari berhamburan keluar dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin sebesar biji jagung. Postur tubuh mereka membungkuk, tangan memegangi perut dengan ekspresi penderitaan absolut.
Mereka berlari memperebutkan tiga bilik toilet pria di lorong itu. Terdengar suara pintu dibanting, decit sepatu beradu dengan lantai keramik, dan erangan keputusasaan.
Fase netralisasi penjaga telah berhasil.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, aku keluar dari persembunyian. Aku menyelinap masuk ke dalam ruang Engineering yang kini kosong melompong. Ruangan ini berbau keringat, oli mesin, dan sisa makanan.
Di sudut ruangan, terdapat deretan loker besi kelabu. Aku membuka salah satu loker yang tidak terkunci. Mataku menangkap sebuah wearpack (baju terusan) teknisi berwarna biru dongker yang bersih, lengkap dengan topi baseball berlogo PT CURUT, dan sebuah ID Card dengan lanyard hitam.
Aku melepas jaket ojolku, melipatnya cepat, dan menyembunyikannya di dalam ranselku. Aku memakai wearpack biru itu. Ukurannya sedikit kebesaran di bahuku, tapi kainnya yang kasar memberikan ilusi maskulinitas pekerja lapangan yang sempurna. Kutarik topi itu hingga menutupi sebagian wajahku, lalu kukalungkan ID Card tersebut.
Transformasi lapis kedua selesai. Sang hantu saluran udara telah lahir.
Aku melangkah keluar dari ruang istirahat, berjalan dengan langkah pasti menyusuri lorong menuju jantung mekanis gedung ini: Ruang Kontrol Utama.
Karena aku memakai seragam dan ID Card yang valid, tidak ada satu pun petugas kebersihan atau sekuriti basement yang mencurigaiku. Aku menempelkan ID Card curianku ke scanner pintu. Bip. Kunci magnetik terbuka.
Aku melangkah masuk. Ruangan ini dipenuhi oleh rak-rak server, panel listrik raksasa, dan layar monitor yang menampilkan grafik suhu, tekanan air, dan sistem ventilasi (HVAC). Suara dengungan mesin di ruangan ini begitu konstan dan memekakkan telinga, menciptakan insulasi suara yang sempurna.
Mataku dengan cepat memindai deretan panel baja di dinding. Aku mencari tuas pengatur aliran chiller (mesin pendingin) dan Air Handling Unit (AHU).
Lantai 7... Lantai 8... Lantai 9... Ah, ini dia.
AHU - ZONE 10: CSR & CORP. AFFAIRS.
Aku membuka kotak panel kaca akriliknya. Menggunakan sarung tangan mekanik yang kutemukan di meja kontrol, aku memutar katup aliran air dingin ( chilled water valve ) untuk lantai 10 hingga tertutup rapat, lalu mematikan sakelar blower utama ke posisi 'OFF'.