INERSIA

cahyo laras
Chapter #52

8,4 Milyar Untuk Rumah Makan Yang Nyaris Bangkrut

RABU, PUKUL 02.00 WIB (Dini Hari).

Cahaya biru dari layar laptop memendarkan bayangan di wajahku yang kelelahan. Di dalam kamar kosku, aku sedang menyelesaikan mahakarya pemalsuan tingkat tinggi.

Menuntut Linda menyewa Kantor Akuntan Publik (KAP) independen dalam waktu dua hari adalah hal yang mustahil secara logistik dan finansial. Jadi, sebagai akuntan yang sudah khatam dengan standar audit Big Four, aku meretas jalan pintasnya. Aku membuat laporan audit itu sendiri.

Karena pencatatan Linda memang jujur dan bersih, aku hanya perlu menata ulang formatnya menjadi laporan keuangan berstandar PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan). Aku menyematkan opini 'Wajar Tanpa Pengecualian', merancang kop surat dari sebuah KAP fiktif yang terdengar meyakinkan, membuat watermark transparan, dan mencetaknya di atas kertas concorde tebal berwarna krem yang kubeli sepulang kerja tadi.

Dokumen ini tidak akan lolos jika diperiksa oleh Otoritas Jasa Keuangan. Tapi untuk menipu seorang eksekutif CSR yang sedang panik dan terdesak? Ini lebih dari cukup. Laporan ini adalah senjataku


RABU, PUKUL 10.00 WIB.

Aku berdiri di depan lift Ekeskutif PT CURUT. Kali ini, tidak ada jaket ojol, tidak ada kumis palsu, dan tidak ada seragam teknisi.

Aku mengenakan setelan jas hitam slim-fit berpotongan tajam, dasi sutra merah marun, dan kacamata frame titanium tanpa minus. Rambutku disisir rapi dengan belahan samping yang tegas. Di tangan kananku, aku menenteng sebuah koper attache berbahan aluminium perak yang memantulkan cahaya lampu lobi. Aku terlihat seperti algojo korporat sejati.

Pintu lift terbuka di lantai sepuluh. Aku melangkah keluar.

Resepsionis yang kemarin mengeluh kepanasan kini berdiri tegap. Ruangan ini sudah kembali dingin membeku.

"Selamat pagi. Saya Hermawan. Lead Auditor Kepatuhan ESG," kataku dengan suara bariton sedingin es. "Bapak Purnomo sudah menunggu hukuman, maksud saya, kedatangan saya."

Wajah resepsionis itu memucat. Ia menelan ludah. "B-baik, Pak Hermawan. Mari, saya antar."

Ia mengetuk pintu ruangan Direktur dengan gemetar, lalu membukanya.

Di dalam sana, Bapak Purnomo sedang duduk di balik meja mahogany-nya. Wajah arogan yang kulihat kemarin di lobi kini telah menguap. Kantung matanya menghitam, dan kulitnya terlihat seperti kertas buram. Teror teleponku kemarin benar-benar merusak jam tidurnya.

"Silakan masuk, Pak Hermawan. S-selamat pagi," sapa Pak Purnomo, berdiri dan memaksakan sebuah senyum canggung. Bau parfum Bvlgari yang menyengat mencoba menutupi aroma keringat gugupnya.

Aku melangkah masuk, tidak membalas senyumnya, apalagi mengulurkan tangan. Aku meletakkan koper aluminiumku di atas meja kerjanya dengan bunyi 'klak' yang menggema keras, membuat bahunya sedikit terlompat.

Aku duduk di kursi tamu, menyilangkan kaki dengan rileks, menatapnya tajam bak predator yang sedang mengawasi kelinci di sudut kandang.

Lihat selengkapnya