INERSIA

cahyo laras
Chapter #53

Pria Bergaji UMR Itu Menepati Janjinya

[OLLA]

Kamis, Pukul 10.00

"La... video promo untuk produk nugget udah di- upload belum?"

Suara Aziz, manajerku, menembus dengungan pendingin ruangan studio.

"Bentar, ini lagi proses upload, Ziz," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet.

Aku sedang duduk berselonjor di sofa kulit lounge dalam studio sewaan kami. Udara di ruangan ini terasa dingin dan kering, beraroma campuran hairspray, makeup, dan debu karpet. Kami baru saja selesai melakukan sesi pengambilan video yang melelahkan untuk sebuah brand mainan Lego yang akan tayang bulan depan.

Aku meraih gelas kertas ( paper cup ) di atas meja, meniup permukaannya pelan, lalu menyesap isinya. Sluuurp.

Rasa manis gula buatan dan pekatnya kopi robusta murahan langsung mengaliri tenggorokanku. Ini bukan kopi artisan, melainkan kopi saset rencengan seharga dua ribu perak yang kubeli di warung.

"Tumben banget, La. Akhir-akhir ini minumnya kopi sasetan," celetuk Steven, kameramen lepas yang sedang menggulung kabel lighting di sudut ruangan.

"Gak apa-apa. Enak tau... murah, praktis, nggak ribet nunggu di- brew," belaku, kembali menyesap kopi hitam itu.

"Aneh tau lihat lu yang biasanya ribet bikin kopi digiling atau bikin matcha latte manual, tiba-tiba nyetok kopi rencengan sebungkus besar di dapur studio," kekeh Steven sambil menggelengkan kepala.

Aku hanya mendengus geli. "Sekali-kali merakyat, Stev... hehe."

Sejujurnya, aku sendiri juga tidak mengerti. Tapi sejak melihat gelas kopi dan bungkus kopi sachetan di kamar daffa... entah kenapa lidahku jadi penasaran. Dan ternyata aku jadi sering ngopi begini, entah karena memang lidahku menyukainya atau aku selalu membayangkan dirinya saat minum kopi ini.

"Ampas kopinya noh, nyangkut di gigi lu," tunjuk Steven menggunakan ujung obeng.

Aku refleks meraba gigiku dengan lidah. Benar saja, ada sensasi berpasir kasar tertinggal di sana. Aku buru-buru mengambil tisu dan mengelap gigiku dengan panik di depan layar ponsel yang kujadikan cermin.

Tepat saat itu, layar ponselku berubah wujud. Sebuah panggilan masuk. Layarnya berkedip menampilkan nama: Linda.

Ada apa ya tumben menelepon jam segini?

Aku menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan ponsel ke telinga. "Halo, Lin... gimana?"

"Mbak... Mbak... Mbak..." Suara Linda di seberang sana terdengar bergetar hebat. Bukan getaran orang kedinginan, tapi getaran orang yang sedang kesulitan mengatur napas.

Perasaanku mendadak tidak enak. "Ada apa, Lin??"

"Mbak... Mbak... a-aku..." Napas Linda tersengal, seperti menahan tangis yang tertahan di kerongkongan.

"Ada apa, Lin?!" Suaraku meninggi. Aku langsung berdiri dari sofa. Detak jantungku mulai memompa lebih cepat. Aku berlari pelan keluar dari ruang studio menuju lorong yang lebih sepi agar suaraku tidak bergema.

"Mbak... Mas Daffa..."

Lihat selengkapnya