[VIA]
Kamis, pukul 11.00
Pesannya singkat, dikirim dari nomor pribadi Theo: "Ke ruanganku sekarang, Vi. Penting."
Entah kenapa rasanya ada yang salah. Theo bukan tipe yang suka mencampuradukkan urusan profesional dengan asmara secara serampangan. Kalau hanya ingin mengobrol, dia selalu menungguku di basement setelah jam kerja selesai. Memanggilku langsung ke "singgasananya" di lantai 11 pada jam kerja begini terasa janggal.
Aku menaiki lift. Udara di dalamnya terasa lebih dingin, beraroma peppermint yang tajam. Pintu lift terbuka, menyajikan pemandangan lorong berkarpet tebal yang meredam suara langkah kakiku. Empat penjaga bertubuh besar berpakaian safari hitam berdiri di depan pintu ganda kayu jati. Karena mereka sangat hafal wajahku, kekasih sang CEO, mereka mengangguk hormat dan membukakan pintu tanpa prosedur pemeriksaan.
Aku melangkah masuk ke ruangan luas yang selalu berbau sandalwood dan kertas mahal itu.
Namun, pemandangan di depanku langsung membuat langkahku terhenti. Theo berdiri membelakangi jendela kaca panorama, tapi posturnya tidak tegap seperti biasa. Jas mahalnya tersampir asal di sandaran kursi. Lengan kemejanya digulung berantakan.
Saat ia berbalik menatapku, wajahnya terlihat kacau. Kantung matanya menebal, dan ada lapisan keringat di dahinya.
"Ada apa, Yang?" tanyaku pelan, menutup pintu di belakangku. "Kita kan bisa ngobrol nanti habis pulang kerja. Aku nggak enak sama rekan-rekan divisi lain, seolah-olah aku punya privilege bebas keluyuran cuma karena aku kekasihmu."
"Oh, Vi..." Suara Theo terdengar parau. Ia menelan ludah, lalu menarik sebuah kursi tamu agar berhadapan langsung dengannya. "Duduklah."
Aku menurut, duduk di tepi kursi kulit yang dingin itu. Theo ikut duduk di depanku, mencondongkan tubuhnya, menumpukan sikunya di atas lutut, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gerakan penuh keputusasaan.
"Via..." panggilnya lirih.
"Iya, Yang? Kenapa? Perusahaan ada masalah lagi?"
"Aku harus jujur padamu... ini sangat menyiksa bathinku setiap malam" Theo menatap mataku. Tatapannya kosong, tidak ada kilau karisma yang biasanya selalu membuatku jatuh cinta.
"Jujur tentang apa?"
"Sebenarnya..." Theo menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. "Semuanya sudah direncanakan."
Dan dari sanalah duniaku yang sempurna mulai runtuh perlahan-lahan.