[Olla]
KAMIS, Pukul 16.30 WIB.
Aku memarkirkan Toyota Innova silver-ku di basement gedung kantor Daffa. Tanpa membuang waktu, aku langsung naik ke lantai dasar menuju lobi utama untuk menantinya.
Aku duduk bersandar di sofa lounge lobi yang empuk. Udara di sini terasa dingin, beraroma pengharum ruangan lavender yang samar. Suara denting lift bergema secara konstan, disusul oleh rombongan karyawan dengan wajah-wajah lelah yang berhamburan keluar. Mataku awas memindai kerumunan, mencari sosok pria berkemeja usang dan jaket pudar di antara lautan lanyard korporat itu.
Daffa belum muncul. Aku sudah mengabarinya sejam yang lalu. Seperti yang bisa ditebak dari template jawabannya, ia menolak mentah-mentah untuk kujemput dengan dalih sudah bawa motor. Tapi bagiku, larangan Daffa adalah sebuah perintah.
Ini semua terjadi karena dirinya! Uang muka alias DP sebesar 4,2 Miliar Rupiah dari PT CURUT benar-benar mendarat dengan mulus di rekening adikku. Saldo bank Linda yang biasanya hanya berisi angka jutaan yang mengenaskan, mendadak membengkak. Ini bukan sekadar kejatuhan durian runtuh, ini kejatuhan durian segede meteor! Aku ingin berterima kasih, sekaligus menodongnya untuk mengajari kami langkah selanjutnya. Kami tak punya pengalaman memegang uang tunai sebesar itu.
Ting.
Pintu lift di sayap kiri terbuka. Sosok perempuan yang sangat kukenal melangkah keluar.
Via.
Aku refleks berdiri. "Viaa!" panggilku, berniat berlari kecil menghampirinya.
Namun langkahku sedikit tertahan saat melihatnya lebih dekat. Kenapa wajahnya tampak begitu lesu? Kulitnya pucat, langkah kakinya tidak seanggun biasanya, dan matanya... astaga, matanya terlihat bengkak seperti habis menangis semalaman. Mana pacar CEO-nya yang tampan itu? Kenapa dia tidak diantar?
"Eh? Kak Olla?" Via tampak terkejut melihatku. Suaranya serak.
"Lagi nunggu jemputan, Vi? Btw, Daffa mana?" tanyaku spontan.
Mendengar nama Daffa disebut, aku melihat perubahan mikro di wajah Via. Bahunya sedikit menegang. Kelopak matanya yang sayu mendadak melebar, dan ada kilat emosi yang aneh di sana, seperti penderitaan? Atau rasa bersalah?
"Masih di belakang, Kak," jawab Via dengan suara yang anehnya terdengar sedikit bergetar.
Ting.
Kloter lift berikutnya terbuka. Tepat dari balik kerumunan, Daffa muncul. Jaket pudar, tas ransel hitam tebal di punggung, dan wajah sedatar tembok. Pria itu menatap lurus ke depan dengan langkah gontai khas budak korporat yang kehabisan baterai.
Aku langsung mengabaikan keanehan Via dan berlari menghampiri Daffa.
"Daaffaa!" Aku meraih lengan kirinya dan memegang tangannya erat. Tangannya terasa hangat dan sedikit kasar.
Daffa terkesiap, nyaris terlonjak. Matanya melotot menatapku. "Kenapa kamu beneran njemput sih?! Aku kan dah bilang aku bawa motor!" bisiknya panik, berusaha melepaskan genggamanku.
"Ya gak apa-apa, biar lebih cepet dan nyaman aja, Daff. Nanti malem kelar urusan, aku anterin kamu langsung sampe depan kosan deh," balasku santai, menolak melepaskan tangannya.
"Lalu besok pagi aku kerja naik apa kalau motorku nginep di sini, Olla?" tanya Daffa dengan nada frustrasi.
"Kan ada TransJakarta. Gampang," jawabku enteng.
Daffa memijat pangkal hidungnya dengan tangan kanan. Khas banget. Gerakan signature yang menandakan logikanya sedang berperang dengan realita. Aku suka banget kalau lihat dia ada di fase ini: awalnya menolak keras, tapi ujung-ujungnya...
"Huft. Ya udah deh, ayok," Daffa menghela napas pasrah. "Lagipula ini juga masih tanggung jawabku buat setup awal keuangannya Linda."
Tuh kan! Dia langsung menerima.