[OLLA]
Kamis, PUKUL 18.00 WIB
Semburat jingga langit Jakarta mulai tertutup oleh polusi dan awan kelabu saat aku memarkirkan mobil Innova silver-ku tepat di depan ruko 'Ayam Bahagia'. Suara azan Magrib sayup-sayup terdengar dari kejauhan, berpadu dengan deru kendaraan di jalan raya.
Mesin kumatikan. Kami berdua turun dari mobil. Udara sore yang lengket dan berdebu langsung menyergap kulitku yang terbiasa dengan AC.
Aku berjalan masuk mendahului Daffa. Ruko ini, seperti biasa, sepi melompong. Hanya ada suara kipas angin dinding yang berputar monoton.
Namun, baru tiga langkah kami melewati pintu kaca, sebuah bayangan melesat cepat dari arah dapur.
"Mas Daffa...!!"
Itu Linda. Ia berlari setengah melompat dan, tanpa peringatan apa pun,
Bruk! Ia langsung menabrakkan dirinya, memeluk Daffa erat-erat layaknya anak kecil yang memeluk pahlawan supernya.
"Makasih, Mas... makasih banyak!" isak Linda dengan suara teredam di dada Daffa.
Langkahku terhenti mendadak. Mataku melotot sempurna. Rahangku nyaris jatuh menyentuh lantai.
Di depanku, Daffa mematung kaku. Kedua lengannya mengambang canggung di udara, sama sekali tidak membalas pelukan itu. Wajah datarnya kini memucat, matanya mengerjap panik seolah sistem operasi di otaknya baru saja mengalami error akibat kontak fisik mendadak.
Sementara itu, di dalam dadaku, ada api kecil yang mendadak disiram bensin. Enak saja main peluk-peluk!
Dengan gerakan refleks yang sangat protektif, aku melangkah maju dan menarik bahu Linda dengan cepat, memisahkan mereka berdua.
"Hei... hei, Linda! Sembarangan aja main meluk-meluk Daffa!" omelku spontan. "Mbak aja belum pernah! Lepas, lepas!"
Sial. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku. Mulutku memang kadang lebih cepat dari otakku, tapi... ah, masa bodoh!
Linda mundur selangkah, terengah-engah. Matanya yang merah dan berair menatapku dengan tatapan bersalah, tapi bibirnya menyunggingkan senyum kebahagiaan yang luar biasa.
"Ma... maaf, Mbak. Emosional tadi, refleks," kata Linda sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Lupa kalau Mas Daffa ini pacarnya Mbak Olla."
Daffa yang baru saja berhasil me- reboot sistem otaknya langsung berdeham keras. "Enggak, Lin. Aku nggak pacaran sama Olla," potongnya dengan nada sedatar talenan kayu.
"Amiiin!" sahutku cepat, lalu buru-buru meralat. "Ehh... maksudnya, iya, kami 'belum' pacaran. Jangan diulangi lagi ya adegan peluk-peluknya. Bahaya."
Linda terkekeh kecil melihat tingkahku, lalu kembali menatap Daffa dengan penuh puja-puji. "Makasih banget ya, Mas. Mas udah ngasih proyek gede banget buat usahaku. Aku bener-bener nggak nyangka uang empat koma dua miliar masuk ke rekeningku hari ini..."
Daffa membetulkan kerah jaketnya yang sedikit berantakan akibat pelukan tadi. "I... iya, sama-sama. Btw, sekarang sudah ada planning untuk kedepannya?" tanyanya, langsung kembali ke mode profesional.