INERSIA

cahyo laras
Chapter #57

Negosiasi Pabrik

JUM'AT, 25 September, 08.00

Di balik kemudi Toyota Innova silver yang membelah kemacetan pagi Jakarta, Olla tampak berseri-seri. Namun, suasana hati itu berbanding terbalik dengan pria di kursi penumpang sebelahnya.

Daffa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin, menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia terpaksa sangat, amat, terpaksa mengorbankan cuti tahunan dan jatah mudik Lebarannya demi menjadi mandor dadakan untuk proyek ini. Sementara Linda pagi ini sedang berada di bank untuk mengurus pemecahan dana empat koma dua miliar, Daffa dan Olla bertugas melakukan tugas lapangan.

Namun, bukan kemacetan yang membuat kepala Daffa pening pagi ini. Masalah utamanya ada pada wanita yang sedang menyetir di sebelahnya.

Aroma parfum Olla, campuran vanilla dan musk yang harganya dipastikan setara dengan UMR Jakarta, memenuhi kabin mobil. Daffa melirik penampilan wanita itu dari sudut matanya. Olla mengenakan dress selutut berwarna dusty pink berbahan chiffon yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya. Rambut cokelat kehitamannya di- blow bergelombang, riasan wajahnya nyaris tanpa celah, dan... apakah wanita ini benar-benar memakai stiletto heels tujuh sentimeter?

"Ada apa, Daff?" tanya Olla, menyadari tatapan pria itu.

"Kamu kenapa pakai pakaian begitu?" tegur Daffa datar, nada suaranya nyaris terdengar seperti bapak-bapak yang mengomeli anak gadisnya.

Olla menoleh sekilas dengan senyum manis yang tertahan. "Memangnya nggak boleh ya?"

"Kita ini mau survei, negosiasi, dan sewa gudang pabrik berdebu, La. Habis itu kita mau ke peternakan ayam potong yang baunya naudzubillah," Daffa memijat pangkal hidungnya. "Bukan mau jalan-jalan ke mall atau fine dining di Senopati."

Olla hanya tersenyum tipis, merapikan anak rambutnya ke belakang telinga. "Nggak apa-apa, sekali-kali, Daff."

Di dalam hatinya, Olla bersorak. Tentu saja ia berdandan maksimal pagi ini. Ia menghabiskan waktu satu jam penuh di depan cermin hanya untuk memastikan riasan flawless-nya terlihat natural di mata Daffa. Olla ingin terlihat cantik di depan pria ini, tidak peduli meskipun destinasi mereka adalah kandang ayam sekalipun.

Sebaliknya, di dalam kepala Daffa, logika pragmatisnya meronta-ronta. Kalau pria biasa mungkin akan membusungkan dada dan bangga setengah mati bisa jalan berdua dengan seorang influencer secantik Olla. Tapi bagi Daffa? Pakaian mahal dan heels itu murni hanyalah beban logistik. Ia sudah membayangkan harus memapah wanita ini kalau hak sepatunya patah terperosok ke dalam got pabrik nanti.

Mengikuti arahan Google Maps, mobil Innova itu akhirnya berbelok memasuki kawasan industri yang gersang dan berdebu. Mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan gudang raksasa berpagar besi karatan.

Di depan gerbang yang setengah terbuka, tampak seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik pudar sedang berdiri mengisap rokok kreteknya.

Sebelum turun dari mobil daffa memberikan sebuah kartu berwarna hitam.

"La, ini kartu member toko buku yang sudah ku sulap jadi warna hitam, saat aku beri isyarat, kamu keluarkan kartu ini bersama ponselmu ya?"

Olla bingung, tapi dia menerima kartu itu tanpa tahu apa maksudnya.

"Siap, Daf!!"

Daffa dan Olla turun dari mobil. Panas matahari kawasan industri langsung menyengat kulit.

"Pak Jono?" sapa Daffa seraya berjalan mendekat.

Pria itu membuang putung rokoknya dan menginjaknya. Aroma tembakau dan cengkeh yang tajam menguar di udara. "Mas Daffa yang semalam telepon, ya?"

"Iya, Pak." Daffa menjabat tangan pria itu dengan mantap.

Tepat saat itu, Olla menyusul dari belakang setelah mengunci mobil, tas branded kecil tersampir elegan di bahunya. Kontras kehadirannya di tempat berdebu ini begitu mencolok.

Lihat selengkapnya