Jum'at, 25 September 09.30
Mobil Innova silver itu merayap pelan di jalanan tanah berbatu, membelah hamparan ilalang di pinggiran Bogor. Aroma khas kotoran unggas mulai tercium samar menembus filter AC mobil.
"Berhenti di sini, La. Sembunyi di balik pohon trembesi itu," instruksi Daffa datar.
Olla mematikan mesin. Ia menatap Daffa yang duduk di sebelahnya dengan kening berkerut. Pria itu kini tidak lagi memakai jaket dan kemeja flanelnya. Ia mengenakan kaus oblong partai yang sudah belel, masker, dan sepasang sepatu boots karet hijau. Malam sebelumnya, lewat riset YouTube, Daffa sudah mempelajari jam operasional dan seragam default kuli angkut di peternakan ini.
"Tunggu di sini sepuluh menit. Jangan keluar," pesan Daffa, lalu menyelinap keluar dari mobil dengan gerakan senyap layaknya bayangan.
Olla hanya bisa mengangguk, menanti apa yang akan dilakukan oleh Daffa.
Di luar sana, Daffa beraksi. Ia menyusup melalui celah pagar kawat yang sudah dipetakannya lewat citra google street view. Berjalan menunduk di antara deretan kandang ayam broiler raksasa. Bau amonia dan kotoran ayam menyengat hidungnya, tapi ekspresinya sedatar aspal.
Ia melwati pekerja-pekerja lain tanpa dicurigai, dia tahu kalau kuli-kuli disini hanyalah pekerja lepas dari daerah berbeda, keluar masuk pekerja asing adalah hal biasa, CCTV pun tak akan bisa mendeteksi dia sebagai orang asing.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan segenggam pelet jagung yang sudah direndam dengan obat perangsang otot ringan khusus hewan, tidak mematikan, hanya akan membuat ayam mengalami kejang otot dan kelojotan sementara.
Daffa melemparkan pelet itu ke salah satu kandang di blok C yang posisinya paling strategis untuk dilewati tamu. Setelah melihat belasan ayam mematuk umpan tersebut, ia berbalik dan menyelinap kembali ke arah mobil tanpa terlihat satu pun CCTV atau penjaga. Infiltrasi dan sabotase selesai dalam delapan menit.
Cklek. Pintu mobil terbuka. Daffa masuk kembali ke kursi penumpang dengan napas sedikit memburu.
"Selesai?" tanya Olla penasaran.
"Selesai," jawab Daffa. Ia mengusap peluh di dahinya. "Sekarang, hadap kanan. Lihat jendela luar. Aku mau ganti baju."
"Hah? Ganti baju di sini?!" Olla membelalak.
"Iya. Nggak ada waktu."
Terdengar suara ritsleting ditarik. Olla refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi entah kenapa, jari-jarinya sedikit terbuka, menyisakan celah kecil untuk mengintip. Jantungnya berdebar kencang tak karuan.
Di sebelahnya, Daffa dengan santai melorotkan celana panjangnya. Olla nyaris menjerit tertahan, sebelum akhirnya menyadari bahwa Daffa ternyata mendobel celananya. Di balik celana panjang gombrong itu, ia sudah memakai celana pendek chino selutut berwarna khaki.
"Ngapain ngintip dari sela jari?" tegur Daffa tanpa menoleh, sedang sibuk memakai kaus polo putih berkerah yang terlihat rapi namun sengaja tak disetrika sempurna.
"E-eh! Siapa yang ngintip! PD banget kamu!" rutuk Olla salah tingkah, wajahnya seketika semerah kepiting rebus. Ia buru-buru memalingkan wajah sepenuhnya ke arah jendela. Sialan, instingnya benar-benar diuji hari ini.
"Udah, cuma lepas celana kok," kata Daffa semenit kemudian.