[Olla]
Kami meninggalkan peternakan Koh Rico dengan senyum kemenangan. Koh Rico bahkan membungkuk hormat mengantar mobil kami sampai ke luar gerbang. Di balik kemudi, aku tak bisa berhenti mencuri pandang ke arah Daffa. Pria yang diam-diam menyabotase ayam, lalu berlagak menjadi dewa penyelamat dengan kontrak lock-price yang mencekik itu, kini hanya menyandarkan punggungnya dengan wajah lelah tak berdosa.
Licik. Efisien. Jenius. Aku ga nyangka ada pria seperti ini di dunia.
Dari Bogor, Daffa tidak membiarkan kami bernapas (katanya agar cuti hariannya tidak terpotong banyak). Mobil Innova-ku dipaksa melesat membelah jalan tol menuju kawasan Glodok, surga mesin industri yang bising dan berbau oli. Di sinilah aku melihat "pertunjukan" Daffa babak selanjutnya.
Di dalam sebuah toko distributor alat berat HORECA (Hotel,Restoran,dan Cafe) yang panas, aku menyaksikan Daffa berhadapan dengan Koh Tomi, pedagang gaek yang terkenal tak mau rugi sepeser pun. Alih-alih menawar memelas seperti ibu-ibu di pasar, Daffa melumpuhkannya dengan angka.
"Mesin Deep Fryer seratus liter ini kompresor gasnya masih pakai spesifikasi lama. Efisiensi panasnya turun lima belas persen kalau dipakai lebih dari enam jam non-stop. Saya minta diskon depresiasi dua puluh persen, atau saya ambil Blast Chiller-nya aja dan cari fryer di toko sebelah yang garansi termostatnya tiga tahun," tembak Daffa tanpa ampun.
Aku? Aku hanya berdiri di belakangnya menenteng tas ku layaknya seorang groupie yang sedang menonton konser vokalis band rock pujaannya.
Kosakata seperti depresiasi aset, dan impor franco Jakarta meluncur mulus dari bibirnya. Wajah lempengnya yang tanpa emosi justru membuat Koh Tomi gentar. Puncaknya adalah ketika sang penjual akhirnya menyerah, memotong harga total hingga tiga puluh persen, ditambah bonus pengiriman pick-up sore itu juga.
"Wah, Mas Daffa ini pinter bener ngitungnya! Ampun saya!" Koh Tomi terkekeh pasrah sambil menulis bon. Matanya lalu melirikku. "Istrinya cantik bener, dapet suami pinter ngelola duit gini, hoki bertubi-tubi Cici ini!"
Istri? Lagi-lagi kata itu. Wajahku memanas, tapi anehnya... aku sama sekali tak berniat membantah. Aku malah tersenyum manis dan langsung meminta Linda untuk transfer lewat WA, dengan perasaan bangga setengah mati.
Selesai dengan mesin raksasa, hari belum juga usai. Rute kami berlanjut secara kilat.
Berikutnya, Daffa menyeretku masuk keluar bengkel fabrikasi stainless steel di pinggiran Jakarta. Seperti mandor proyek kelas kakap, ia merancang sistem assembly line (ban berjalan) untuk nasi kotak kami. dengan taktik yang sama: menekan harga material sampai mentok, lalu memberikan insentif uang lembur cash dua kali lipat asalkan mereka mau bekerja semalaman suntuk menyulap gudang rongsokan kami menjadi markas produksi. Uang tunai berbicara, dan para tukang itu langsung menyanggupi.
Selesai dengan sistem assembly itu, Daffa langsung menelepon seorang kontraktor instalasi utilitas industri dan memintanya bertemu langsung di gudang rongsokan kami sore itu juga.
Di tengah gudang yang masih berdebu, aku melihat Daffa kembali beraksi. Sang pemborong, seorang bapak-bapak bertopi proyek yang tampaknya berniat "memeras" kami karena melihat penampilanku yang seperti artis, memberikan penawaran harga dengan sangat percaya diri.