Sabtu, 26 September Pukul 08.00
Sabtu dihabiskan dalam rentetan komunikasi telepon yang sibuk. Sesuai janjinya, Daffa tidak mencari koki amatir atau menempelkan kertas "Lowongan Kerja" di tiang listrik. Ia menggunakan sebagian kecil dana operasional untuk menyewa agensi outsourcing penyalur buruh pabrik profesional. Syarat yang Daffa berikan kepada agen tersebut sangat spesifik dan absurd: "Saya tidak butuh orang yang bisa membedakan lengkuas dan jahe. Saya butuh orang yang tahan berdiri di depan minyak mendidih selama berjam-jam, mampu melipat kardus dengan mata tertutup, dan mematuhi bunyi timer seperti anjing Pavlov."
Hingga akhirnya, tibalah hari Minggu. Hari pembuktian.
Matahari pagi menyorot menembus jendela kaca buram gudang bekas garmen itu. Suasana yang tadinya senyap seperti kuburan kini berubah menyerupai zona perang industri.
Bzzzt! Cetaar!
Percikan api biru keunguan memancar dari ujung alat las, menyilaukan mata. Aroma khas ozon dari besi yang terbakar bercampur dengan bau debu semen yang beterbangan. Di sudut kiri, para instalatir sedang menarik kabel hitam tebal seukuran lengan bayi dari panel utama. Di tengah ruangan, lima unit deep fryer raksasa yang terbuat dari stainless steel mengilap sedang disejajarkan, diawasi langsung oleh teknisi gas yang menyambungkan selang-selang regulator bertekanan tinggi.
Di tepi ruangan itu, berdiri tiga orang yang menjadi otak dari semua kekacauan ini.
Linda berdiri mematung. Mulutnya sedikit terbuka di balik masker medis yang ia kenakan. Ia memandangi wajan deep fryer berkapasitas 100 liter dan rice cooker seukuran tong air itu dengan mata membelalak. Tangannya gemetar memegang ujung bajunya. Seminggu yang lalu, ia hanya menggoreng ayam memakai wajan hitam legam di atas kompor gas satu tungku. Hari ini, ia menjadi pemilik sah dari pabrik katering militer ini.
Di sebelahnya, Olla tampil lebih adaptif. Belajar dari kesalahan salah kostum hari Jumat lalu, hari ini influencer itu memakai celana jeans biru ketat, kaus putih polos, dan sneakers. Rambutnya diikat ekor kuda (ponytail), membuatnya terlihat segar, sporty, sekaligus sangat menarik.
Namun, fokus Olla sepenuhnya tertuju pada pria di sebelahnya.
Daffa berdiri dengan postur tegap, memakai jaket pudarnya yang biasa, sebuah masker proyek menutupi mulut dan hidungnya. Di tangannya terdapat sebuah clipboard berisi daftar nama. Matanya yang tajam mengawasi lima puluh orang pria dan wanita berwajah tangguh yang kini berbaris rapi di tengah gudang.
Mereka adalah para calon pekerja. Dan di depan barisan itu, berdiri Pak Tomo, seorang pria kekar berkumis tebal dari agensi outsourcing yang dibayar Daffa untuk menjadi 'algojo' hari ini. Daffa tahu betul, penampilannya yang medioker tidak akan dihormati oleh para pekerja kasar ini. Maka dari itu, ia menyewa profesional untuk menggonggong, sementara ia memegang kendali dari bayang-bayang.