[OLLA]
SENIN HINGGA RABU, 28-30 September
Tiga hari terakhir ini terasa seperti simulasi bertahan hidup bagiku dan Linda.
Sejak hari Senin, Daffa menghilang ditelan bumi. Pria itu hanya mengirimkan satu pesan WhatsApp singkat pada Minggu malam: "Senin sampai Rabu aku urus tugas terakhir, logistik beras. Kamu dan Linda awasi Simulasi Kering dan Basah sama Pak Yanto. Jangan ganggu aku kalau nggak kiamat."
Dan benar saja. Pesanku yang menanyakan "Kamu di mana, Daff?" atau "Udah makan belum?" hanya dibalas dengan dua centang biru yang menyebalkan. Pria itu benar-benar menghilang entah kemana.
Tanpa Daffa, aku dan Linda terpaksa menjadi mandor amatir. Kami berdua berdiri di tengah gudang yang panas, mengawasi tiga puluh pekerja lepas yang digembleng layaknya tentara oleh Pak Tomo.
Pada hari Senin, mereka melakukan Simulasi Kering, bergerak mengelilingi mesin deep fryer raksasa tanpa minyak, berlatih posisi berdiri, dan menghafal ritme assembly line melipat kardus hingga tangan mereka kapalan. Lalu hari Selasa dan Rabu, neraka yang sesungguhnya dimulai lewat Simulasi Basah. Minyak mendidih, beras sungguhan dimasak dalam rice cooker 50 kilogram, dan puluhan ekor ayam diuji coba.
Gudang kami berubah menjadi pabrik sungguhan. Udaranya dipenuhi aroma gurih rempah dan panasnya uap nasi. Walau lelah setengah mati, melihat ratusan boks nasi kotak pertama kami tersusun rapi di ujung meja stainless membuat dadaku bergemuruh bangga.
Namun di sela-sela kebanggaan itu, mataku terus melirik layar ponsel. Hatiku gelisah. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan Daffa sendirian di luar sana?
KAMIS, 1 Oktober Pukul 05.30 WIB.
Layar ponsel di atas nakas sebelah ranjangku menyala, diiringi getaran pendek. Aku yang masih setengah mengantuk meraba-raba ponsel itu. Mataku yang masih berat langsung terbuka lebar begitu melihat nama pengirimnya di layar.
Calon Suami : "Jemput aku di depan gang kosan jam 7 pagi ini. Pakai setelan blazer atau baju kerjamu yang paling mengintimidasi. Kita punya jadwal meeting."
Aku mengerjap. Tiga hari menghilang tanpa kabar, Daffa tiba-tiba muncul di pagi buta hanya untuk memberiku perintah layaknya seorang komandan militer! Tentu saja aku harus menjemputnya. Motor Supra bututnya kan masih teronggok mengenaskan di basement kantornya sejak Kamis sore minggu lalu.
Namun, rasa kesalku langsung menguap, digantikan oleh lonjakan adrenalin. Meeting? Baju mengintimidasi? Apapun rencana gilanya kali ini, aku tidak mau melewatkannya.
Pukul 07.00 WIB tepat.
Aku memarkirkan Innova silver-ku di depan gang sempit menuju kosan Daffa. Aku sudah berdandan maksimal, mengenakan blazer hitam Saint Laurent, kacamata hitam, dan membiarkan rambut cokelatku tergerai elegan. Aku mematikan mesin sejenak, menunggu sosok berkemeja flanel kusam itu muncul dari balik gang.
Tapi, saat langkah kaki itu terdengar mendekat, aku nyaris tersedak ludahku sendiri.
Pria yang berjalan keluar dari balik pagar berkarat kosan itu... apakah itu benar-benar Daffa?
Tidak ada jaket pudar. Tidak ada ransel hitam tebal. Pria yang kini membuka pintu mobilku dan duduk di kursi penumpang itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru navy yang disetrika licin, celana bahan hitam slim-fit, dan sebuah jam tangan logam yang terlihat mahal (entah dia pinjam dari mana). Rambutnya yang biasanya sedikit berantakan kini disisir rapi ke belakang. Auranya mendadak memancarkan ketegasan absolut seorang eksekutif level atas.
Udara di dalam mobil mendadak terasa lebih panas.
"J-jalan sekarang, Bos?" tanyaku agak tergagap. Sial, pesona pria ini saat sedang dalam mode eksekutif benar-benar melonjak naik seribu persen!