INERSIA

cahyo laras
Chapter #62

Obrolan Nyaman Dibelakang Pabrik

[Daffa]



KAMIS, 1 Oktober Pukul 12.30 WIB

Setelah perampokan berkedok negosiasi di Karawang usai, kami kembali ke pabrik. Mode eksekutif gadunganku resmi kutanggalkan. Setelan kemeja rapi dan celana bahan yang membuatku sesak napas itu sudah berganti kembali menjadi "seragam kebesaran"-ku: kaus oblong yang dilapisi kemeja hem lengan panjang, kancingnya kubiarkan terbuka. Olla pun demikian. Blazer mahalnya berganti menjadi kaus putih sederhana dan celana jeans, sementara rambut cokelat kehitamannya ia biarkan terurai bebas, sesekali berkibar tertiup angin dari kipas blower gudang.

Akhirnya, fondasi rencana gilaku tuntas. Besok adalah hari pembuktian: eksekusi 10.000 boks ayam goreng.

Logistiknya sudah kupetakan matang. Boks-boks itu akan menyebar layaknya virus ke puluhan masjid untuk jemaah salat Jumat, majelis taklim, pondok pesantren, hingga ke jalanan untuk para pedagang asongan, tukang sapu, ojol, dan fakir miskin.

Aku melirik tumpukan kardus yang sudah dilipat rapi oleh tim pekerja. Di bagian atasnya, tercetak tebal logo yang didesain Linda semalam: Ayam Bahagia X PT CURUT.

Di mata direksi PT CURUT, ini adalah laporan pertanggungjawaban CSR yang manis. Tapi di kepalaku, ini adalah umpan berdarah yang kutebar ke kolam hiu. Perusahaan raksasa itu digerakkan oleh ego. Begitu melihat kompetitornya mendapat exposure amal sebesar ini, gengsi mereka akan tersentil. Mereka akan berlomba-lomba membuang dana CSR-nya ke tempat kami. Dan tebak? Di kota ini, satu-satunya pabrik katering dadakan yang terbukti punya kapasitas produksi secepat dan semasif ini hanyalah rumah makan milik Linda.

Bulan depan, aku berani jamin uang CSR dari perusahaan lain akan mengantre masuk. Apalagi, besok proses penyebarannya akan didokumentasikan oleh videografer profesional sewaan Olla, ditambah amplification dari jaringan influencer-nya. Bandung Bondowoso yang membangun candi dalam semalam pun akan tercengang melihat eskalasi bisnis ini.

Fuuhh... aku membuang napas panjang. Udara gudang yang berbau semen dan minyak panas memenuhi paru-paruku. Semuanya sudah diatur.

"Daff... laper," keluh Olla tiba-tiba. Suaranya terdengar lemas, mengembalikan kesadaranku dari hitungan angka ke dunia nyata.

Betul juga. Perutku langsung merespons dengan bunyi keroncongan yang cukup keras. Sejak pagi kami langsung berpacu ke pabrik beras tanpa sempat menyentuh sarapan.

"Mau makan apa?" tanyaku, menyeka keringat di pelipis.

"Umm... apa aja deh. Sekalian beliin buat Linda juga. Dia sejak kamu ngilang sibuk banget lho nge- handle semuanya di sini. Tadi pagi juga udah dateng pagi-pagi buta buat ngurusin bahan," kata Olla, matanya menatap kasihan ke arah adiknya yang sedang sibuk mengecek timer mesin penggorengan.

"Warteg?" tawarku logis. "Dekat sini cuma ada warteg di perempatan. Kalau pesan ojol lama, lagian tempat ini lumayan jauh dari jalan aspal utama, kasihan ojolnya nyari alamat muter-muter."

"Apa aja deh," jawab Olla pasrah, menyandarkan tubuhnya ke dinding beton.

Kami berdua pun bersiap keluar. Namun, sebelum melangkah melewati gerbang pabrik, aku teringat sesuatu. Sinar matahari siang di luar sana sedang memanas tanpa ampun. Aku memutar langkah, masuk ke dalam area peralatan, dan mengambil sebuah payung lipat serta kipas angin portabel mini berwarna cerah. Payung itu biasa kupakai untuk melindungi kepala dari serpihan debu saat atap dibongkar, dan kipasnya kupergunakan untuk meniup sisa serbuk besi dari alat las.

Aku menyodorkan kedua benda itu ke hadapannya.

"Nih. Takut kamu gosong," kataku datar.

Olla mengerjap kaget, menatap tanganku lalu menatap wajahku. "Eh? Kamu sendiri?"

"Gak apa-apa, aku ga perlu payungan. Aku dah biasa panas-panasan," balasku enteng. Aku sudah mengkalkulasi risikonya. Kalau dia nekat kepanasan, lalu kepalanya pusing dan pingsan di tengah jalan, aku yang akan repot harus menggendongnya. Pencegahan adalah solusi paling efisien.

Olla tertunduk. Aku bisa melihat ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tertahan. Dengan patuh, ia membuka payung itu dan menyalakan kipas mininya. Angin kecil langsung menerpa anak rambut di pelipisnya.

Kami berjalan bersisian menyusuri jalan aspal yang sepi dan berdebu. Hawa panas langsung memanggang kulit. Di kawasan antah berantah seperti ini, tidak akan ada orang yang protes melihat perempuan secantik Olla berjalan santai memegang payung dan kipas angin mini. Tapi kalau aku yang melakukannya, para kuli di depan sana mungkin akan melempariku dengan batu.

Tak lama, kami tiba di depan warteg berdinding cat hijau muda. Aroma pekat dari sambal terasi yang baru diulek, kuah santan, dan minyak gorengan bekas langsung menginvasi hidung. Olla mematikan kipas dan menutup payungnya.

"Linda makan apa biasanya?" tanyaku, menatap jajaran nampan lauk di balik kaca etalase yang sedikit berembun.

"Dia makan apa aja doyan sih, tapi dia ga begitu suka pedes," jawab Olla. Pantas saja sambalnya waktu itu rasanya sedikit aneh dan hambar di lidahku.

"Bu," panggilku ke ibu warteg yang sedang mengelap meja. "Pesan nasi bungkus dua. Isinya yang satu nasi, oseng kacang panjang, tempe orek, ayam paha bawah... yang satu pake sambal, yang satu ga pake sambel."

Ibu warteg mengangguk dan dengan cekatan membungkus dua pesanan itu ke dalam kertas minyak cokelat. Nasi bersambal untukku, yang tanpa sambal untuk Linda. Sekarang, giliran pesanan untuk Olla.

"Lalu satu lagi, dada ayam dan..."

Tiba-tiba, Olla melangkah mendekat. Ujung jari telunjuknya yang lentik menyentuh bibirku dengan ringan, seketika memutus kalimatku.

"Samain aja sama kayak kamu," potong Olla. Matanya menatap lurus ke mataku, mengunci pandanganku.

Aku mengernyitkan dahi. "Hah? Beneran?"

Olla mengangguk mantap. Pikiranku mendadak error. Nasi putih panas? Oseng kacang panjang yang berminyak? Tempe orek manis? Tumben sekali perempuan ini mau makan karbohidrat sebanyak itu?. Tapi, ya sudahlah. Tubuhnya, aturannya.

"Bu, tambah satu lagi menu yang mirip punya saya tadi," ralatku.

"Minumnya, Mas?"

"Es teh dua, dan teh bot—"

Olla lagi-lagi menyenggol lenganku dengan sikunya. Ia memberikan isyarat lewat matanya, menyuruhku untuk menyamakan semuanya.

Aku mendengus pelan. "Lho, gigimu gimana?"

"Gak apa-apa, samain aja hehe," cengirnya santai.

Terserah dialah. "Es teh tiga ya, Bu." Kalau nanti dia menangis karena giginya cenat-cenut, Rasain!

Dengan tiga bungkusan nasi dan es teh di kantong plastik, kami kembali ke pabrik. Begitu sampai di dalam, Olla memanggil Linda yang sedang sibuk mengecek stok. Linda mendekat, mengambilkan beberapa piring kosong, sendok, dan gelas untuk memindahkan es teh kami dari plastik mika. Kami bertiga kemudian berjalan mencari angin ke area belakang pabrik yang terbuka, duduk melingkar beralaskan lantai beton yang sedikit berdebu.

Aku baru saja hendak membuka ikatan karet nasi bungkusku di atas piring. Namun, gerakan Linda tiba-tiba terhenti. Ia diam sesaat, matanya menatapku lalu beralih menatap kakaknya.

Lihat selengkapnya