INERSIA

cahyo laras
Chapter #63

Penyesalan Via

[VIA]

JUMAT Siang, 25 September Pukul 08.00, (saat Daffa dan Olla sedang bernegosiasi Gudang untuk pabrik dan peternakan ayam, untuk rumah makan linda)

Suara derik keyboard dan dengung mesin printer mulai memenuhi ruang divisi akunting, tapi telingaku menangkap sebuah kejanggalan. Ada satu frekuensi suara yang hilang. Suara ketukan keyboard mekanik yang biasanya ritmis dan konstan dari sudut ruangan itu tidak terdengar.

Aku menoleh, memandang jauh melewati partisi-partisi meja. Kubikel Mas Daffa kosong.

Kursi kerjanya yang busanya sudah menipis itu terdorong rapi menempel ke meja. Layar komputernya gelap gulita. Selama dua bulan aku bekerja di sini, aku tidak pernah sekalipun melihat pria itu absen. Dia selalu ada di sana, tenggelam di balik tumpukan ordner, menjadi perlengkapan permanen ruangan ini layaknya pot tanaman di sudut koridor. Ada apa dengannya hari ini? Apakah dia sakit?

"Via... Viaa...."

Panggilan nyaring itu membuyarkan lamunanku. Mbak Desi sudah berdiri di samping mejaku sambil menenteng sebuah map.

"Iya, Mbak? Gimana?" sahutku gelagapan.

"Ini laporan untuk nanti sore, jangan lupa di- input ya."

"I... iya, Mbak. Siap."

Mbak Desi tidak langsung pergi. Ia menyipitkan mata, menatap wajahku yang mungkin masih terlihat pucat dan lesu. "Kamu kenapa melamun aja dari pagi?"

Aku tersenyum tipis, menelan ludah yang terasa pahit. Sepertinya Mbak Desi belum tahu kalau aku sudah memutuskan hubungan dengan Theo. Dia belum tahu bahwa duniaku baru saja hancur lebur, dan pahlawan yang menyelamatkanku dari kehancuran itu kini menghilang.

"Gak apa-apa, Mbak, hehe," elakku halus. "O, ya, Mbak... Mas Daffa kenapa ga berangkat hari ini?"

Mbak Desi menghembuskan napas kasar, raut wajahnya berubah sebal. "Gak tau tuh anak. Katanya dia ambil jatah cuti tahunan. Sesuatu yang super langka bagi dia. Selama ngabdi di sini, dia belum pernah ambil cuti tahunan sama sekali lho! Tumben-tumbenan. Kerjaan kita jadi ga ada yang handle, huuffhh... repot deh."

"Cuti tahunan?" gumamku pelan.

"Iya. Kenapa emang?" tanya Desi heran.

"Gak apa-apa, Mbak. Laporannya langsung aku kerjakan ya," balasku, buru-buru mengalihkan perhatian ke layar monitor agar Mbak Desi tak bertanya lebih jauh.

Sepanjang hari itu, aku memaksa jari-jariku bekerja, tapi pikiranku melayang jauh melintasi sekat-sekat kubikel. Mas Daffa entah sedang berada di mana. Kenapa dia tiba-tiba mengambil cuti tahunannya? Apakah dia sedang menghindariku?

Setiap kali aku harus berdiri dan berjalan ke mesin fotocopy melewati kubikelnya yang gelap, ekor mataku selalu terkunci ke sana. Bayangan dirinya yang sedang duduk mengetik dalam diam, wajah datarnya yang menyembunyikan begitu banyak luka, dan gestur canggungnya saat berbicara denganku... bayangan itu menari-nari semakin kuat di kepalaku. Dan setiap kali bayangan itu muncul, rasanya ada tangan tak kasat mata yang meremas isi dadaku hingga aku kesulitan bernapas.

Sore harinya, saat pekerjaan mulai mereda, aku memberanikan diri membuka ponselku. Aku membuka aplikasi WhatsApp, mencari nama 'Mas Daffa' di kolom pencarian.

Sial. Saat ruang obrolan kami terbuka, layarnya kosong melompong. Sama sekali tidak ada riwayat percakapan. Selama aku mengenalnya, aku belum pernah mengiriminya satu pesan pun.

Aku memandangi foto profilnya. Sebuah gambar karakter anime. Dia suka nonton anime kah? Pria ini benar-benar tidak bisa ditebak. Orang seperti Mas Daffa, seorang mastermind jenius yang sudah menyelamatkanku dan sang CEO dari konspirasi mengerikan bernilai miliaran, ternyata di dunia maya hanyalah seorang wibu?

Lihat selengkapnya