INERSIA

cahyo laras
Chapter #64

Kamu Dimana Mas?

SENIN, 28 September Pukul 07.00 WIB (Di saat Daffa sedang memulai aksinya di pabrik beras)

Pagi ini, aku melangkah masuk ke lobi gedung kantor dengan dada yang bergemuruh penuh harapan. Aku berangkat jauh lebih awal dari biasanya. Di depan cermin kosanku tadi, aku menghabiskan waktu hampir satu jam penuh hanya untuk merias wajahku. Kupoles make-up senatural mungkin, namun memastikan rona di pipiku terlihat segar.

Aku mengenakan blus kerja berbahan sutra terbaik yang kumiliki, dipadukan dengan rok pensil yang rapi. Bahkan, aku menyemprotkan parfum floral yang berbeda dari wangi aloe vera normalku. Sebuah wangi yang lebih manis, lebih elegan. Semua ini kupersiapkan dengan satu tujuan: menyambut Mas Daffa.

Ini sudah hari Senin. Waktunya ia kembali.

Sabtu kemarin, di saat karyawan lain menikmati libur akhir pekan, aku nekat datang ke kantor yang sepi. Dengan merogoh kocek untuk menyogok dua orang OB yang sedang piket, aku meminta mereka membongkar partisi kubikelku dan memindahkannya kembali ke sudut ruangan, tepat bersebelahan dengan meja Mas Daffa. Tempat asalku. Tempat di mana aku seharusnya berada.

Lalu pada hari Minggunya, aku datang lagi. Menggunakan tisu basah dan cairan pembersih, aku mengelap meja Mas Daffa yang berdebu hingga mengkilap. Aku menyusun tumpukan ordner neracanya dengan sangat rapi, mengelompokkannya berdasarkan bulan. Bahkan, aku diam-diam membuka laci mejanya, mengisinya penuh dengan berbagai macam snack mahal, cokelat, dan biskuit. Aku menambahkan varian kopi yang lain selain kopi yang biasa dia minum.

Aku sangat berharap, saat Mas Daffa datang nanti, dia akan terkejut melihat mejanya. Aku berharap senyum kecil itu akan terbit di bibirnya.

Jantungku berdegup kencang, dag-dig-dug, tak sabar menanti kedatangannya. Pagi ini, aku juga sudah menyeduhkan air panas. Di atas mejanya, kini bertengger sebuah cangkir keramik baru berwarna navy, warna jaket kesukaannya, yang khusus kubeli kemarin untuk menggantikan gelas kusamnya. Uap panas mengepul dari cangkir itu, membawa aroma kopi manis yang menguar di udara kubikel kami yang sepi.

Semuanya sudah sempurna sesuai bayanganku. Saat Mas Daffa datang, dia akan melihat kopi hangat sudah tersedia, meja kerjanya tertata rapi, laci penuh camilan, dan... aku yang duduk di sebelahnya dengan senyum terbaikku.

Tanganku meraba ke dalam tas selempangku. Ada sebuah kotak cokelat eksklusif berlapis pita emas di sana. Bukan sembarang cokelat. Aku memesan khusus ukiran cokelat praline bertuliskan: "For You, My Hero". Benda ini sudah terbungkus rapi, menunggu untuk kuserahkan langsung ke tangannya. Aku sangat berharap dia mau menerimanya dan memberiku satu kesempatan untuk menjelaskan penyesalanku.

Aku menatap jam di layar monitorku. 07.15 WIB.

Duh... Mas Daffa biasanya berangkat jam berapa sih? Biasanya kalau aku tiba jam 07.30, dia sudah ada di kursinya, tenggelam di balik layar. Tapi kali ini, kursinya masih kosong.

Oh... mungkin jalanan sedang macet. Mas Daffa pasti sedikit telat. Aku harus sabar.

Aku duduk menunggunya dengan postur tegak. Satu per satu, karyawan divisi akunting mulai berdatangan. Mbak Desi yang baru tiba sempat membelalakkan mata melihatku kembali duduk di sudut ini. Saat ia bertanya, aku hanya menjawab santai bahwa aku ingin ganti suasana. Mbak Desi lebih terkejut lagi melihat penampilanku yang rapi dan harum. Dia menggodaku, mengira aku berdandan secantik ini untuk kencan makan siang dengan Theo, sang CEO.

Aku hanya tersenyum kecut. Sama sekali membantah di dalam hati. Ini bukan untuk pria pengecut itu, Mbak. Ini untuk pahlawan sejatiku.

Waktu terus merangkak maju tanpa ampun.

09.00 WIB. Kursi di sebelahku masih kosong. Keresahan mulai merayapi dadaku. Mas Daffa mana sih? Apa dia ada tugas dadakan ke divisi lain? Ah, tidak mungkin. Pak Brata tidak pernah melepaskan karyawan andalannya ini ke mana-mana.

10.00 WIB. Mas Daffa tidak muncul juga.

Aku menoleh ke arah mejanya. Uap panas dari cangkir navy yang kubuatkan itu sudah lama menghilang. Kopinya sudah dipastikan mendingin, warnanya berubah pekat dan mati. Sama seperti harapanku yang perlahan mulai luntur. Aku mulai lemas. Punggungku yang sedari tadi tegak kini merosot bersandar di kursi. Apakah Mas Daffa nggak berangkat kerja lagi hari ini?

Suara ketukan heels mendekat. Mbak Desi menghampiriku yang sedang terduduk menatap kosong ke arah layar Excel.

"Via, kenapa lemes gitu wajahnya? Make-up udah badai padahal. Kamu belum sarapan?" tegur Mbak Desi.

"Udah kok, Mbak..." jawabku parau. Aku menelan ludah, mengumpulkan sisa keberanianku. "Maaf, Mbak... Mas Daffa kok belum berangkat ya?"

Mbak Desi menghentikan langkahnya, memutar bola mata seolah menanggapi hal sepele. "Oh... Daffa? Dia cuti seminggu, Vi."

Deg.

Satu kalimat itu seperti godam tak kasat mata yang menghantam ulu hatiku. Cuti seminggu?

"Aku curiga deh," lanjut Mbak Desi dengan nada bergosip, mencondongkan wajahnya padaku. "Kayaknya dia lagi proses interview lamaran kerja di tempat lain. Soalnya tumben banget lho anak itu ambil cuti panjang begini. Dia kan budak korporat paling loyal."

Jantungku seperti diremas kuat oleh tangan raksasa berdarah dingin. Napasku tertahan di tenggorokan.

Lihat selengkapnya