[DAFFA]
JUMAT, 2 Oktober Pukul 05.00 WIB
Udara subuh Jakarta masih menggigit kulit, menembus lapisan kemeja lusuhku yang belum kuganti sejak kemarin. Namun, hawa dingin itu sama sekali tidak terasa saat aku berdiri di ambang pintu masuk pabrik katering ini.
Aroma tajam rempah ungkepan ayam, bau khas minyak goreng panas, dan asap knalpot berpadu menjadi satu di udara. Mesin-mesin deep fryer raksasa di dalam sana mendesis ganas. Aku memastikan persiapan pengiriman sepuluh ribu paket nasi ayam ini benar-benar berjalan mulus sesuai sistem yang telah kubangun.
Semalam aku memutuskan menginap di pabrik, tidur dengan posisi leher rawan keseleo di atas tumpukan kardus kosong. Sementara itu, Linda dan Olla tidur di dalam kabin Innova silver milik Olla yang mesin dan AC-nya menyala semalaman di area parkir.
Aku menatap ke area loading dock. Suasana sudah sangat ramai oleh deru berbagai jenis kendaraan, mulai dari motor berkeranjang hingga mobil pikap sewaan. Linda ternyata sudah bangun lebih dulu. Gadis itu berdiri di tengah hiruk-pikuk, tangannya sibuk mencoret-coret clipboard, sementara tangan kanannya memegang ponsel yang terus menempel di telinga. Ia sedang berkoordinasi mengatur alur masuk para driver yang siap menyebarkan ribuan boks ini ke titik-titik yang sudah kutargetkan.
Linda benar-benar luar biasa. Sistem logistik dan Standard Operating Procedure (SOP) kasar yang kutulis di kertas buram beberapa hari lalu, mampu ia terjemahkan ke lapangan dengan sempurna. Aku nyaris tidak perlu turun tangan. Aku hanya perlu bersandar di tiang beton, mengawasi mesin raksasa ini bekerja.
Di sudut lain, seorang pria dengan rompi hitam dan kamera DSLR berserta gimbal stabilizer, videografer sewaan Olla, mulai bergerak lincah merekam proses loading paket-paket ini. Sorot lampu kuning dari mobil-mobil pikap menembus kabut tipis subuh, menciptakan siluet dramatis yang pasti akan sangat bagus di layar monitor. Ini akan jadi dokumentasi awal yang epik untuk portofolio pabrik katering dadakan ini.
"Lin, gimana? Semua persiapan udah oke?" tanyaku, menghampirinya yang sedang setengah berteriak memberi instruksi pada seorang sopir.
Linda menoleh. Napasnya sedikit memburu. Wajahnya mengkilap karena peluh, dan rambutnya yang sudah lepek diikat asal-asalan ke belakang membentuk ponytail.
"Sudah, Mas... beberapa armada kloter pertama udah jalan tepat waktu," jawab Linda, suaranya sedikit serak tapi matanya menyala terang.
"Mas Daffa..." panggilnya pelan.
"Hmm?" Aku menaikkan sebelah alis, menatap lurus ke arahnya yang masih kucel dan berkeringat. Meski penampilannya jauh dari kata rapi, entah kenapa aura di sekeliling gadis ini memancarkan wibawa. Dia tidak lagi terlihat seperti pemilik rumah makan biasa yang nyaris bangkrut, melainkan murni seperti seorang pengusaha manufaktur muda yang tangguh.
"Ma... makasih ya atas semuanya," suara Linda tiba-tiba bergetar, nada tegasnya barusan menguap begitu saja. Ia menatap hamparan kardus berlogo 'Ayam Bahagia' yang sedang diangkut masuk ke bak mobil. "Pemandangan ini... sensasi sibuk ini... capek yang kayak gini... ini yang bener-bener aku doakan tiap malam, Mas."
Aku terdiam sejenak, memasukkan kedua tangan ke saku celana. "Tolong dijaga sistemnya ya, Lin. Ingat pesanku sebelum aku memulai semua ini. Jangan main-main dengan administrasi dan hukum, jalankan dengan blueprint yang udah aku kasih."
"I... iya, Mas. Pasti." Linda menelan ludah, menatapku dengan mata berkaca-kaca. "O, ya, Mas..."
"Apa?"
"Aku tau Mbak Olla pasti bakal marah besar kalau lihat ini, tapi aku ga peduli... mungkin memang Mas Daffa adalah jawaban dari doa-doaku selama ini... Mas."
Wajah Linda mendadak memerah kematangan seperti kepiting rebus. Sebelum otak analitisku sempat membaca gestur tubuhnya, tiba-tiba ia bergeser merapat padaku, lalu...