INERSIA

cahyo laras
Chapter #66

Coklat Dari Via

[DAFFA]

SENIN, 5 Oktober 07.30 WIB

Karena motor Supra bututku sudah kuparkir telantar di basement kantor sejak hari Kamis dua minggu lalu, pagi ini aku terpaksa berangkat dari kosan naik TransJakarta.

Risikonya? Tentu saja harus ikut antrean panjang mengular, berdiri berdesak-desakan mencium berbagai macam aroma ketek dan parfum murah yang bercampur aduk, dan tentu saja: sampai di kantor jauh lebih lama dari biasanya.

Namun, di sepanjang perjalanan yang sumpek itu, otakku sibuk mengalkulasi satu masalah besar. Aku sudah absen seminggu penuh. Pasti wajah rekan-rekan divisiku, yang selama ini seenaknya melempar tugas mereka padaku, akan terlihat seseram karakter antagonis di film slasher. Aku sudah bisa membayangkan omelan mereka.

Dan yang paling membuatku malas, aku benci klarifikasi. Aku benci ditanya-tanya. Aku sama sekali ga mungkin bilang pada mereka kalau aku baru saja membangun pabrik.

Sebaiknya, sebelum mereka sempat buka mulut menyerangku, langsung kusumpal saja mulut mereka dengan sogokan. Sogokan apa yang paling efektif ya? Aku tidak pernah membeli makanan untuk rekan sekantor sebelumnya.

Hmm... Via waktu itu pernah bawa seloyang pizza dan sukses membungkam satu ruangan. Mungkin aku harus pesan donat. Orang Indonesia pantang marah kalau dikasih gula. Ya, itu ide bagus.

Aku berjalan masuk ke lobi kantor sambil membuka aplikasi delivery order, memesan 3 kotak besar donat J.CO. Kemungkinan estimasi sampainya sekitar jam 9-an karena tokoknya buka jam 8an.

Lift berdenting di lantai 6. Aku melangkah keluar, menyusuri lorong berkarpet, dan mendorong pintu kaca divisi akunting. Habitat asliku. Tempat di mana udara selalu terasa steril dan dingin.

Aku berjalan gontai menuju kubikelku di sudut ruangan.

Deg.

Langkahku terhenti sejenak. Mataku menyipit. Kenapa... kubikel Via ada di sebelah kubikelku lagi? Hah?? Sial, ngapain dia balik pindah ke situ?

Tampak Via sedang duduk diam menatap layar monitornya. Jam segini dia sudah ngerjain laporan? Aneh. Biasanya dia pasti sedang berkicau nggosip dengan Mbak Desi di pantri.

Aku langsung lewat saja dibelakangnya. Saat aku lewat tepat di belakang kursinya, aku melihat pundak Via tiba-tiba bergetar, dan posturnya yang tadi membungkuk langsung tegak kaku.

Dia kaget aku lewat? Harusnya aku yang kaget dia tiba-tiba invasi teritorial kembali ke sebelahku!

Aku menghempaskan pantatku ke kursiku yang busanya sudah menipis. Aku menaruh ranselku. Mataku menyapu meja kerja.

Eh??

Kenapa gelas keramik kusamku hilang, dan tiba-tiba digantikan oleh sebuah cangkir keramik baru berwarna navy mengkilap? Siapa yang berani menukar inventaris pribadiku? Terus, mana gelas suciku yang biasa kupakai untuk menyeduh kopi sasetku?

Dengan dahi berkerut, aku membuka laci mejaku untuk mengambil amunisi kopi seperti biasa.

Hah??

Aku nyaris terjengkang ke belakang. Kenapa kopiku jadi bertambah banyak? Dan... astaga, kenapa ada banyak sekali snack, biskuit, dan cokelat di dalam laci busukku ini?! Siapa yang naruh sesajen sebanyak ini?

Tunggu dulu. Aku meneliti permukaan mejaku. Kenapa mejaku bersih dan rapi sekali? Tumpukan ordner merahku ditata sangat presisi. Apakah ada OB baru yang terlalu rajin cari muka? Tidak, tidak mungkin OB mengganti gelas dan mengisi laciku dengan snack, gaji kami sama-sama mini (walaupun gajiku sudah naik sih) ga mungkin mereka sukarela membelikan aku snack.

Tiba-tiba, sebuah konspirasi mengerikan terbentuk di otakku.

Apa mungkin... aku dipecat diam-diam karena cuti kelamaan? Dan mejaku ini sebenarnya sudah ditempati oleh karyawan baru yang lebih rapi dan wangi?! Astagaaa... jangan!

Kalau benar begitu, besok aku harus melamar kerja di mana?! Dan apakah di tempat kerja baru aku bisa duduk manis setenang di PT BEGO ini? Sial, rutinitas santai yang sudah kubangun 5 tahun terancam hancur.

Aku memandangi cangkir navy itu. Aku sebenarnya mau langsung menggunakannya, tapi ketakutanku makin membesar. Kalau kekhawatiranku benar, artinya itu gelas milik karyawan baru si penggantiku. Aku ga mau dituduh maling. Sudahlah, aku bikin kopi pakai gelas kertas di pantri saja.

Aku mengambil sebungkus kopi sasetku, lalu berjalan waspada ke pantri.

Setelah selesai menyeduh kopi, aku kembali ke mejaku dengan perasaan waswas.

Tumben sekali Via sama sekali tidak menyapaku. Jangankan menyapa, melirik pun tidak. Dia tetap duduk kaku, fokus menatap lurus pada monitornya. Padahal saat kulirik sekilas, dia sama sekali ga buka aplikasi kerja apa pun. Layarnya hanya menampilkan wallpaper Windows standar. Dia nontonin wallpaper dari tadi buat apa coba?!

Kecurigaanku makin valid. Fix, aku pasti benar-benar sudah dipecat diam-diam. Buktinya, rekan-rekan yang lain dari tadi lewat juga tidak ada yang menegurku. Sialan... aku harus cepat-cepat buka LinkedIn dan nyari lowongan. Tapi di zaman sekarang, mana ada perusahaan yang mau nerima lulusan D3 Akuntansi dengan mudah? Lulusan S1 dari kampus bergengsi saja sulit dapet kerjaan.

Sudahlah. Aku menekan tombol Power CPU-ku pasrah. Booting-nya sangat lama seperti biasa. Tapi tunggu dulu... setelah seminggu cuti mengurus ayam goreng. Aku bingung, Kini aku harus menggarap laporan apa? Aku membuka file Excel secara acak.

Semuanya diam. Hanya suara keyboard dan mouse di sekitarku. Hawa ruangan ini terasa sangat mengintimidasi. Aku mulai ketakutan.

Jam terus berdetak. Aku menyeruput kopiku dari gelas kaca dengan gelisah, menanti donat J.CO-ku sebagai senjata terakhir. Kemudian, tepat pukul 09.15, ponselku bergetar. Pesan dari kurir masuk, memberitahu pesanan sudah di lobi.

Bagus. Aku ambil dulu di bawah. Nanti saat donat ini kubuka di sini, warga divisi akunting yang gila gratisan pasti bakal heboh berkerumun. Di momen itulah aku bisa mendesak minta kejelasan mengenai status pemecatanku pada Mbak Desi.

Aku bangkit, berjalan keluar ruangan tanpa pamit, lalu turun ke lobi untuk mengambil tiga kotak besar J.CO dari sekuriti.

Sambil menenteng kotak-kotak itu, aku naik kembali ke lantai 6.

Di lorong sepi sebelum pintu divisi, langkahku melambat. Aku menelan ludah. Seumur hidup, aku belum pernah melakukan selebrasi bagi-bagi makanan seperti ini. Aku harus merangkai kata sambutan seperti apa?

"Hai gaes... ada donat nih," gumamku pelan, mencoba mempraktekannya. Terlalu cringe. Itu sama sekali bukan gayaku.

"Teman-teman, ada donat nih." Terlalu lemah lembut, mirip SPB di supermarket.

"Bro, Sis, donat nih." Sok asik. Menjijikkan.

"Bajingan kalian semua, makan nih donat." Fix. Kalau ini kuucapkan, aku pasti langsung dilempar keluar lewat jendela.

Aarrgghhh... Masa bodo lah. Mengucap satu kalimat sederhana saja otakku nyaris konslet.

Langkahku makin dekat dengan pintu kaca ruangan. Begitu aku mendorongnya masuk, aku mengumpulkan udara di paru-paru dan bersuara cukup keras memecah keheningan divisi.

"Ehm... ada donat nih. Ada yang mau?"

Beberapa kepala langsung mendongak dari balik kubikel.

"Lho, Daff? Lu udah berangkat?!" seru Amri, rekan kerjaku dari ujung meja, matanya melotot kaget.

Lihat selengkapnya