[VIA]
SENIN, 5 Oktober Pukul 17.00 WIB
Udara sore yang menelusup lewat ventilasi lobi terasa jauh lebih sejuk dari biasanya. Entah karena cuaca, atau karena beban raksasa yang selama ini menghimpit dadaku akhirnya sedikit terangkat.
Aku bersyukur. Sangat bersyukur. Setelah insiden pagi tadi, kehidupanku dan Mas Daffa perlahan kembali ke orbit asalnya. Aku tidak tahu apakah pria itu sudah benar-benar memaafkanku seutuhnya atau belum, tapi setidaknya, dia sudah kembali menjadi Mas Daffa yang kukenal. Mas Daffa yang berwajah datar, kaku, bermata awas, dan selalu pendiam.
Sore ini tumben sekali divisi kami tidak ada tumpukan lemburan. Kami berdua melangkah keluar dari lobi menuju lift khusus basement secara beriringan.
Di dalam tabung baja lift yang sunyi itu, aku sesekali melirik ke arahnya dari pantulan cermin. Pria berbalut kemeja lusuh dan celana bahan yang sudah pudar warnanya ini... aku benar-benar tak menyangka. Siapa yang akan mengira bahwa di balik postur bungkuk dan tatapan malasnya, bersemayam otak brilian yang telah menjadi perisai dan penyelamat nyawaku dari jerat penjara para petinggi korup.
Ting.
Pintu lift terbuka. Bau khas basement, campuran antara debu tebal, aspal lembap, dan emisi gas buang kendaraan, langsung menyergap hidung. Kami melangkah keluar. Suara pantulan sepatuku terdengar menggema beradu dengan langkah sepatunya yang sunyi.
Mas Daffa berjalan menuju blok parkir motor. Aku terus melangkah di belakangnya.
Tiba-tiba, ia menghentikan langkah, membalikkan badannya, dan menatapku dengan sebelah alis terangkat.
"Via... kenapa kamu ngikutin aku terus sampai ujung basement bawah tanah begini?" tanyanya datar.
Aku gelagapan. Langkahku terhenti kaku. Astaga, tanpa sadar aku malah mengekorinya terus! Via... Via... ngapain sih kamu ngikutin dia kayak anak bebek?!
"Eh... eh... nggak apa-apa, Mas," jawabku salah tingkah, meremas tali tas selempangku. "Aku... cuma pengin nemenin Mas Daffa di parkiran aja sampai pulang."
Mas Daffa menatapku dengan raut aneh. Ia menggeleng pelan, lalu kembali mengalihkan perhatian pada motor Honda Supra lamanya yang terparkir mojok.
Motor itu terlihat menyedihkan. Joknya sudah kusam dan ada lapisan debu tebal menyelimuti body-nya akibat ditinggal cuti di basement ini selama hampir dua minggu.
Mas Daffa menancapkan kunci, memutarnya ke posisi ON, lalu mulai menginjak kick-starter.
Ngek... ngok...
Mesinnya hanya terbatuk kosong. Ia mencoba mengengkolnya lebih keras. Berulang kali. Sampai peluh tipis mulai muncul di pelipisnya. Motor itu tetap mati membisu.
"Kenapa, Mas?" tanyaku cemas, mendekat ke arahnya.
Mas Daffa mendesah pasrah, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Sepertinya businya mati atau kotor. Udah dua minggu lebih motor ini ditinggal di sini."
"Terus gimana, Mas?" tanyaku bingung. Aku sama sekali buta soal mesin motor.
"Kayaknya aku harus beli busi dulu, kuganti di sini," gumamnya sambil celingukan ke arah pintu keluar. "Di belakang kantor sana ada bengkel sepertinya."
Mendengar itu, jiwa penebusan dosaku langsung meronta. Ini kesempatanku untuk berguna!
"Mas, biar aku aja yang beliin ya! Mas Daffa tunggu di sini aja jagain motornya, ya?" tawarku antusias.
"Hah??" Mas Daffa menoleh menatapku tak percaya. "Kamu tahu bentuk busi kan?"
"Eh? Apaan tuh, Mas? Kaya baut gede kan? Tinggal bilang aja ke abangnya, kan?" tanyaku dengan tingkat kepercayaan diri luar biasa.
Dahi Mas Daffa berkerut dalam, menciptakan lipatan bingung. "Ya ga bisa gitu sistemnya, Via. Namanya spare part mesin, spesifikasi busi itu harus sesuai sama tipe motornya."
"Oh, gitu... ya udah, gampang! Aku beli sekarang ya. Untuk motor Mas Daffa kan?"
"Beneran nih kamu mau jalan ke bengkel?" ia memastikan, nadanya masih skeptis.
"Iya bener, Mas... tenang aja, serahin urusan ini ke aku!" balasku riang.
"Ya udah. Bilang ke abang bengkelnya: carikan busi standar untuk Supra X. Abangnya pasti langsung paham," pesan Mas Daffa.
"Oke! Supra X, siap, Mas!"
Aku langsung berbalik dan berjalan cepat keluar dari basement dengan langkah ringan dan hati berbunga-bunga. Aku bahagia karena Mas Daffa mau menerima bantuanku.
Sesampainya di bengkel yang letaknya berhadapan dengan terik sore jalanan Jakarta, aroma oli bekas dan karet ban vulkanisir yang menyengat langsung menyapaku.
Aku menghampiri etalase kaca yang dijaga oleh seorang pria gempal bersinglet montir.
"Koh, ada busi?" tanyaku.
Pria itu menoleh dari bon notanya, mengamatiku dari atas sampai bawah. "Ada, Ci. Cari busi apa?" Padahal aku sama sekali tidak ada darah Tionghoa, tapi sudahlah.
"Busi untuk Supra X," kataku mantap.
"Bentar, Ci." Koko itu berjongkok membongkar etalase bawah, lalu bangkit menyerahkan sebuah benda putih panjang berujung logam di dalam kotak kardus kecil. "Ini, Ci."
"Berapaan ini, Koh?"
"Lima belas ribu aja, Ci."
Aku tertegun. Hah? Lima belas ribu? Kok murah banget? Aku menatap benda murah di tanganku itu. Mas Daffa masa hanya kubelikan spare part seharga lima belas ribu?! Nggak sudi! Untuk motor Mas Daffa, aku harus membelikan versi dewa agar motornya melesat bak roket dan tak pernah mogok lagi!
"Ga ada yang lebih bagus lagi, Koh?" tanyaku, meletakkan busi murah itu ke atas kaca.
"Lho? Untuk Supra X kan, Ci?" si Koko memastikan, wajahnya bingung.
"Iya betul, Koh."