[DAFFA]
SELASA, 07.30 WIB
"Selamat pagi, Mas..." sapa Via dengan nada ceria. Ia baru saja muncul dari balik kubikelnya, meletakkan tas selempangnya di kursi.
Aku hanya menjawabnya dengan senyum tipis seadanya, lalu kembali menatap layar monitorku yang masih booting.
"Gimana, Mas? Motornya kemarin bisa jalan lancar kan sampai ke kosan?" tanya Via sambil menekan tombol power PC-nya.
"Bisa. Cuma masalah busi aja," jawabku datar. "Tapi kayaknya dalam waktu dekat motorku memang harus diservis total dan ganti oli. Udah waktunya."
Mata bulat Via mendadak berbinar terang. "Wah! Aku temani ya, Mas! Hehe," tawarnya antusias.
"Eng... enggak usah. Aku biasa servis motor sendiri," tolakku cepat. Otakku langsung memproyeksikan skenario bencana. Jangan. Jangan sampai gadis polos ini ikut ke bengkel. Nanti dia malah memaksa membelikan pelumas mesin pesawat jet seharga jutaan rupiah untuk disuntikkan ke motor bututku.
Meninggalkan Via yang sedikit cemberut, aku mengambil cangkir keramik navy pemberiannya dan merogoh satu bungkus kopi saset dari dalam laciku. Aku berjalan menyusuri lorong divisi menuju pantri.
Udara pagi di kantor masih terasa dingin, namun ada yang aneh dengan atmosfernya.
Dalam perjalanan melintasi deretan meja, sayup-sayup kudengar suara kasak-kusuk dari beberapa staf yang sedang berkumpul menatap layar ponsel. Ada serpihan kalimat 'penangkapan besar-besaran' dan 'influencer'.
Bahkan saat aku tiba di pantri, kulihat dua orang OB sedang berdiri di sudut ruangan, asyik bergosip.
"Wah... gila, ga nyangka banget aku. Padahal aku follower setianya lho dari zaman dia belum terkenal," bisik salah satu OB sambil menggelengkan kepala.
Sepertinya ada berita gosip nasional pagi ini. Sudahlah. Aku menyobek bungkus kopiku dan menuangkan air panas. Aku tidak peduli. Aku benci mengikuti arus berita mainstream dan drama artis. Urusanku adalah tumpukan file Excel dan menjaga ketenangan hidupku sendiri.
Aku mengaduk kopiku perlahan, mencium aroma manis yang menenangkan, lalu berjalan kembali menuju kubikelku.
Namun, langkahku melambat saat melihat Via.
Gadis itu tidak sedang membuka aplikasi laporan. Ia duduk kaku. Punggungnya tegak lurus seperti papan. Matanya membelalak tak berkedip menatap monitornya. Dari layar PC-nya, kulihat ia sedang menonton siaran langsung konferensi pers kepolisian di YouTube.
Aku menghela napas, duduk di kursiku, dan menyeruput kopiku. Hmm, nikmat. Manisnya pas.
"M... Mas... Mas Daffa... Mas..."
Tangan Via tiba-tiba terulur melintasi pembatas meja. Ia menepuk pundakku. Awalnya pelan, lalu tepukannya berubah semakin cepat dan gemetar.
"Ada apa?" tanyaku menoleh malas.
"Kak Olla..." suara Via bergetar hebat. Nafasnya tertahan.
"Hah? Olla?" Aku mengernyitkan dahi.
Tanpa menjawab, Via dengan cepat menarik lengan kemejaku, memaksaku bergeser ke kubikelnya.
"Ini... ini Kak Olla kan, Mas?!" tunjuk Via dengan jari telunjuk yang gemetar. Ia baru saja menekan tombol pause pada video YouTube tersebut.
Kopi di mulutku nyaris tersedak.
Mataku membelalak. Jantungku yang tadinya berdetak stabil di angka enam puluh per menit, mendadak terasa seperti dihantam godam godam baja. Ledakan sesaat di dalam rongga dadaku. Darahku berdesir dingin mengalir dari ujung kepala hingga ke kaki.
Di layar monitor itu, kamera menyorot tepat ke wajah seorang perempuan yang mengenakan baju tahanan berwarna oranye neon. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya pucat tanpa makeup, dan kepalanya menunduk dalam-dalam. Namun, aku tak mungkin salah mengenali postur tubuh dan tarikan rahang itu.
Itu Olla.
"Minggir."
Aku melepaskan cengkeraman Via, berbalik dengan kasar, dan langsung menerjang keyboard di kubikelku sendiri.
Aku mengklik icon Google Chrome dengan brutal. Ayo buka! Buka! Sialan. Chrome di PC rongsokan kantor ini malah memunculkan loading memutar yang menyiksa. RAM-nya kehabisan napas. Layarnya nge-hang putih. Astaga, kenapa harus di saat seperti ini?!
Aku mengumpat pelan, lalu melompat kembali ke kubikel Via.
"Maaf, Via. Pinjam PC-nya sebentar," kataku dengan suara serak yang mematikan ruang diskusi.
Aku berdiri membungkuk di depan monitor Via, merampas mouse-nya, dan menggeser slider video konferensi pers itu dari awal.
Suara bariton seorang perwira polisi bergema dari speaker PC Via. Ia menjelaskan bahwa semalam telah dilakukan operasi penangkapan besar-besaran terhadap lima belas influencer di apartemen mereka masing-masing. Kasusnya: Afiliasi dan Promosi Jaringan Judi Online Internasional.
Mataku tak lepas dari sosok Olla yang berdiri lemas di barisan belakang bersama tersangka lainnya di hadapan kilatan blitz kamera media. Polisi menyatakan bahwa ini adalah hasil penyelidikan siber berbulan-bulan.
Olla? Terlibat judol?!
Aku memejamkan mata sesaat. Bayangan wajah Olla yang ceria, enerjik, dan tawanya yang lepas di dalam mobil tadi malam berkelebat. Caranya memakan oseng kacang panjang di belakang pabrik bersamaku. Dedikasinya pada warung adiknya. Tidak. Otak normatifku menolak kesimpulan dangkal ini. Tidak mungkin gadis senaif itu terlibat jaringan kriminal skala internasional.
Aku kembali ke kubikelku. Layar Chrome-ku akhirnya kembali normal.
Mode panikku mati, digantikan oleh pikiran yang dingin dan taktis.
Tanganku bergerak di atas keyboard secepat kilat. Ctrl+Shift+Del. Aku menghapus seluruh history browser, me-logout semua akun yang terlogin, menghancurkan cookies, dan membersihkan cache. Aku mem- bypass firewall murahan kantor dan membuat Chrome-ku benar-benar menjadi kanvas putih yang polos tanpa jejak identitas.
Lalu, aku mulai mengetik rentetan kata kunci sampah di kolom pencarian Google untuk mencuci otak algoritma browser ini.
'Cara cepat kaya', 'Teknik jackpot slot', 'Pola gacor Zeus', 'Cara menang maxwin modal receh'.
Aku menekan Enter berulang kali, membuka belasan tab situs abu-abu, membiarkan pelacak cookies mereka menginfeksi browser-ku. Aku sedang memancing sistem. Dalam hitungan menit, algoritma Google telah membaca profilku sebagai target pasar: seorang pejudi putus asa yang mencari jalan pintas.
"Mas... Mas Daffa..." panggilan Via terdengar sayup-sayup, seperti suara dari bawah air.
Aku tidak menghiraukannya. Pandanganku terkunci pada layar. Aku harus tahu video promosi bajingan mana yang membuat Olla tertangkap.
Aku membuka tab baru dan masuk ke Instagram versi Web dan create aku baru di PC, akun baru pun sudah jadi. Karena PC ini sudah terinfeksi oleh history judol, saat aku mencari profil publik Olla dan men- scroll Reels-nya, iklan bertarget (targeted ads) pun bermunculan.
BOOM.