Setelah makan siang dengan lauk barteran itu, aku kembali menatap monitor. Perutku kenyang, tapi otakku kelaparan.
Aku berselancar di mesin pencari Google, membongkar artikel demi artikel, mencari celah dosa seorang Julian Helios. Sialnya, nihil. Tidak ada satu pun berita miring. Halaman pertama hingga halaman kesepuluh Google murni berisi pujian, penghargaan, kegiatan amal, dan foto-foto senyum sempurnanya.
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal dengan kasar sampai rambutku acak-acakan. Monster satu ini benar-benar dilindungi oleh sistem. Dia tak tersentuh.
Kulirik jam di sudut kanan bawah layar. Pukul 15.00 WIB. Jam rawan mengantuk. Kepalaku yang nyaris berasap ini sepertinya butuh guyuran kafein dosis kedua.
Aku bangkit, membawa cangkir keramik navy bekas kopi tadi pagi dan merogoh sebungkus kopi saset yang tersisa di laci. Aku berjalan gontai menuju pantri.
Sesampainya di sana, aroma manis gula aren dan susu menguar di udara. Desi dan Dina sedang bersandar di meja kitchen set, asyik menyedot es boba sambil bergosip ria.
Aku tak menghiraukan mereka. Aku menyalakan keran, mencuci cangkirku di bawah kucuran air dingin.
Seperti biasa, volume suara mereka sengaja tidak dikecilkan. Obrolan mereka hanya berkutat seputar drakor, gosip artis selingkuh, dan drama-drama FYP TikTok. Telingaku sudah kebal.
"Eh... tapi jujur ya, aku tuh ngefans banget lho sama Julian Helios. Asli, perfect banget cowok itu. Udah ganteng, family man, baik suka sedekah, eh waktu main film juga aktingnya bagus banget..." puji Dina dengan nada memuja.
Gerakan tanganku yang sedang membilas cangkir langsung terhenti.
Cih. Perutku mendadak mual. Mereka sedang memuja lawan seberat titan yang baru saja menghancurkan hidup Olla.
"Iya bener! Tapi ya, orang sebaik itu ternyata pernah difitnah jahat banget lho, ga abis pikir aku tuh sama orang iri..." timpal Desi sambil mengaduk boba-nya.
Hah?
Aku langsung mematikan keran. Julian pernah difitnah?
Tanpa berpikir panjang, aku langsung berbalik badan menatap mereka berdua.
"Julian pernah difitnah? Fitnah apaan?" tanyaku spontan. Nadaku terlalu mendesak.
Desi dan Dina seketika berhenti menyedot boba. Mereka berdua menoleh dan menatapku dengan raut wajah aneh, seolah melihat alien. Tentu saja. Seumur-umur bekerja di divisi ini, ini adalah pertama kalinya seorang Daffa si manusia kubikel nimbrung masuk ke dalam pusaran gosip mereka.
Sial. Aku salah langkah. Aku harus menurunkan kecurigaan mereka.
"A... anu," aku memaksakan otot wajahku untuk menarik sebuah senyuman. Senyum yang kuyakin terlihat sangat mengerikan. "Aku... aku juga ngefans banget sama Julian Helios. Aktor berbakat. Hehehe... jadi pengin tau aja."
Dina berkedip, tampak merinding melihat senyumku, tapi untungnya jiwa tukang gosip Desi lebih mendominasi.
"Oohh... kirain kesambet apa kamu, Daff," kata Desi santai. "Itu lho, kejadian dua tahun lalu. Ada orang gila yang nuduh dia ngelakuin money laundry (pencucian uang). Geger tuh bentar. Tapi akhirnya terbukti kalau itu murni fitnah. Dan yang nuduh itu sekarang mendekam di penjara gara-gara memalsukan dokumen negara."
Dua tahun lalu? Money Laundry? Dokumen negara? Bingo. Algoritma di otakku langsung mendapatkan kata kuncinya.
"Oh... gitu. Jahat banget ya orang yang fitnah itu. Hehehe," balasku, memamerkan senyum asimetris.
Tanpa basa-basi lagi, aku langsung merobek bungkus kopiku, menyeduhnya dengan air panas secara asal, lalu cepat-cepat kembali ke kubikelku setengah berlari.
Aku membanting pantatku ke kursi. Dengan tangan sedikit bergetar, aku mengetikkan kata kunci mematikan itu di Google: 'Fitnah pencucian uang Julian Helios'.
Aku mem- filter pencarian ke berita dua tahun lalu. Tidak banyak portal berita arus utama yang mengutipnya, kemungkinan besar sudah diberangus atau dibayar, tapi aku menemukan sisa-sisa rekam jejaknya di beberapa blog jurnalisme independen.
Aku membacanya dengan mata memicing.
Dua tahun lalu, seorang karyawan internal dari SETAN Agency melaporkan Julian Helios ke aparat atas kecurigaan aliran dana pencucian uang ke sebuah Yayasan Panti Asuhan fiktif. Nama pelapornya adalah Wahyu Purnomo.
Lalu apa kelanjutannya? Aku membaca baris berikutnya dan menelan ludah.
Hanya dalam waktu satu bulan setelah laporannya masuk, bukannya diproses, Wahyu Purnomo malah ditangkap balik. Ia dituduh mencuri dan memalsukan dokumen negara. Dan yang membuat darahku mendidih: Wahyu dituntut dan divonis 10 tahun penjara.
Sepuluh tahun?! Gila. Ini benar-benar di luar nalar! Hukuman itu murni sebuah eksekusi peringatan. Julian Helios menggunakan hukum negara layaknya pisau daging miliknya sendiri untuk memotong lidah siapa pun yang berani bersuara.
Keringat dingin membasahi pelipisku. Kalau aku serampangan menyerang Julian dengan data mentah, aku bisa senasib seperti Wahyu. Dilenyapkan secara legal.