[DAFFA]
SELASA, 10.00 WIB
Udara di ruang tunggu jam besuk Lapas Cipinang ini terasa sangat pengap. Kipas angin besar yang berdebu di langit-langit hanya memutar hawa panas yang bercampur dengan aroma keringat, kecemasan, dan karbol lantai murahan.
Aku duduk di kursi plastik yang keras, membaur bersama puluhan keluarga tahanan lainnya. Aku sedang menunggu giliran panggilanku untuk menemui Wahyu Purnomo. Tentu saja, aku tidak sebodoh itu menggunakan KTP asliku. Aku mendaftar secara online menggunakan NIK dan data milik seorang vendor supplier ATK yang kuambil asal dari tumpukan berkas laporan bulananku di kantor.
Selagi menunggu, aku membuka layar ponselku. Lini masa media sosialku sudah berubah menjadi ladang pembantaian digital. Media arus utama dan netizen memang luar biasa kejam. Mereka membuat narasi komparasi yang brutal antara dua bersaudara: Olla dan Linda.
Di satu sisi, Linda sedang dielu-elukan. Wajahnya yang kelelahan namun tegas saat melayani pesanan katering diliput besar-besaran sebagai sosok pengusaha muda inspiratif. Di sisi lain, Olla yang baru ditangkap menjadi bulan-bulanan hujatan. Nama Olla benar-benar ambruk, dilucuti habis-habisan, dan lebih disorot dengan kejam dibandingkan influencer lainnya.
Semalam aku sempat menghubungi Linda sebentar. Suaranya terdengar gemetar menahan tangis, tapi dia memilih untuk bungkam dan tidak memberikan statement apa pun di hadapan media. Yap, keputusan logis yang sangat tepat. Mental Linda sedang diuji dalam panci tekan. Usahanya meroket ekstrem, sementara kakaknya terjerat kasus hukum berat. Dia harus menyeimbangkan kewarasannya agar pabrik logistik itu tidak hancur.
"Kunjungan untuk Warga Binaan atas nama Wahyu Purnomo! Meja nomor tujuh!" suara serak petugas memecah lamunanku.
Aku mengantongi ponselku dan berjalan masuk ke aula besuk utama.
Di sana, dari balik pintu jeruji lapis kedua, Wahyu Purnomo muncul. Pria yang seharusnya menjadi pelapor kebenaran itu kini berjalan gontai dengan seragam biru pudar khas tahanan. Pipinya tirus, kantung matanya menghitam, dan kulitnya pucat kekurangan sinar matahari.
Penjagaannya benar-benar ketat di luar kebiasaan. Normalnya, tahanan biasa hanya diantar oleh satu sipir sampai ke meja, lalu ditinggal mengobrol bebas. Tapi kali ini, seorang sipir bertubuh besar dengan tongkat pentungan di pinggang terus berdiri kaku tepat di belakang kursi Wahyu. Julian Helios memastikan lalat pun tidak bisa hinggap di telinga pria ini.
Kami duduk berhadapan di meja kayu panjang bernomor tujuh yang sudah penuh goresan. Suasana di aula ini sangat bising oleh obrolan puluhan orang.
"Siapa kamu?" tanya Wahyu dengan suara serak. Matanya menatapku penuh curiga, seolah aku adalah algojo kiriman.
Aku tak langsung menjawab. Mataku melirik ke arah jam dinding. Aku sedang menunggu bom waktu kecilku meledak. Aku butuh ruang untuk menyingkirkan sipir bertubuh gorila di belakang Wahyu ini.
Tiga... dua... satu...
"HEH!! INI APA?! HAH?!"
Sebuah bentakan keras nan menggelegar dari meja pemeriksaan ujung ruangan langsung membungkam aula.
Semua kepala refleks menoleh. Tampak seorang sipir senior sedang mencengkeram kerah baju seorang bapak-bapak pengunjung, sementara tangan sipir itu mengangkat tinggi-tinggi sebuah plastik klip kecil berisi bubuk putih.
Bingo.
"Komandan! Sini juga ada, Ndan!!" teriak sipir pemeriksa lainnya dari jalur pintu masuk, menggeledah saku jaket seorang pemuda dan menemukan plastik klip serupa.
Kepanikan seketika pecah. Penyelundupan narkoba di ruang besuk adalah pelanggaran kode merah. Sipir gorila di belakang Wahyu langsung mengumpat kasar, meninggalkan posisinya, dan berlari bergabung dengan rekan-rekannya untuk mengerubungi dua pengunjung malang itu. Adu mulut pun meledak di ujung aula.