[DAFFA]
JUMAT, 14.45 WIB
Jumat sore menjelang pukul tiga. Di dunia birokrasi, ini adalah "Waktu Buta" (Blind Spot). Di jam-jam segini, fokus dan kewaspadaan para abdi negara sudah menguap tak bersisa, digantikan oleh bayangan liburan akhir pekan, tiket kereta, dan kasur empuk di rumah.
Dan tepat di celah sempit itulah, aku akan menyelundupkan seorang tahanan titipan dari Lapas Cipinang.
Aku merapikan kerah kemeja putihku yang terasa mencekik. Jas hitam bekas wisuda terasa sedikit kebesaran di pundak, tapi cukup meyakinkan. Sebuah lanyard dengan logo Kejaksaan Agung (hasil cetak warna kualitas tinggi di warnet semalam) menggantung di leherku. Kacamata berbingkai kotak bertengger di hidungku, dan rambutku kutata klimis dengan pomade murahan hingga kaku. Di tangan kananku, sebuah tas kerja kulit imitasi melengkapi penyamaranku sebagai penyidik senior.
Di belakangku, berdiri dua pengawal dadakanku: Mas Bowo dan Ucup, teman satu kosanku.
Dengan tabunganku, aku menyewa sebuah mobil SUV hitam bertaca gelap yang kini terparkir di halaman lapas. Mas Bowo dan Ucup memakai kemeja batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang haknya berbunyi nyaring. Di dada mereka tersemat pin garuda emas.
Wajah mereka pucat pasi. Sedari tadi Ucup terus meremas tangannya yang berkeringat.
"Tegap, Cup. Muka lu jangan kayak maling ayam gitu," desisku tajam tanpa menoleh ke belakang.
"Daff... asli gue kencing di celana ini kalau ketahuan," bisik Ucup dengan bibir bergetar.
"Diam. Fokus. Ingat jatah rokok Dji Sam Soe gratis satu slop selama sebulan. Demi Olla," ancamku pelan. Mendengar nama Olla dan rokok, Mas Bowo langsung menyikut rusuk Ucup, memaksa anak itu membusungkan dada dan memasang wajah kaku. Mereka adalah fans berat Olla, sejak bertemu olla saat itu, mereka selalu menanyakan Olla. Ketika mereka mendengar kabar olla tertangkap dan aku ceritakan kenyataan bahwa Olla difitnah, mereka mau membantu.
Semalam suntuk, dengan mata perih, aku merancang ini. Aku membuat Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) dan Surat Permohonan Bon Tahanan palsu menggunakan template bocoran dokumen dari internet. Aku memalsukan kop surat Mabes Polri dan Kejaksaan Agung. Aku mencetak stempel timbul dan membuat tanda tangan basah yang tintanya masih menembus kertas. Secara psikologis, tanda tangan basah di atas kertas tebal tidak akan dicek secara forensik oleh petugas yang sudah kelelahan di Jumat sore.
Kami melangkah masuk ke lobi penjara. Hawa dingin AC langsung menyambut wajahku yang sebenarnya sudah basah oleh keringat dingin.
Dengan nada angkuh, aku menemui sipir di meja depan, menunjukkan sekilas lanyard-ku, dan meminta dipertemukan langsung dengan Kepala Lapas. Tiga menit kemudian, kami diizinkan masuk.
Ruangan Kalapas itu luas dan beraroma kopi pekat. Sang Kalapas, seorang pria paruh baya dengan perut membuncit, menatap kami dari balik kacamata bacanya.
"Saya butuh membawa tahanan bernama Wahyu Purnomo sekarang juga," kataku dengan suara bariton yang sengaja kutekan, menyodorkan map merah berisi dokumen palsu itu ke atas mejanya. "Untuk keperluan interogasi darurat kasus suap tertutup senilai dua triliun rupiah."
Kalapas itu menaikkan sebelah alisnya. Ia membuka map, lalu membaca dua surat itu dengan teliti.
Mataku mengawasi setiap gerakannya. Jantungku memompa darah begitu keras hingga telingaku berdenging. Kalau dia menyadari spasi margin yang salah di paragraf kedua, tamat riwayatku. Ucup di belakangku bahkan terdengar menahan napas.
"Pagi ini, tim kami baru saja melakukan Operasi Tangkap Tangan pada tersangka utamanya," aku melanjutkan serangan psikologis, suaraku terdengar dingin dan tanpa ampun. "Tapi kami membutuhkan kesaksian Wahyu untuk membedah rute aliran dananya sebelum bursa saham tutup jam empat nanti. Kalau telat, aset dua triliun itu akan keburu dilarikan ke rekening luar negeri."
Kalapas mengangguk pelan, matanya masih meneliti tanda tangan di kertas itu.
"Sebentar," ucap sang Kalapas. Ia meletakkan dokumen itu, lalu tangannya bergerak meraih gagang telepon kabel di mejanya. "Prosedurnya, saya harus melakukan konfirmasi ke Direktur Penindakan di Kejaksaan dulu."
Deg. Disini titik pertaruhannya.
Ia mengangkat gagang telepon dan mulai memutar nomor ekstensi Kejaksaan Agung.
Darah di tubuhku rasanya anjlok ke telapak kaki. Logikaku berteriak: Jam segini, di hari Jumat, pejabat eselon di sana seharusnya sudah berkemas pulang atau sedang rapat akhir pekan, buru-buru menyelesaikan sesuatu agar tidak lembur. Peluang telepon itu diangkat sangat kecil. Tapi... jika takdir sedang sial dan ada satu staf magang rajin yang mengangkatnya... habislah aku. Aku, Ucup, dan Mas Bowo akan tidur di balik jeruji besi malam ini juga.
Tuuuut... Tuuuut...
Suara nada panggil dari speaker telepon itu menggema di ruangan yang sunyi. Detik demi detik berguguran seperti serpihan kaca. Keringat dingin merembes dari ketiakku, menodai kemeja putih di balik jasku. Aku mempertahankan raut wajah datarku mati-matian. Tanganku di bawah meja mengepal kuat hingga kuku menusuk telapak.
Tuuuut... Tuuuut...
Satu menit berlalu. Telepon itu terus berdering tanpa jawaban.
Kalapas mengerutkan kening, menjauhkan gagang telepon dari telinganya. "Sepertinya tidak ada yang angkat di kantor pusat. Begini saja, saya panggil orang saya untuk pergi mengonfirmasi langsung ke Mabes dan..."
"Silakan," potongku cepat.
Aku memajukan tubuhku, menumpukan kedua tanganku di atas mejanya. Aku menatap lurus ke kedalaman pupil mata Kalapas itu dengan tatapan predator yang mematikan. Suaraku mendesis rendah, sedingin es.
"Silakan Bapak kirim orang untuk konfirmasi," desisku. "Tapi ingat baik-baik, Pak. Kalau pengeluaran narapidana kunci ini tertunda satu jam saja, lalu operasi dua triliun ini bocor dan uangnya menguap... nama Bapak akan saya masukkan ke dalam Berita Acara Perkara hari ini juga."
Kalapas itu terdiam. Mulutnya sedikit terbuka.
"Akan saya tulis bahwa Bapak adalah pihak yang sengaja menghalang-halangi penyidikan aset negara," ancamku tanpa berkedip. "Apakah Bapak mau mempertaruhkan dana pensiun dan masa tua Bapak murni demi melindungi aset para koruptor ini? Saya butuh orangnya. Sekarang."
Keheningan yang mencekik menyelimuti ruangan.
Mataku tak lepas dari lehernya. Kulihat jakun Kalapas itu bergerak naik turun dengan susah payah. Ia menelan ludah. Ancaman kehilangan pensiun adalah senjata pemusnah massal bagi seorang birokrat.
Dengan gerakan kaku, Kalapas itu meletakkan gagang teleponnya kembali ke tempatnya. Ia mengambil pulpen hitam, membubuhkan tanda tangannya di atas surat pelepasan sementaraku, lalu menstempelnya.
Aku baru saja memenangkan permainan rolet rusia.
Lima belas menit kemudian, pintu besi berlapis di aula depan terbuka dengan bunyi gesekan logam yang memekakkan telinga.
Wahyu Purnomo keluar. Ia mengenakan baju bebas yang lusuh, dengan kedua tangan terkunci borgol. Wajahnya campuran antara bingung, syok, dan ketakutan. Saat matanya bertubrukan dengan mataku, ia nyaris terhuyung. Ia tak menyangka aku benar-benar datang menebus kata-kataku.
"Bawa tersangkanya ke mobil," perintahku tegas pada Ucup dan Mas Bowo.
Dua teman kosanku yang badannya masih kaku seperti kanebo kering itu langsung memegang lengan kiri dan kanan Wahyu, menuntunnya keluar dari pintu utama. Aku berjalan di belakang mereka dengan langkah tegap, menahan hasrat untuk lari sekencang mungkin.
Terik matahari sore Jakarta langsung membakar wajahku begitu kami keluar dari gedung. Kami masuk ke dalam SUV. Mesin kunyalakan. Aku memegang kemudi, Ucup di sebelahku, sementara Mas Bowo dan Wahyu duduk di kursi belakang.
Begitu mobil melaju melewati gerbang lapas dan berbaur dengan kemacetan jalan raya...