SENIN, 06.00 WIB
Kabut tipis dan udara dingin sisa embun pagi masih menyelimuti kawasan BSD. Aku sudah memarkir mobil SUV sewaan ini tepat di depan pagar rumah Wahyu sejak setengah jam yang lalu, membiarkan mesin dan AC-nya menyala.
Dari balik kaca film yang gelap, mataku menatap datar pemandangan di teras rumah. Wahyu sedang memeluk erat istri dan anaknya. Pria itu menangis tersedu-sedu, menciumi puncak kepala anaknya berulang kali seolah ingin merekam aroma bayinya untuk bekal bertahan hidup. Sebuah perpisahan yang sangat menguras emosi.
Tak berapa lama, Wahyu berjalan gontai keluar gerbang. Ia membuka pintu penumpang di sebelahku dan menghempaskan tubuhnya ke jok kulit mobil. Aroma bedak bayi dan air mata menguar memenuhi kabin mobil.
Ia memutar kaca jendela ke bawah, melambaikan tangan dengan tangan bergetar ke arah istri dan anaknya yang menangis di teras.
Aku memutar setir, membawa mobil ini melaju perlahan meninggalkan kompleks perumahan.
"Bagaimana?" tanyaku memecah keheningan, mataku fokus ke jalanan raya yang mulai dipadati kendaraan komuter.
"Sangat membahagiakan, Daf... hiks..." Wahyu menyeka ingusnya dengan punggung tangan. "Terima kasih banyak, Daf. Akhirnya aku bisa berkumpul dengan istri dan anakku yang baru kulihat wajahnya. Aku... aku tidak tahu apakah aku masih bisa bertemu lagi dengan mereka atau tidak setelah ini. Sisa hukumanku masih di atas tujuh tahun lagi, Daf. Apa... apa aku sanggup menunggunya?"
Aku meliriknya sekilas. Hah? Padahal yang kumaksud dengan 'bagaimana' itu adalah: 'bagaimana datanya, sudah kau siapkan belum?', bukan memintanya untuk curhat sesi konseling pernikahan!
"Oh... begitu ya... hehe," balasku, tersenyum kaku karena sama sekali tidak tahu cara merespons tangisan pria dewasa.
Hening sesaat mengambil alih kabin. Hanya terdengar suara dengusan napas Wahyu yang berusaha menenangkan dirinya. Setelah laju napasnya stabil, ia merogoh saku jaketnya.
Wahyu mengeluarkan sebuah benda kotak pipih berwarna hitam berbahan aluminium. Sebuah Solid State Drive (SSD) portabel.
"Ini..." Wahyu menyodorkan benda dingin itu padaku. "Semua data mentahnya ada di sini. Transfer-transferan anomali ke Yayasan Amal milik Julian Helios, semua data mark-up untuk kegiatan sosial bodong... semuanya lengkap di sini."
Tanganku terulur menerima SSD itu, benda sekecil ini terasa sangat berat oleh nyawa manusia.
"Data ini adalah bukti absolut yang ingin dimusnahkan oleh Julian," lanjut Wahyu, menatap jalanan di depan. "Karena data ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa seluruh image dermawan dan kegiatan amalnya selama ini hanyalah mesin cuci raksasa untuk uang haramnya."
"Baiklah. Terima kasih," kataku, mengantongi SSD itu ke saku celanaku.
"Daffa..."
"Ya?"
"Berhati-hatilah. Julian sangat berbahaya dan dia punya insting predator," peringat Wahyu dengan nada suram. "Kamu harus memikirkan rencanamu berulang-ulang jika ingin menjatuhkannya. Dataku saja tak cukup. Tapi... ada satu celah informasi mengenai kartel yang mungkin bisa kamu telusuri."
"Informasi kartel?" Aku langsung menajamkan pendengaran.