INERSIA

cahyo laras
Chapter #74

Infiltrasi Paling Berbahaya

SENIN, 09.00


Tiba-tiba, ponsel di mejaku bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp dari Linda masuk.

Linda: Mas Daffa, cek portal berita sekarang.

Perasaanku langsung tidak enak. Aku segera membuka tab baru di browser dan mengetik nama Olla.

Deg.

Mataku membelalak membaca tajuk utama berita hari ini.

“Kejaksaan Kebut Berkas Kasus Influencer Judol, Siap Disidangkan dalam 10 Hari.”

Sepuluh hari?! Napasku tertahan. Sialan. Otakku langsung mengkalkulasi skenario terburuk. Julian Helios sengaja menggunakan koneksi kekuasaannya untuk memotong jalur birokrasi. Ia mengebut proses persidangan agar Olla dan tersangka lainnya segera divonis sebelum ada yang sempat menyelidiki dalang sebenarnya. Jika palu hakim sudah diketuk, Olla akan tamat.

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal dengan kasar. Brengseeeek! SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) harus keluar sebelum sepuluh hari itu habis. Tapi masalahnya, aku belum tahu bagaimana cara mengalahkan Julian. Aku belum tahu siapa bos kartel yang berkomunikasi dengannya. Dan andai pun aku sudah memegang laptopnya, aku belum tentu tahu langkah apa yang harus kuambil.

Tidak ada waktu untuk bingung. Logika melarang, tapi adrenalin memaksaku bergerak.

Aku menyambar kunci motor Supra-ku, meninggalkan tumpukan laporan di meja, dan melaju membelah panasnya aspal Jakarta menuju gedung agensi SETAN.


Dari seberang jalan, di bawah rindangnya pohon depan sebuah minimarket, aku mengawasi gedung megah berlantai empat itu.

Kacanya gelap. Di depan gerbang ada pos sekuriti. Di lobi utama ada metal detector dan penjagaan ketat. Di dalam sana, puluhan influencer sedang bekerja, melakukan Live TikTok atau Shopee untuk mencetak uang.

Mau tidak mau, aku harus masuk dari pintu depan. Sesuai informasi Wahyu, keamanan gedung ini sangat berlapis.

Seharian penuh aku mengawasinya dari luar seperti orang kurang kerjaan. Aku melakukan cross-check melalui media sosial. Aku memantau Instagram Story para influencer yang tag lokasi di gedung ini, melihat latar belakang video mereka, dan memetakan denah gedung secara digital di kepalaku.

Lantai 1: Lobi, resepsionis, dan sekuriti pintu otomatis.

Lantai 2: Area staf admin dan karyawan korporat.

Lantai 3: Area studio produksi konten. Super sibuk dan bising.

Lantai 4: Area steril. Hanya ada ruang CEO milik Julian di sudut lorong, dijaga oleh dua sekuriti khusus.

Malam harinya, aku mengeksekusi persiapan gilaku. Lewat e-commerce, aku memesan rompi taktis hitam, badge Velcro bertuliskan POLRI, dan logo tim penjinak bom (Gegana) kualitas suvenir. Aku membeli helm proyek murah lalu menyemprotnya dengan piloks hitam doff di teras kosan. Bau menyengat cat semprot memenuhi udara. Terakhir, aku membeli sebuah burner phone (ponsel sekali pakai) seharga dua ratus ribu.

Lusa aku akan melakukannya. Ini murni aksi bunuh diri bagi seorang staf akunting. Tapi aku sudah tak punya kemewahan bernama waktu.


FASE 1: KUDA TROYA, RABU Pukul 14.00 WIB

Terik matahari membakar punggungku yang terbalut jaket hijau khas kurir paket. Aku memakai topi yang ditarik rendah dan masker kain biru yang menutupi separuh wajah. Tanganku memeluk sebuah kardus paket berukuran sedang.

Aku melangkah masuk ke lobi. Udara dingin AC langsung menabrak tubuhku yang berkeringat.

"Permisi, Mas. Paketnya taruh di meja penitipan situ saja. Untuk siapa?" cegat seorang sekuriti bertubuh tegap, menahan dadaku dengan lengannya.

Aku tidak menatap matanya. Aku menyodorkan kardus itu, menunjuk resi yang sudah kucetak dengan font meyakinkan.

"Untuk Mbak Resepsionis di Lantai 3, Pak," kataku dengan suara sengau yang kubuat-buat. "Di catatan (notes)-nya wajib diantar langsung sebelum jam tiga sore. Saya takut dapet rating bintang satu, Pak. Akun saya bisa di-suspend."

Sekuriti itu mendecak malas melihat resi itu. "Tinggal di sini aja. Nanti saya yang bawa ke atas. Aman."

"Baik, Pak. Terima kasih," aku menunduk hormat. "Maaf, Pak, numpang toilet sebentar di mana ya?"

"Sana. Lewat meja resepsionis, lorong kanan."

Lihat selengkapnya