RABU, 16.00 WIB
Aku tidak langsung kembali ke kosan. Dengan ransel yang terasa seberat bongkahan timah di punggungku, aku memacu motorku menuju sebuah kafe franchise yang cukup ramai di pinggiran kota.
Aku mengambil tempat duduk di sudut paling gelap, memunggungi jendela kaca. Aku memesan es kopi susu termurah, lalu mengeluarkan laptop silver berbalut stiker murahan milik Julian Helios.
Tanganku sedikit berkeringat saat membuka layarnya.
Sesuai kata Wahyu, tidak ada password. Julian terlalu arogan. Aku membuka browser, memeriksa history, dan membuka alamat e-mail-nya. Benar saja, dia tidak menggunakan hosting kacangan seperti Gmail atau Yahoo. Jejak digitalnya mengarahkanku pada sebuah website dengan domain acak di Dark Web untuk mengakses server e-mail khusus berenkripsi militer.
Aku membaca untaian pesan di dalamnya. Mataku membelalak lebar. Jantungku memompa darah dengan cepat.
Semuanya ada di sini. Instruksi logistik, koordinasi rekening virtual, hingga alamat IP server markas judi online itu berada. Dana raksasa dari kartel judol internasional dikirimkan ke rekening-rekening penampung anonim di Indonesia. Dari rekening kotor itulah, uang tersebut disuntikkan ke Yayasan Amal milik Julian dan puluhan usaha bodongnya untuk dicuci menjadi uang bersih.
Bingo. Keterlibatan langsung Julian dengan kartel judol terbukti tanpa bantahan.
Aku segera menyambungkan flashdisk SSD milik Wahyu. Aku menarik data pembukuan pencucian uang itu dan meletakkannya berdampingan dengan e-mail Julian.
Klik. Semua kepingan puzzle menyatu dengan presisi yang mengerikan.
Tugas Julian di Indonesia bukan sekadar mencuci uang. Ia adalah tamengnya. Ia menggunakan posisinya sebagai Staf Khusus dan tokoh dermawan untuk mempromosikan aplikasi judol secara masif, sekaligus memberikan suap 'uang keamanan' kepada para jenderal, petinggi kepolisian, dan pejabat siber agar aplikasi-aplikasi itu tidak diblokir oleh kementerian.
Inilah alasan absolut mengapa Julian Helios sama sekali tak tersentuh hukum. Karena hukum sedang duduk manis di pangkuannya sambil menghitung uang suap.
Namun, Julian terlalu cerdas untuk mempromosikan aplikasi ilegal itu menggunakan wajahnya sendiri. Dia juga tak mungkin menggunakan wajah AI random yang kurang engagement. Maka, agensinya mencari tumbal. Mereka menargetkan influencer-influencer level menengah yang tidak terlalu sering masuk TV, tapi memiliki jutaan pengikut loyal.
Dan kenapa mayoritas 30 influencer yang ditangkap itu adalah perempuan? Otak analitisku menemukan jawabannya: Psikologi massa. Influencer perempuan memiliki demografi mayoritas pengikut laki-laki parasosial, target pasar paling empuk dan paling mudah dihisap dompetnya oleh ilusi judi online.
Olla adalah salah satu korban sempurna dari algoritma iblis ini.
Brengsek kau, Julian. Umpatku dalam hati. Gigiku gemeretak menahan amarah.
Dengan menggunakan laptop Julian, aku segera membuat draf pelaporan super lengkap. Ku- compile bukti e-mail, mutasi rekening, skema pencucian uang Yayasan, hingga nama-nama petinggi negara yang menerima aliran dana itu. Kutujukan e-mail itu ke portal aduan resmi Mabes Polri, Kejaksaan Agung, hingga lembaga whistleblower independen.
Kursorku melayang tepat di atas tombol 'Send'.
Satu klik, dan seluruh kekaisaran Julian Helios akan runtuh. Aku bersiap mengklik tombol itu.
Namun... tiba-tiba insting bertahan hidupku menjerit keras.
Tangan kananku membeku di atas tombol klik di touchpad
Tunggu dulu, Daffa. Jangan bodoh! Wajah tirus Wahyu Purnomo di balik jeruji besi Cipinang berkelebat di kepalaku. Wahyu ditangkap, divonis 10 tahun, dan hidupnya dihancurkan bukan karena dia melakukan kejahatan. Dia difitnah tepat setelah memberikan bukti terang benderang pada polisi!
Jika daftar penerima suap Julian mencakup jenderal polisi dan pejabat siber, melapor ke sistem mereka sama saja dengan menyerahkan leherku ke tiang gantungan. Jika aku mengirimnya dari kafe ini, menggunakan Wi-Fi ini, wajahku pasti sudah terekam CCTV. Mereka akan melacak IP address, mencocokkan rekaman kamera, dan aku akan lenyap sebelum besok pagi.