RABU, 19.30 WIB
Aku melamun menatap kosong ke arah deretan mesin dispenser bensin.
Otakku yang biasanya dipenuhi oleh probabilitas dan matriks jalan keluar, kini benar-benar kosong. Layar di kepalaku menampilkan tulisan Game Over berulang kali. Aku kehabisan akal. Aku sudah kalah.
Dengan tenaga yang tersisa, aku menaiki motor Supra-ku. Laju kendaraanku tak lagi sekencang tadi. Aku meluncur pelan menuju pabrik katering Linda, aku harus memberitahu dia fakta sebenarnya.
Sesampainya di sana, suasana pabrik sudah berjalan dengan sistem yang sangat baik. Hiruk-pikuk masih terasa. Ketika aku melangkah masuk ke area loading dock, kulihat dari kejauhan Linda sedang mengecek packing para pekerjanya. Papan clipboard tak lepas dari tangannya.
Ia menoleh. Matanya menangkap sosokku yang berjalan masuk dengan bahu turun dan langkah yang terseret lemas.
Seketika, raut wajah Linda berubah. Ia melempar clipboard-nya ke atas tumpukan kardus, lalu berlari setengah tergopoh-gopoh menghampiriku.
"Bagaimana, Mas?" tanya Linda, napasnya memburu, suaranya bergetar mempertanyakan nasib kakak satu-satunya itu.
"Lin..." panggilku parau. Aku tak sanggup menatap matanya. "Sini."
Aku tidak menarik tangannya. Aku hanya memberikan isyarat lemas dengan kepalaku agar ia mengikutiku keluar ke area gang samping pabrik yang sepi dan remang, jauh dari keramaian pekerja.
"Ada apa, Mas? Gimana dengan Mbak Olla? Mas Daffa berhasil nemuin jalan keluarnya kan?" tanya Linda bertubi-tubi, matanya memancarkan secercah harapan yang membuat hatiku semakin hancur.
Aku menarik napas panjang. Udara malam terasa seperti silet di tenggorokanku. Dengan dada yang sesak dan suara yang putus-putus, aku menceritakan semuanya. Segala hal gila yang sudah aku lakukan sejauh ini. Penyusupan ke penjara, pencurian laptop di agensi, penemuan data pencucian uang, hingga operasi senyap aparat negara di restoran tadi.