KAMIS, 08.00 WIB (6 Hari Menjelang Olla Masuk Persidangan)
Aku menyeret kakiku memasuki ruang divisi akunting seperti zombi. Kondisiku sangat mengenaskan. Wajahku pucat pasi, mataku bengkak dengan lingkaran hitam tebal di bawahnya, dan kemejaku bahkan tidak kusetrika.
Saat aku berjalan melewati kubikel, Via sempat menyapaku dengan senyum lembutnya. Namun, aku hanya membalasnya dengan gumaman lemas tanpa menoleh. Hari ini, aku bahkan tak punya sisa tenaga untuk pergi ke pantri dan menyeduh kopi saset suciku.
Baru saja pantatku menyentuh kursi, suara berat dari arah pintu memecah keheningan divisi.
"DAFFA!!! Ke ruangan saya, sekarang!!"
Aku bangkit dengan lunglai, berjalan menuju ruangan kaca ber-AC dingin milik Manajer Divisi.
Begitu pintu tertutup, Pak Brata langsung menggebrak meja kayunya.
"Jatah cuti tahunanmu udah habis, Daffa! Lalu kemarin kamu enak-enakan tidak masuk tanpa keterangan apa pun?!" bentak Pak Brata, suaranya menggema di ruangan sempit itu. Ia melempar sebuah amplop putih berlogo perusahaan ke arah wajahku. Amplop itu melayang jatuh ke lantai.
"Ini Surat Peringatan Ketiga (SP3) langsung dari HRD! Sekali lagi kamu berani bolos tanpa izin atau bikin ulah, kamu akan langsung dipecat hari itu juga, tanpa pesangon!!" teriaknya murka.
Kata-kata kasarnya menabrak gendang telingaku, tapi kepalaku sangat kosong. Aku hanya membungkuk, memungut surat SP3 itu, lalu berjalan keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku kembali duduk di kursiku, meletakkan surat ancaman pemecatan itu di meja, lalu menidurkan kepalaku di atas lipatan tanganku sendiri. Dinginnya meja formika tak mampu menenangkan otakku yang terbakar.
"Mas... Mas Daffa... ga apa-apa kan?" suara Via terdengar cemas dari sebelahku.
Aku tak menjawab. Pertanyaan yang sangat retoris. Sudah jelas-jelas penampilanku seperti gembel yang baru digebuki preman, masih saja ditanya 'ga apa-apa kan?'.
Tiba-tiba, suara langkah kaki sepatu hak tinggi (heels) terdengar mendekat. Bukan langkah Via.
"INI!!!"
Bruk! Desi membanting dua ordner tebal berisi ratusan lembar invoice dan laporan pajak tepat di sebelah telingaku. Suaranya mengejutkanku.
Aku menegakkan punggungku, menatap tumpukan kertas itu dengan mata sayu.
"Kamu tuh udah lama ga masuk, bolos seenaknya! Ini selesaikan semua hari ini juga! Bikin ribet temen divisi aja tau nggak sih kerjaanmu dilempar ke kita terus!" repet Desi ketus sambil melipat tangan di dada, lalu memutar tubuh berbalik pergi dengan angkuh.
Aku menelan ludah pahit. Dasar rekan jahanam biang gosip. Sudah gagal menyelamatkan Olla, dikejar aparat, kena SP3 ancaman pecat, sekarang malah disiksa dengan tumpukan kerjaan divisi yang bukan porsiku. Lengkap sudah penderitaan jongos ketik ini.
"Ma... Mas..." Via menatapku iba. "Nanti laporan yang merah itu aku yang bantuin rekap ya. Mas Daffa kerjain yang gampang-gampang aja, biar bisa agak santai."
Aku menoleh menatap Via. Rasa haru sedikit menyelinap. "I... iya. Makasih ya, Via," balasku pelan. Di seluruh gedung ini, sepertinya memang hanya Via yang mengasihaniku.
Hari itu, aku menjalani profesiku murni menggunakan sisa insting bertahan hidup. Aku mengetik angka-angka di Excel dengan lemas dan kepala berdengung. Sesekali aku berhenti menggerakkan mouse dan melamun menatap cursor yang berkedip di layar, membayangkan Olla sedang duduk meringkuk di sel tahanan yang dingin.
Waktu istirahat siang tiba. Aku tak makan siang. Aku tak punya selera makan, dan bodohnya aku lupa mengecek dompet atau membawa bekal. Aku hanya duduk diam di kubikelku, menemani Via makan bekal nasinya. Ia sempat menyodorkan separuh lauknya untukku, tapi aku menolaknya halus. Mulutku terasa pahit. Tidak ada makanan yang bisa kutelan dalam kondisi mental remuk seperti ini.
Sore harinya, tepat seperti probabilitas awal: tumpukan pekerjaan tambahan dari Desi belum selesai kukerjakan.
Aku harus lembur. Di saat staf lain sudah pulang teng-go pukul lima, aku masih terjebak di kubikel.
Jam dinding divisi menunjukkan pukul 19.00 WIB. Via belum pulang. Gadis itu masih duduk di kubikelnya, sesekali memindahkan kertas dan mengetik angka untuk membantuku menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk. Keheningan ruangan hanya diisi oleh suara klik mouse kami berdua.
Pukul 20.00 WIB, lembar terakhir laporan akhirnya tercetak dari printer. Pekerjaanku benar-benar selesai. Secara logika, pekerjaan sebanyak ini sebenarnya bisa kuselesaikan sendiri tanpa lembur jika saja kondisi mentalku prima.
Aku meregangkan otot bahuku yang kaku.
"Mas, udah selesai nih semuanya," kata Via lembut, merapikan mejanya. Ia menatapku sejenak. "Cari angin dulu yuk, Mas? Buat nenangin pikiran Mas Daffa sebentar sebelum pulang."
"Hah? Cari angin ke mana kita malam-malam begini?" tanyaku lelah.
"Ke rooftop gedung?" ajak Via sambil mengulas senyum manis.
Aku menghela napas pasrah. Ya udahlah. Lagipula aku juga sedang malas balik ke kamar kos yang pengap itu. Siapa tahu angin di lantai paling atas bisa mendinginkan mesin kepalaku yang overheat.
Aku dan Via berjalan berdampingan keluar dari ruangan divisi yang sunyi. Kami menaiki lift hingga ke lantai teratas, lalu mendorong pintu besi tangga darurat dan menaiki anak tangga terakhir.
Kami mendorong pintu akses atap. Kami tiba di rooftop gedung.
Hamparan luas lantai beton menyambut kami. Angin malam Jakarta yang membawa aroma aspal, debu kota, dan sedikit kesejukan langsung berhembus kencang menerpa wajahku. Kami berjalan pelan menuju pagar pembatas di ujung rooftop.
"Aaaaahh... akhirnya bisa menghirup udara bebas tanpa AC!" seru Via girang, merentangkan kedua tangannya menghadap lautan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit di hadapan kami.
Aku hanya berdiri diam bersandar di pagar beton, menengadah menatap langit malam Jakarta yang pekat. Bintangnya hanya terlihat satu-dua titik redup karena kalah oleh polusi cahaya kota. Gelap. Gelap seperti jalan buntu yang sedang kuhadapi.