INERSIA

cahyo laras
Chapter #78

Membobol Server

JUMAT, 05.00 WIB

Subuh di pinggiran Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis bercampur asap polusi masih menggantung rendah di udara.

Semalam, setelah pulang dengan status nyaris dipecat dari kantor, aku kembali mengunci diri di kosan dan membongkar ulang isi e-mail di laptop Julian Helios. Di tengah keputusasaan itu, otakku menangkap satu detail fatal yang terlewatkan.

Kartel judi online internasional tidak mungkin mengoperasikan semuanya dari luar negeri. Mereka pasti memiliki server bayangan (proxy server) fisik yang disembunyikan di Indonesia untuk mempercepat jalur lalu lintas transaksi payment gateway lokal. Dan dari sekian banyak surel terenkripsi Julian, ada satu yang mengisyaratkan koordinat kasarnya: sebuah ruko di tengah kompleks pertokoan ini.

Surel itu tidak memberikan nomor blok yang spesifik. Tapi, bagi mata seorang akuntan yang terbiasa menghitung efisiensi beban listrik, anomali itu terlihat sangat jelas.

Pagi-pagi buta aku sudah berdiri di seberang jalan, mengawasi deretan ruko tiga lantai yang catnya mulai mengelupas. Di antara belasan ruko yang gelap dan mati, hanya ada satu ruko yang meteran listriknya berputar gila-gilaan, dengan empat unit kompresor AC (Outdoor) raksasa yang mendengung berisik tanpa henti. Tidak ada bisnis normal yang membutuhkan pendingin skala industri di jam lima pagi. Aku harus memastikannya.

Aku mengenakan masker medis, jaket hitam tebal, dan celana jeans. Aku mengendap-endap menyeberang jalan, menyusuri gang sempit di samping ruko tersebut.

Bau pesing dan sampah sisa makanan langsung menyengat hidungku. Aku mendongak. Kompresor AC itu dipasang cukup tinggi di dinding bata.

Aku menumpuk dua buah peti kayu bekas buah dan sebuah pot tanaman semen yang berat. Dengan napas tersengal dan otot lengan yang gemetar, karena aku sama sekali tidak terbiasa olahraga, aku memanjat naik. Tanganku yang tak memakai sarung tangan tergores dinding semen yang kasar.

Aku mengeluarkan tang potong dari sakuku. Aku tidak merusaknya secara permanen. Aku hanya memotong rapi kabel thermostat pengatur suhunya. Satu... dua... tiga AC mati. Hanya tersisa satu yang menyala. Dipastikan suhu di dalam ruang server mereka akan melonjak drastis dalam hitungan menit.

Aku melompat turun, mendarat dengan suara berdebum pelan.

Kini, waktunya berganti kulit. Aku berlari kecil ke balik tembok terdekat. Aku melepas jaketku, lalu dengan cepat memakai baju koko, mengenakan sarung kotak-kotak melingkari celana jeans-ku, dan memakai peci hitam di kepala. Aku meraup sedikit debu dari dinding dan mengusapkannya ke wajahku yang berkeringat. Dalam satu menit, penampilanku berubah total menjadi 'Mas Daffa si warga lokal yang baru pulang salat Subuh di masjid'.

Aku bersembunyi di balik tiang listrik, menanti. Mereka pasti butuh teknisi cepat sebelum mesin pencetak uang mereka overheat.

Tak sampai sepuluh menit, pintu besi ruko sebelah samping ditarik terbuka dari dalam. Tiga orang pria berbadan gempal, berjaket kulit kusam, dan bermata merah kurang tidur keluar dengan wajah panik. Mereka menyorotkan senter ke arah kompresor AC.

"Brengsek! Mati kompresornya, Bos!" umpat salah satu dari mereka sambil menendang dinding.

Aku menarik napas panjang. Showtime.

Aku berjalan santai keluar dari persembunyianku, menyeret sandal jepitku hingga berbunyi srek-srek, lalu berhenti di dekat mereka sambil memicingkan mata.

"Ada apa, Bang? Pagi-pagi udah ribut-ribut?" tanyaku dengan logat nyeleneh dan wajah senaif mungkin.

Ketiga preman itu menoleh serentak. Tatapan mereka tajam menyelidik.

"Ini... AC kita mendadak mati, Mas," jawab salah satu yang paling tua, nada suaranya ketus.

"Wah, kebetulan banget. Saya biasa servis sama cuci AC panggilan, Bang. Rumah saya di gang belakang situ," aku menunjuk asal ke arah permukiman padat di belakang ruko. "Mau saya bantu cek sekarang?"

Preman itu saling pandang. "Bi... bisa sekarang, Mas?"

"Bisa aja. Asal ada jatah uang rokok sama kopi pait mah, saya gas aja sekarang, Bang," kataku sambil menggosok ibu jari dan telunjuk, memberikan kesan mata duitan kelas teri.

Menunggu teknisi resmi di jam lima pagi adalah hal mustahil. Warga lokal pencari uang rokok adalah solusi tercepat bagi mereka, karena server judol bernilai miliaran rupiah itu tak boleh mati sedetik pun.

"Oke! Kebetulan banget. Mas punya alatnya?"

"Ada di rumah. Saya pulang bentar ambil tas perkakas deh, Bang. Ga sampai lima menit!" kataku.

"Oke, Bang. Kami tunggu di sini. Tolong cepet ya, urgen nih!"

Aku berbalik dan berlari kecil masuk ke gang. Setelah yakin tak terlihat, aku merobek sarung dan membuang peciku. Aku mengganti baju koko tadi dengan kaus kutang dan kemeja flannel lusuh yang kancingnya kubiarkan terbuka, memamerkan kaus dalamku. Celana jeans-ku kugulung ke atas, lalu aku mengambil kotak perkakas besi yang sudah kusembunyikan di balik semak-semak.

Dan yang paling penting: aku meraba saku celanaku. Sebuah flashdisk besi berukuran mini ada di sana. Semalaman aku menggunakan tabunganku lagi murni untuk membeli software malware gelap di komunitas Cyber Security. Sebuah skrip autorun pencuri data kelas militer yang kutanam di dalam flashdisk ini. Begitu dicolokkan, ia akan menyedot data log transaksi tanpa perlu password.

Aku berjalan kembali ke ruko dengan napas ngos-ngosan buatan, menenteng kotak perkakas yang bergemerincing.

"Ma... masuk, Bang. Langsung aja," perintah preman itu, membukakan pintu lapis kedua.

Begitu melangkah masuk, aku disuguhi pemandangan gila. Dari luar, ruko ini tampak mati seperti gudang kosong. Namun di dalam, lantai dasar dipenuhi barisan meja komputer ber-PC gaming. Puluhan anak muda dengan mata panda dan botol minuman energi berserakan sedang sibuk mengetik, membalas chat member VIP judi online. Udara di dalam ruangan ini pengap, bau keringat asam bercampur asap rokok tebal.

"Ke belakang, Bang."

Aku digiring masuk ke sebuah ruangan berlapis peredam suara di bagian belakang. Begitu pintu dibuka, hawa panas langsung menampar wajahku.

Ruangan server. Tiga rak lemari hitam besar berdiri berdampingan, dipenuhi lampu LED hijau dan biru yang berkedip gila-gilaan. Mesin-mesin itu mengeluarkan suara dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga sakit. Pendingin ruangan benar-benar mati, membuat suhu ruangan ini nyaris menyentuh 35 derajat Celcius.

Dua orang preman berjaket kulit tadi mengawalku ke dalam.

"Bang, bisa ambilin meja kayu itu?" pintaku sambil mengelap keringat di dahi. Sebenarnya aku bisa saja memanjat langsung untuk pura-pura mengecek AC di atas pintu, tapi aku butuh memecah konsentrasi mereka.

Lihat selengkapnya