INERSIA

cahyo laras
Chapter #79

Persiapan Senjata Untuk Pertarungan Besar

JUMAT, 09.00 WIB (5 Hari Menjelang Olla Masuk Persidangan)

Matahari pagi sudah bersinar terik, menembus celah gorden kamar kosanku yang berdebu. Tubuhku bau keringat asam, sisa-sisa ketegangan tadi masih menempel di kulitku. Tapi mataku terbuka lebar. Rasa kantukku menguap tak bersisa.

Begitu mengunci pintu, aku langsung membanting pantatku ke lantai, memangku laptopku, dan menancapkan flashdisk besi yang baru saja kucabut dari server tadi

Loading.

Layar berkedip memunculkan ribuan baris data dalam format Comma Separated Values (CSV).

Bingo... Yeaah!

Aku mengepalkan tangan kananku, memukul udara kosong dengan luapan kemenangan. Data log transaksi payment gateway ini sangat telanjang! Aliran dana deposit dari jutaan pemain judol receh di Indonesia terekam rapi, terkumpul di satu pool rekening penampung raksasa, lalu dieksekusi secara otomatis (auto-sweep) menuju belasan rekening offshore anonim di luar negeri milik sang Kartel.

Aku tersenyum asimetris.

Tentu saja, aku tidak akan sebodoh itu membungkus data ini dengan pita merah lalu menyerahkannya ke instansi resmi pemerintah. Menyerahkan ini ke kejaksaan atau kepolisian sama saja dengan bunuh diri. Aku tak bisa mengharapkan hukum negara ini untuk menghancurkan Julian Helios. Hukum adalah anjing peliharaannya.

Tapi... aku bisa menggunakan hal lain untuk mencabik-cabiknya.

Aku akan meminjam tangan Kartel untuk menghancurkan Julian. Di dunia mafia yang memuja uang dan kekuasaan, pengkhianatan adalah dosa tak terampuni yang hukumannya murni eksekusi mati.

Tangan kananku meraih mouse. Aku membuka tab baru di browser, mulai melakukan profiling intelijen sumber terbuka (OSINT) pada akun media sosial Julian dan keluarganya. Aku mencari data afiliasi politiknya, nomor rekening yayasannya, struktur kepengurusan partainya, hingga daftar kolega jenderal yang sering ia traktir di restoran mewah. Aku mencatat semuanya dalam sebuah notepad.

Tiba-tiba... Bzzzt! Bzzzt!

Ponselku yang tergeletak di atas kasur bergetar keras, memecah kesunyian kamar.

Sebuah pesan WhatsApp masuk. Dari Linda.

Lihat selengkapnya