SENIN, 13.00 WIB (3 Hari Sebelum Olla Masuk Persidangan)
Siang bolong di pusat bisnis Jakarta. Aku berdiri di depan kaca toilet sebuah pom bensin, menatap pantulan diriku yang menyedihkan.
Aku memakai seragam biru kurir kucel yang sudah kulecekkan, wig rambut kribo palsu bertekstur kasar, kacamata plastik berbingkai tebal, dan jenggot halus tempelan. Aku juga sengaja mengusapkan sedikit debu dan arang ke pipiku agar wajahku terlihat kusam dan dekil. Di punggungku, ada ransel ransel butut.
Hari ini adalah hari Senin. Tiga hari lagi, sesuai ketetapan kejaksaan yang mengebut proses, Olla akan diarak ke meja hijau.
Satu jam lagi, setelah makan siang eksklusif dengan para menteri, Julian dijadwalkan tiba di ruangannya di lantai 30. Saat jam makan siang seperti ini, pergantian shift penjagaan biasanya belum terlalu solid. Inilah satu-satunya celah emas untuk menembus masuk.
Setengah jam kemudian, aku tiba di lobi marmer gedung pencakar langit itu. Hawa dingin AC sentral langsung menampar wajahku.
Aku berjalan terhuyung keberatan, memeluk sebuah karangan bunga yang luar biasa besar dan lebar hingga menutupi seluruh tubuhku. Aku melangkah ke meja resepsionis yang dijaga oleh pria-pria berjas rapi berwajah kaku, para penjaga lapis pertama protokoler.
"Maaf, Pak... permisi..." ujarku dengan napas terengah-engah yang sengaja kubesar-besarkan. "Saya... saya mau kirim bunga ucapan selamat ini langsung ke lantai tiga puluh. Untuk Bapak Julian Helios."
Petugas protokoler itu menatapku dengan pandangan jijik dari ujung wig kriboku hingga ke sepatu kanvasku yang kotor.
Logika psikologi dasar bekerja sempurna di sini. Pertama, dengan penampilanku yang dekil, aku murni dianggap sebagai "serangga" rendahan yang tak perlu diinterogasi lama-lama. Kedua, pria berjas mahal ini tentu saja tidak akan sudi merusak kelipatan jas dan wibawanya untuk membantuku mengangkat karangan bunga raksasa yang norak ini. Solusi termudah bagi mereka adalah membiarkanku mengantarnya sendiri.
"Hhh," petugas itu mendesah sebal, melambaikan tangannya mengusirku. "Ya sudah, sana langsung saja naik pakai lift eksekutif utama di ujung sana. Yang cepat ya, Pak! Jangan lama-lama di atas!"
"Si... siap, Pak! Secepat mungkin!" jawabku dengan suara dimelas-melaskan.
Aku berjalan terhuyung seperti kepiting, mengangkat karangan bunga raksasa itu menuju deretan lift utama.
"Permisi... awas... permisi, paket berat..." seruku pelan memecah kerumunan.
Di depan pintu lift, ada beberapa eksekutif muda dan karyawan kantoran wangi yang sedang menunggu lift turun. Aku dengan sengaja menyempil di antara mereka. Bau apek jaket kurirku, yang sudah kusemprot dengan sedikit cairan asam cuka, langsung menguar menyengat hidung mereka.
Beberapa dari mereka refleks menutup hidung dan mundur selangkah, menjauhiku seolah aku adalah sumber wabah penyakit.
Ting. Pintu lift terbuka. Aku melangkah masuk, mendominasi ruang dengan karangan bunga yang memakan tempat.