INERSIA

cahyo laras
Chapter #81

Pertarungan Terakhir

Terdengar sayup-sayup suara percakapan dari arah lorong luar, disusul suara langkah kaki pantofel yang berderap berat. Aku tidak panik. Aku tidak mencari kolong meja untuk bersembunyi layaknya pencuri picisan. Aku berjalan mundur, berdiri tegak di sudut paling gelap ruangan, tepat di titik buta (blind spot) arah bukaan pintu.

Cklek. Pintu didorong terbuka.

Julian Helios masuk. Ia mengenakan setelan jas navy yang dirancang presisi (tailor-made), memancarkan aura superioritas absolut.

"Kalian tunggu di luar. Jangan ada yang masuk sampai saya panggil," perintah Julian pada pengawalnya, lalu menutup pintu rapat-rapat dengan bunyi klik yang mengunci otomatis dari dalam.

Pria tampan yang selalu tersenyum di layar kaca itu berjalan menuju meja kerjanya sambil melonggarkan dasinya dengan raut wajah lelah dan arogan.

Dengan langkah yang sangat santai, sepatuku melangkah keluar dari bayang-bayang.

Julian tersentak. Ia berputar cepat ke arahku. Matanya membelalak kaget.

"Siapa kamu?!" bentaknya kasar, tangannya refleks meraba laci meja kayunya. "Bagaimana bisa kau lolos dari penjagaan di luar?!"

Aku menyunggingkan senyum asimetris paling meremehkan yang kumiliki.

"Hanya seorang staf akunting bergaji UMR yang kebetulan sedang mencari uang lembur tambahan," jawabku tenang.

Aku berjalan melintasi ruangan kemewahannya, lalu menghempaskan tubuhku duduk di atas sofa kulit Italia miliknya dengan kaki bersilang santai.

"Duduklah, Pak Julian," kataku, menunjuk kursi kebesarannya. "Kenapa urat lehermu tegang begitu? Seperti orang yang baru melihat hantu saja."

Julian menelan ludah. Wajah tampannya menegang hebat. Ia jelas tak menyangka bahwa benteng ruang privasinya yang tak tertembus itu kini sedang dijajah oleh seorang pemuda acak. Otaknya pasti sedang berputar cepat mencerna situasi.

"Kau..." Julian memicingkan matanya. Urat di dahinya mulai terlihat.

"Ah, kau mungkin ingat kejadian beberapa hari lalu, Julian?" ujarku memotong pikirannya. "Ada seseorang yang cukup nekat mengirim draf pelaporan berisi data dan fakta aliran pencucian uangmu ke instansi resmi negara. Lalu... kau yang panik langsung menggunakan koneksimu untuk mengirim satu peleton intelijen preman untuk memburu pelapor itu ke sebuah restoran."

Rona wajah Julian langsung berubah pasi. Matanya menatapku tak percaya. "I... itu kau?"

"Ya. Itu aku yang hampir kau habisi malam itu," jawabku santai.

Mendengar itu, ketegangan di bahu Julian perlahan mengendur. Ia menghembuskan napas panjang, lalu tersenyum miring. Topeng 'Pejabat dan Artis Rendah Hati nan Dermawan' yang biasa ia tunjukkan ke publik langsung hancur seketika, mengelupas menampilkan wujud aslinya: seorang psikopat berkerah putih yang sangat sadis.

"Jadi kau orangnya," Julian terkekeh meremehkan. Ia melangkah tenang menuju kursi empuk di balik meja kerjanya dan duduk menyandar. "Lalu sekarang kau datang kemari menyerahkan nyawamu sendiri? Kau mau apa? Kau sudah tahu skala kekuatanku sekarang kan, Nak? Sekali kutelepon, kau tidak akan pernah keluar dari gedung ini dalam keadaan hidup."

Julian membuka laci mejanya, bukan mengeluarkan pistol, melainkan mengeluarkan sebuah pemotong cerutu baja dan sebatang cerutu Kuba tebal. Ia memotong ujungnya dengan suara klik yang tajam, lalu mulai membakar dan menghisap asapnya dalam-dalam. Asap tebal beraroma tembakau pahit memenuhi udara.

"Ow... cerutu mahal," komentarku santai. "Tunggu sebentar. Obrolan kita sepertinya akan panjang. Mau kubuatkan kopi?"

Tanpa menunggunya menjawab, aku berdiri dari sofa mewahnya dan berjalan layaknya pemilik rumah menuju minibar kristal miliknya. Aku mengabaikan deretan botol wine ratusan juta di sana. Dari dalam saku jasku, aku mengeluarkan dua saset kopi instan yang biasa kuseduh di pantri kantor. Aku menyalakan dispenser air panas, menuangkan air, dan mengaduknya pelan. Bunyi dentingan sendok logam yang beradu dengan gelas kaca terdengar nyaring memecah ketegangan.

"Kalau kau sampai berani masuk dan duduk berhadapan denganku di ruanganku sendiri..." Julian memicingkan mata dari balik kepulan asap cerutu. "...itu artinya kau memegang sesuatu atau... kau menginginkan sesuatu. Benar kan?"

Aku tersenyum tipis. Aku menyelesaikan seduhan kopiku. Dua gelas kaca berisi kopi saset murah yang pekat. Aku berjalan santai, menaruh satu gelas berasap itu tepat di atas meja kayu jatinya, tepat di sebelah asbak cerutunya. Aku menahan diri untuk tidak tertawa melihat kontrasnya minuman jongos itu dengan kemewahan mejanya.

Aku kembali berdiri satu meter di depan mejanya, mengangkat gelasku sendiri, lalu menyeruputnya pelan.

Sluuurrrp... Hhaaaah... Nikmatnya. Sudah dua hari aku tak merasakan nikmatnya minum kopi.

"Yap, deduksimu sempurna, Pak Julian," kataku setelah menelan cairan panas itu. "Aku punya satu permintaan padamu hari ini. Dan sayangnya, kau sama sekali tidak punya opsi untuk mengatakan 'Tidak'."

"Apa permintaanmu?" dengus Julian acuh tak acuh.

"Nyalakan TV-mu. Channel berita nasional mana pun."

Julian mengerutkan dahi, tapi tangannya meraih remote di meja dan menekan tombol Power. TV plasma raksasa di dinding menyala terang. Menayangkan siaran berita siang yang random, seorang reporter sedang membahas harga kebutuhan pokok di pasar. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan konflik kami.

"Lalu? Sekarang sebutkan apa maumu," tuntut Julian tidak sabar.

"Hmm." Aku tersenyum tipis. Aku memutar-mutar gelas kopi di tanganku. "Bebaskan ketiga puluh influencer yang kau fitnah dengan video Deepfake AI Military-Grade itu. Bebaskan mereka saat ini juga."

Aku menatap remeh ke arahnya dari balik kacamataku.

Julian terdiam. Lalu ia menyemburkan asap cerutunya dan tersenyum sinis.

"Kau menyusup masuk ke sini... mempertaruhkan nyawamu... hanya untuk meminta kelonggaran bagi tiga puluh bocah pembuat konten itu?"

"Ya. Tentu. Lakukan permintaanku sekarang, dan aku akan langsung pergi dari ruanganmu tanpa membuat keributan."

"Siapa kau ini sebenarnya?" Julian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku penuh selidik. "Apakah salah satu dari influencer bodoh itu ada pacarmu? Atau kau dibayar oleh keluarga mereka?"

Aku mendesah pelan, menatap pantulan diriku di cairan kopi. "Bukan... dan motif pribadiku sama sekali tidak penting untuk kau ketahui."

Lihat selengkapnya