SELASA, 08.00 WIB
Suhu pendingin ruangan di ruang HRD ini diputar di angka 16 derajat, tapi aku merasa jauh lebih kedinginan karena tatapan membunuh dari wanita paruh baya di hadapanku.
Hari ini aku duduk pasrah menghadap Bu Rini, Kepala HRD paling ditakuti seantero PT BEGO, yang sedang sibuk membubuhkan stempel merah di atas sebuah dokumen.
"Karena kamu hampir seminggu penuh bolos tanpa keterangan medis atau kejelasan apa pun, maka manajemen sudah memutuskan..." Bu Rini menatapku dari balik kacamata bacanya yang turun ke pangkal hidung. Suaranya setajam silet pemotong kertas. "...kamu kami pecat hari ini juga. Tanpa pesangon."
Kata-kata itu meluncur tanpa ampun.
"Kamu ini, ya. Bulan lalu baru saja gajimu naik, bukannya makin rajin malah sering bolos seenak jidat! Kamu pikir ini perusahaan nenek moyangmu?!" omelnya, menyodorkan selembar kertas berlogo perusahaan ke hadapanku.
Aku menerimanya dengan tangan lemas. Otot-otot bahuku anjlok.
Kertas putih itu adalah Surat Pemutusan Hubungan Kerja atas namaku. Aku membacanya dalam hati dengan perasaan miris. Kakiku di dalam sepatu terasa lemas tak bertulang. Realita memukulku dengan sangat keras.
Aku harus mencari pekerjaan baru lagi dari nol. Padahal, isi tabunganku sekarang benar-benar sudah rata dengan tanah. Semuanya habis terkuras untuk menyewa mobil SUV, membeli burner phone beberapa kali, perlengkapan penyamaran, hingga membeli software malware gelap untuk menyedot data server. Kalau besok aku menganggur, apakah aku bisa bertahan hidup dengan sisa uang di rekeningku?
Aku menarik napas panjang, bersiap berdiri dan membereskan meja kubikelku untuk terakhir kalinya.
Namun, tiba-tiba... Brak!
Pintu ruang HRD yang berat itu didorong terbuka dengan cukup kasar.
Aku menoleh. Eh? Ruangan sterilisasi Bu Rini ini tidak bisa sembarangan dimasuki karyawan tanpa jadwal meeting atau izin tertulis. Makhluk tergalak di gedung ini pantang diinterupsi.
Langkah sepatu kulit pantofel mahal terdengar berderap tegas memasuki ruangan, membawa aroma parfum maskulin yang elegan.
Mataku membelalak. Theo?!
Theo melangkah masuk dengan rahang mengeras. Tanpa melirikku, ia langsung berjalan menghampiri, merampas kertas pemecatan dari tanganku dengan gerakan kilat, lalu berjalan menghadap meja Bu Rini.
SREEEEKKK!!
Di depan mata Bu Rini yang masih ternganga, Theo merobek kertas berstempel merah itu menjadi dua bagian, lalu merobeknya lagi hingga menjadi serpihan sampah, dan menjatuhkannya ke atas meja HRD.
Bu Rini yang tadinya hendak meledak marah karena ruangannya diterobos, matanya mendadak melotot mengenali wajah pria beraura absolut di hadapannya itu. Sang Top Management. Sang Raja dari segala raja di PT BEGO.
Dengan cepat dan gerakan canggung, Bu Rini langsung berdiri dari kursi kebesarannya, menundukkan kepala dalam-dalam.
"Si... siap, Pak Theo..." sapanya terbata-bata, wajah judesnya memucat seketika.
"Batalkan proses pemecatan Daffa," perintah Theo, suaranya tidak membentak, namun berat, rendah, dan tak terbantahkan.
Bu Rini menelan ludah. "Si... siap, Pak. Ta... tapi, dia sudah sering bolos tanpa izin dan menyalahi SOP indisipliner..."
"Anda mau membantah instruksi saya?" potong Theo tajam. Ia melipat kedua lengannya di dada, menatap Bu Rini dengan sorot mata merendahkan.
Bu Rini yang terkenal sebagai singa betina pencabut nyawa karyawan, langsung ciut menjadi anak kucing di hadapan sang CEO. Ya iyalah. Bu Rini mungkin penguasa lantai ini, tapi di hadapan Theo, dia hanyalah seonggok debu yang bisa disapu kapan saja.
"Tidak, Pak! Sama sekali tidak," jawab Bu Rini berkeringat dingin.
"Bagus. Dan satu lagi," lanjut Theo. "Naikkan gaji pokoknya. Dari 7,5 juta menjadi 12 juta per bulan. Terhitung mulai siklus payroll bulan ini."
Rahangku nyaris lepas mendengarnya. 12 Juta?!
"Ta... tapi, Pak... secara struktur budgeting..." Bu Rini mencoba mengais sisa-sisa rasionalitas HRD-nya.
"Berani membantah?" nada Theo menurun satu oktaf, sebuah peringatan mematikan.
"Si... siaaap, Pak! Akan saya proses penyesuaian gajinya hari ini juga!" jawab Bu Rini cepat, panik menyerah.
Kulirik Bu Rini mencuri pandang menatapku dari sudut matanya. Tatapannya penuh tanda tanya besar: 'Ilmu hitam apa yang kamu pakai sampai bisa kenal dekat dan dibela langsung oleh Pak Theo?!' Aku buru-buru membuang muka, pura-pura menatap langit-langit ruangan. Setelah itu, dengan tangan gemetar, Bu Rini mengeluarkan formulir sakti baru dari lacinya, membatalkan pemecatanku secara resmi, dan mengetik angka penyesuaian gajiku menjadi 12 juta.
Selesai urusan birokrasi, Theo memberiku isyarat kepala untuk mengikutinya keluar.
Kami berjalan beriringan di lorong lantai eksekutif yang lengang.
"Te... terima kasih," kataku memecah keheningan, nadaku masih sedikit linglung.
Theo menghentikan langkahnya, menoleh ke arahku, lalu tersenyum tipis.
"Ga perlu repot-repot berterima kasih padaku, Daffa," kata Theo memasukkan satu tangannya ke saku celana bahan mahalnya. "Berterima kasihlah pada mantan kekasihku. Dia-lah yang membuatku membatalkan semua jadwal meeting dan datang jauh-jauh ke sini murni hanya untuk merobek surat pemecatanmu."
Eh? Alisku bertaut.
Via? Via yang secara langsung memintanya datang ke sini?
Theo mendesah pelan, menatap ke ujung lorong. "Kamis malam kemarin, ponselku tiba-tiba berbunyi. Dan itu adalah nomor Via. Sungguh sebuah keajaiban yang luar biasa, orang yang sangat membenciku dan membuang cincin tunanganku, tiba-tiba menghubungiku lebih dulu."
Theo menatapku kembali. "Dengan nada suara yang sangat ketus, terburu-buru, dan memendam gengsi, dia bilang dia akan mempertimbangkan untuk memaafkan kesalahanku padanya di masa lalu... dengan satu syarat absolut."
"Apa itu?"