INERSIA

cahyo laras
Chapter #83

Kamu Adalah Tempat Pulang Untukku

SELASA, 18.30 WIB

Mobil Innova silver yang disetir Linda akhirnya memutar masuk ke area parkiran pabrik katering miliknya. Udara sore pinggiran kota yang berbatasan dengan persawahan terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan sisa ungkepan bumbu ayam dari cerobong asap pabrik.

Aku dan Linda turun dari mobil.

"Mbak... Mbaakk!" panggil Linda setengah berteriak, langsung berlari masuk terlebih dahulu ke dalam pintu utama pabrik.

Aku tidak mengikutinya masuk ke dalam keramaian pekerja. Olla ada di pabrik ini, tapi biasanya dia ada di belakang pabrik, di teras beton menghadap sawah tempat di mana biasanya kami berdua ngobrol.

Aku berjalan pelan memutari sisi luar bangunan pabrik. Langkahku menginjak kerikil yang berbunyi renyah.

Dan benar saja.

Siluet seorang gadis sedang duduk menyendiri di ujung teras belakang, menggunakan jaket coklat, dan celana jeans panjang. Kakinya dibiarkan menggantung bebas diatas tanah. Ia sedang menengadah, menatap langit senja yang mulai bersih dari awan, membiarkan angin sawah yang berhembus pelan menggoyangkan ujung rumput liar dan menerbangkan anak rambutnya.

"Olla," panggilku pelan, suaraku sedikit serak.

Gadis itu tersentak. Ia menoleh cepat ke arahku.

Di bawah temaram lampu bohlam kuning di teras itu, matanya membelalak lebar melihat sosokku yang berdiri tak jauh darinya. Ia terdiam selama beberapa detik, memindai tubuhku dari atas ke bawah seolah memastikan aku ini nyata atau sekadar halusinasi.

Olla melompat turun dari teras. Ia berjalan perlahan menghampiriku. Langkah pertamanya ragu, namun langkah berikutnya berubah menjadi setengah berlari ke arahku.

Melihatnya berlari,aku berpikir. Dia akan memelukku. Aku menarik napas panjang. Mengabaikan gengsi, aku merilekskan bahuku, dan perlahan membuka kedua lenganku cukup lebar, mempersiapkan diriku untuk menyambut dan menerima tubuh mungilnya.

Tapi...

BUUUKKK..!!!

Sebuah tinju mentah menghantam ulu hatiku dengan kecepatan yang sama sekali tak terprediksi.

"Aaakkhh..."

Udara di paru-paruku langsung terkuras habis. Mataku melotot. Tanganku yang tadinya terbuka untuk memeluk, refleks turun memegangi perutku yang terasa mulas. Badanku membungkuk menahan sakit. Gila, tenaga cewek ini keras juga!

Detik ketika kepalaku merunduk, sebuah telapak tangan melayang ke pipiku.

Plaakk...

Tamparan itu mendarat telak, meninggalkan sensasi panas dan kebas di pipi kiriku.

"DAFFA GOBLOK!!!" teriaknya histeris.

Plaaakk... Tamparan kedua mendarat di pipi kananku.

"DAFFA BODOH!!!"

Plaakk... Tamparan ketiga mendarat lagi di pipi kiriku lagi.

"DAFFA BEGOOO!!!"

Sumpah serapah itu diiringi isak tangis yang pecah. Olla tidak berhenti. Kemudian, dia mengepalkan kedua tangannya dan memukul dadaku bertubi-tubi dengan bagian bawah kepalan tangannya. Pukulannya tak beraturan, lemah, namun dipenuhi emosi yang meledak-ledak.

"Kenapa... kenapa kamu ga nurut sih, Daff?! Kenapaaa???" jeritnya sambil terus memukuliku, air matanya berjatuhan membasahi wajahnya. "Kenapa kamu bahayain nyawamu sendiri?! Goblok...?!"

Aku tidak menepis tangannya. Aku membiarkan tubuh ringkihku menerima setiap pukulan frustrasinya. Aku tahu persis dia memukulku bukan karena benci, melainkan karena dia sangat marah aku membahayakan nyawaku untuk dirinya.

Di tengah rentetan pukulan kecilnya di dadaku, aku bergerak memangkas jarak.

Dengan cepat, aku menarik pinggangnya, merengkuhnya dalam satu gerakan tegas, dan memeluknya. Kudekap tubuh mungil yang gemetar itu sangat erat hingga tak ada lagi jarak di antara kami.

Aku menghirup udara senja dalam-dalam dengan cepat, mengisi paru-paruku hingga penuh, lalu meledakkan suaraku tepat di atas kepalanya.

Lihat selengkapnya