SATU BULAN KEMUDIAN
SENIN, 08.00 WIB
"I feel comfortable with u"
Itu adalah Instagram Story terbaru milik Olla. Dan yang membuatku nyaris tersedak ludahku sendiri adalah latar belakangnya. Itu adalah video kami berdua sedang ngopi di sebuah kafe yang rutin kami datangi setiap Jumat sore, kupikir tripod dan iphone waktu itu bekas dipakai ngonten ternyata untuk merekam kami.
Astaga naga. Wajahku! Wajah datarku terpampang jelas di akun influencer dengan ratusan ribu pengikut! Bagaimana kalau banyak yang mengira kami berpacaran?! Aku bisa langsung jadi buronan dan bulan-bulanan cyberbullying dari fans pria parasosialnya yang fanatik! Aku hanya ingin hidup tenang!
Dengan jempol bergetar, aku langsung membalas Story itu via Direct Message (DM).
Aku: HAPUS!!!
Tak sampai sedetik, balasan masuk.
Olla: Gak apa-apa sekali-kali, Daff. Hehe... 😝
Aku: Kalau dikira aku pacarmu bagaimana, hah?!
Tiba-tiba, sebuah aroma manis pisang goreng yang masih mengepul panas menyusup ke indra penciumanku, mengalahkan wangi kopi sasetku.
"Mas, ini kopinya. Sama snack-nya ya," sapa suara lembut dari arah kananku.
Aku menoleh. Via berdiri di samping kubikelku. Gadis itu meletakkan sebuah cangkir keramik navy berisi kopi hitam panas dan sepiring kecil pisang goreng madu di atas mejaku.
Udah sebulan ini via selalu membuatkan aku kopi dipagi hari dan disiang hari, ditemani dengan snack. Aku gak tahu kenapa, tapi cukup membuat orang lain curiga, padahal kami tidak ada hubungan apa-apa.
Gila. Pagi-pagi buta begini lambungku sudah disuntik karbohidrat berlebih?
"Ma... makasih ya, Via," jawabku kaku, buru-buru membalik layar ponselku.
Via tersenyum. Deg... Sial, lengkungan bibirnya itu selalu terlihat mematikan di mataku.
"Sama-sama, Mas," balasnya malu-malu, meremas ujung tali lanyard-nya. "Ma... maaf, Mas. Sore ini... kita jadi kan?"
Oh iya. Aku teringat janjiku padanya minggu lalu. Karena gajiku sudah melesat naik menjadi 12 juta berkat Theo, aku memang sudah berjanji akan mentraktirnya makan sepulang kerja hari ini.
"I... iya, jadi dong," jawabku, masih dengan nada kaku layaknya robot.
"Oke! Makasih ya, Mas," jawab Via girang. Langkahnya terlihat ringan saat ia kembali ke kubikelnya sendiri.
Keheningan manis itu baru saja tercipta selama lima detik, sebelum akhirnya dihancurkan oleh guncangan gempa bumi lokal.
BRUUAAKK!!
"Nih, berkas dari vendor baru! Sebelum jam dua siang harus sudah selesai direkap semua!"
Desi, manusia jahanam itu menjatuhkan setumpuk ordner tebal berwarna merah tepat di depan hidungku. Debu tipis berterbangan dari kertas-kertas laknat itu.
Wajahku otomatis terlipat layaknya kertas origami. Rahangku mengeras melihat berkas yang menggunung menutupi layar monitorku.
Melihat raut wajahku yang ditekuk, Desi berdecak pinggang.
"Ga usah pasang wajah ditekuk gitu deh, Daff. Kalau ga sanggup, bagi dua aja sana sama pacarmu itu! Ga usah protes," cerocos Desi dengan menggerakkan dagunya ke arah Via.
"Pa... pacar??" Mataku melotot.
"Kalian pacaran kan?" tuduh Desi blak-blakan.
Aku refleks melirik ke arah Via. Beri klarifikasi kek, Vi! Bantah! Tapi gadis itu bukannya membantah, ia malah menunduk menatap keyboard-nya sambil tersenyum tersipu-sipu dengan pipi merona. Sialan. Ini malah memvalidasi fitnah!
"Enggak, Des. Kami ga ada hubungan apa-apa," bantahku cepat dan defensif.
Desi tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arahku. Menyenggol lenganku dengan sikutnya.
Astaga. Wanita ini pakai bedak merek apa sih?! Aromanya luar biasa menusuk hidung! Campuran wangi melati, bedak viva sachetan, dan keringat pagi yang membuat lambungku benar-benar mual.
"Halah, sok jual mahal," bisik Desi pelan di telingaku. "Hei, Via itu naksir sama kamu, Daff. Matanya ga bisa bohong. Udah, tembak aja dia."
Wajahku mendadak memanas dan memerah seperti kepiting rebus. Sistem pertahananku hancur.
"Pergi lu, Nenek Sihir!!! Husss... husss... Hame hame haaaaa!!!" Aku mengibaskan kedua tanganku di udara, mengusir Desi layaknya mengusir roh jahat penunggu gedung.
"Dih, dasar cowok aneh!" gerutu Desi sambil melengos pergi.
Via yang melihat tingkahku menahan tawa. "Mbak Desi barusan ngomong apa, Mas?"
"Enggak. Ngelantur dia. Overdosis makan bedak sepertinya," jawabku asal sambil menarik tumpukan ordner itu dengan berat hati.