Pemandangan malam di luar jendela kereta dengan cepat berubah silih-berganti. Keyla duduk termenung di pinggir jendela. Ia memanjakan dirinya dari melepas penat dengan memesan tiket KA eksekutif Singasari menuju ke rumah orang tuanya di Cilacap. Ia ingin pulang kampung.
Beberapa peristiwa dramatis yang dialaminya dalam waktu berdekatan membuatnya sangat lelah. Terlebih lagi dirinya telah menyanggupi permintaan pengadilan untuk menangani Alvin. Hal itu tentunya tidak akan berjalan dengan mudah. Karena itulah sebelum agenda konsultasinya dengan Alvin dimulai minggu depan, ia merencanakan diri untuk berlibur di rumah orang tuanya. Sebagai psikolog, Keyla tahu betul pentingnya menjaga kestabilan mentalnya.
Sekitar pukul lima pagi kereta sampai di Kecamatan Kroya, Cilacap. Keyla melepas penat sambil menunggu waktu subuh di peron stasiun. Ketika adzan berkumandang iapun menuju ke mushola stasiun untuk menunaikan shalat subuh. Setelah melangkahkan kaki ke luar stasiun, tampak wajah dua orang tua yang sangat penting bagi hidupnya datang menyambutnya.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu. Keyla kangen sudah lama gak bertemu," sapa Keyla dengan senyum ceria. Begitulah, di hadapan kedua orang tuanya Keyla selalu menjadi anak kecil yang betah mendengar wejangan mereka. Nasihat-nasihat lembut dari mereka menyumbang besar terhadap kepribadian Keyla yang kuat dan santun.
"Wa'alaikumussalam. Halah, Key. Belum juga ada sebulan kamu pulang," canda ibunya.
"Emang gak boleh, Bu. Kan bagus jadi nemenin Ibu. Ya kan, Pak?"
"Hehe, udah ayo pulang. Nanti dilanjut ngobrolnya di mobil." Bapaknya Keyla seraya mengangkut sejumlah bawaan berat anaknya tanpa diminta.
Suasana hari itu yang masih terbilang pagi membuat mobil mudah meluncur dengan cepat ke kampung halaman Keyla di Kecamatan Nusawungu, Cilacap. Pemandangan sekitar yang asri, udara sejuk, dengan sawah di kanan-kiri tak jemu memanjakan mata Keyla. Selang sejam kemudian, mobil itu sampai di pelataran rumah dengan plang mencolok di teras rumahnya: Ketua RT 01/03.
Ya, siapa yang menyangka Keyla yang menjadi figur psikolog forensik ternama di Jakarta ternyata bapaknya hanyalah seorang Ketua RT! Meskipun begitu, Budi Muhammad, bapaknya, adalah sosok yang disegani di kampungnya. Kepribadiannya dikenal tegas dan bijak. Sementara ibunya, Sri Fatmawati, dikagumi banyak orang lantaran aktif di banyak kegiatan rutinan keagamaan di kampung itu.
Pagi itu, ditemani tiga gelas teh hangat dan sepiring pisang goreng mengepul, tiga orang anggota keluarga Pak Budi berkumpul dan bercengkerama. Keyla adalah anak bungsu dan yang paling sering pulang ke rumah. Tiga orang kakaknya, satu laki-laki dan dua perempuan, sudah memiliki keluarganya masing-masing dan tinggal terpencar-pencar di luar kota. Mereka lebih sering pulang hanya ketika ada acara keluarga.
"Kamu rencananya berapa lama di sini, Key?" tanya ibunya lembut.
"Ih, Bu. Baru juga nyampe udah ditanya kapan pulangnya!" Keyla merajuk manja.
"Lah, emangnya kenapa. Itu kan normal. Atau kamu mau di sini terus juga boleh. Kantornya pindahin aja. Tuh, ada tetangga si Mamat, dia kemarin curhat kebanyakan utang," seloroh ibunya.
"Emm" Keyla yang biasanya pandai bicara mendadak speechless ditimpali problem ala warga kampung.