Ingatan Seorang Saksi

Nadzir Arafah
Chapter #11

Awal Cerita Alvin

Senin pagi yang cerah, cahaya matahari pagi menyiram pepohonan yang ada di kanan kiri jalan menuju rumah lama keluarga Alvin. Rumah itu terletak di pinggiran kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.

Tidak butuh waktu terlalu lama, satu jam perjalanan saja yang ditempuh Keyla untuk sampai di area tersebut. Ia belum pernah ke sini. Namun ia pernah berkunjung kemari lewat streetview yang lokasi mapnya dikirimkan oleh Alvin. Di masa sekarang banyak hal telah dimudahkan oleh teknologi.

Ia berhenti sejenak melihat rumah itu. Dua orang tampak sedang duduk mengobrol santai di depan rumah. Namun mereka tidak ada kaitannya dengan keluarga Alvin selain sebagai pembeli. Rumah itu beserta tanahnya telah dijual oleh Pak Andi kepada mereka. Keyla merenung sejenak. Ia kemudian memutuskan untuk mendatangi ketua RT setempat. Berdasarkan pengalamannya dengan sang ayah, ada kemungkinan Pak RT di sini juga memiliki sifat serupa—mengetahui banyak hal tentang warganya.

Pak Hartono, ketua RT di situ menyambut kedatangan Keyla yang bertamu dengan ramah. Keyla memperkenalkan dirinya sebagai seorang psikolog. Ia menyamarkan aib tragedi keluarga Alvin dengan menyebut kondisi lelaki muda itu sebagai amnesia karena kecelakaan. Ia tengah melakukan terapi pada Alvin sehingga butuh memahami masa lalu Alvin dan keluarganya agar mudah melakukan terapi. Setelah berbasa-basi sejenak Pak Hartonopun lantas bercerita banyak hal tentang keluarga dari Pak Andi Nugroho.

"Pak Andi itu orangnya rajin. Pekerja keras. Saya mengenalnya dengan baik karena dia orang asli sini. Saya bilang dia pekerja keras karena cuma berbekal ngojek saja dia bisa menyekolahkan dua anaknya sampai jenjang kuliah.

"Kalau soal karakternya dia ya biasa saja. Ramah sekali ya tidak, angkuh juga tidak. Yang jelas, dia orang yang dulunya berbaur dengan tetangganya. Tidak menutup diri di rumah seperti di berita-berita itu, Mbak. Eh, tahu-tahu dia ternyata teroris dan digrebek Densus," seloroh Pak Hartono.

"Maksud Bapak, Pak Andi dulu sempat berbaur lalu setelah itu sikapnya berubah?" Keyla tersenyum dan melanjutkan menimpali.

"Iya, Mbak. Semacam itu. Tiap orang punya cobaannya masing-masing." Pak Hartono yang tadinya sumringah menghela napas berat. Ia melanjutkan, "Mungkin karena tekanan ekonomi ingin cepat dapat duit banyak, sekitaran 3 tahun yang lalu Pak Andi terjerumus ke dalam dunia judi. Sejak saat itulah tidak butuh waktu lama, bahkan cepat sekali, mungkin 1 atau 2 bulan saja, di rumah keluarga Pak Andi mulai sering terdengar bentakan-bentakan."

"Pak Andi punya 3 anak. Alvin, Vito dan Ana. Sejak di rumah mereka sering ribut-ribut, Alvin dan Ana jadi jarang pulang ke rumah. Selain itu keluarga mereka juga jadi jarang bergaul dengan tetangga. Terakhir, rumah mereka dijual dan mereka pindah. Saya kurang tahu mereka pindah kemana.

"Mba Keyla, saya sarankan Anda berkunjung ke rumah Bu Alfiah juga. Dia dulu sering menemani Bu Sri ngobrol di rumahnya sambil mengurus Vito. Barangkali akan membantu," pinta Pak Hartono. Dia lantas menjelaskan di mana posisi rumah Bu Alfiah.

"Baik, Pak Hartono. Terima kasih. Keterangan Anda sangat membantu saya. Saya akan mengunjungi Bu Alfiah," kata Keyla. "Sangat-sangat-sangat membantu. Aku mulai menemukan benang merah yang menghubungkan banyak hal."

Di tempat Bu Alfiah, wanita itu dengan bersemangat bercerita banyak hal. Kontennya kurang lebih serupa dengan yang dikatakan Pak Hartono. Hanya saja ditambahi penekanan bahwa keluarga Alvin seperti perkumpulan para model. Alvin yang tinggi dan tampan, Vito yang juga tampan andaikan tingkahnya tidak seperti anak kecil, serta Ana yang cantik, sopan dan anggun. Keyla sampai cukup kesulitan dengan beberapa kali mengarahkan obrolan itu agar tetap berada di jalurnya.

Yang layak dijadikan catatan adalah Bu Alfiah juga menegaskan jika Bu Sri sangat perhatian dan menyayangi Vito, anaknya. Bu Sri sangat sabar merawat Vito yang kerap bertingkah merepotkan seperti anak-anak dengan tubuh besarnya. Bu Alfiah juga menyebutkan kecurigaannya lantaran belakangan beberapa kali melihat luka memar di balik baju Bu Sri, yang selalu diberi alasan bahwa ia kepeleset, tersandung, kejedot dan lain sebagainya. Sampai akhirnya Bu Sri melarang dirinya datang lagi ke rumahnya.

Keyla melangkahkan kaki keluar dari rumah Bu Alfiah. Ia memutuskan sekali lagi akan lewat di depan rumah lama Alvin sebelum akhirnya pulang menuju kantornya. Tiba-tiba langkah kakinya sejenak terhenti karena ada yang menyapanya dan memanggil namanya.

“Selamat siang, Bu Keyla!”

Lihat selengkapnya