Ingatan Seorang Saksi

Nadzir Arafah
Chapter #13

Skizofrenia

Keyla berjalan memasuki kantornya dengan semangat baru. Suasana desa yang sejuk dan lingkungannya yang nyaman telah menyegarkan pikirannya kembali. "Hmm, pantas saja berlibur disebut dengan healing. Aku kini merasakannya," batin Keyla.

Kantor tempat Keyla berada merupakan salah satu fasilitas jasa yang tersedia di Sejahtera Foundation, lembaga swasta tempatnya bekerja. Lembaga ini melayani jasa konsultasi profesional. Di samping Keyla, tergabung juga para psikolog lainnya dari berbagai spesifikasi keahlian.

Tatapan matanya menyapu isi meja kerjanya yang dipenuhi dengan buku-buku dan sejumlah lembaran dokumen. Ia melewatkan itu. Masih terlalu dini untuk bersibuk-sibuk ria. Pandangan matanya terhenti pada sebuah plakat yang berisi foto. Keyla tersenyum melihatnya.

Plakat itu adalah piagam kenang-kenangan dari kampus. Yaitu piagam atas kinerja Keyla beserta teman-teman kelompoknya selama Praktek Profesi Mahasiswa (PPM) di LP Anak Jakarta Selatan. Di momen PPM itulah ia mendapatkan pengalaman yang berkesan. Pengalaman yang membuatnya memutuskan untuk menjadi psikolog forensik.

Ingatannya melayang pada peristiwa empat tahun silam. Peristiwa yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan Anak, Jakarta Selatan 30 Oktober 2019.

***

Keyla membuka pintu kamarnya. Ini adalah malam ke-30 dari 40 hari ia dijadwalkan melaksanakan PPM (Praktek Profesi Mahasiswa) Fakultas Psikologi di Lembaga Pemasyarakatan Anak Jakarta Selatan. Ia merenung di depan laptopnya. Tepat satu bulan yang lalu, ia menemukan remaja yang cocok menjadi kliennya. Remaja itu mematung, terdiam dan sesekali tampak bicara sendiri ketika penghuni lapas yang lain asyik berjoget di tengah hiburan konser dangdut yang kebetulan sedang diadakan di lapas tersebut.

Lewat petugas lapas ia segera menemukan datanya. Anton Putra Bagaskara, 17 tahun, didakwa atas kasus pembunuhan 2 tahun lalu. Berdasarkan sidang terakhir dia dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Keyla membaca berkas kasus milik Anton di tangannya. Kasus tersebut sangat mengerikan. Bagaimana bisa anak semuda itu sampai hati melakukannya? Keyla pun seketika teringat percakapannya dengan Anton dua minggu yang lalu di aula lapas.

“Hai, boleh kenalan gak? Aku Keyla, namamu siapa?” Keyla duduk di samping Anton.

“Anton, namaku Anton. Kamu cantik seperti adikku, boleh aku panggil kamu Keyla aja?” tanya Anton tersenyum sambil melihat wajah Keyla.

“Boleh. Oh ya benarkah? pasti adikmu lebih cantik. Bagaimana kabar adikmu saat ini, pasti dia sedih berpisah dari kakaknya?” Keyla bertanya menyelidik.

“Kamu belum tahu ya? Baiklah akan aku ceritakan.” Anton mengubah arah duduknya menghadap Keyla.

“Adikku namanya Friska Amelia. Dia sudah meninggal. Dia cantik sepertimu. Aku senang bermain dengannya.”

“Dia meninggal? Berapa usianya saat itu? Dan kenapa dia bisa meninggal?” Keyla mengamati gerakan tubuh Anton.

“Usianya 3 tahun. Dia hangus terbakar di pohon mangga belakang rumah. Aku heran, bagaimana dia bisa terbakar, padahal itu cuma thinner bukan bensin, korek api yang dipegang Albert juga cuma mainan.” Anton menatap langit-langit seolah berusaha mengingat masa lalunya.

“Albert? Dia tetanggamu kah? Dan kenapa kamu bermain api dengan adikmu yang masih kecil?”

“Albert, dia sahabatku. kami bertemu saat ulang tahunku yang ke 14. Kamu tahu, dia juga masih kecil, baru sekitaran 6 tahun, tapi dia satu-satunya orang yang mengingat ulang tahunku dan berbaik hati membawakan kue ulang tahun untukku.”

“Oh ya? Kamu beruntung memiliki sahabat sepertinya,” ucap Keyla berkomentar.

Lihat selengkapnya