Ingatan Seorang Saksi

Nadzir Arafah
Chapter #14

Percobaan Pertama

Sekitar sepuluh menit berselang Alvin tiba di kantornya. Dia mengenakan baju kasual hem lengan pendek dan celana panjang abu-abu. Rambutnya yang ikal tampak lusuh selusuh wajahnya. Sisa-sisa ketampanan masih terlihat dari dirinya, namun yang saat ini dominan terlihat adalah wajah gelisah, bingung dan sesekali amarah. Untunglah Keyla tidak menemukan sorot putus asa di matanya, bila demikian tugasnya akan menjadi berlipat ganda tingkat kesulitannya.

Lelaki muda itu masuk ke dalam ruangan kantor sambil menatap Keyla penuh hasrat. Itu adalah hasrat dari seseorang yang menyadari dirinya amnesia dan bertemu pakarnya. Dia tidak menatap Keyla layaknya bertemu orang yang dia kenal.

Di saat itulah Keyla kembali teringat bahwa tugasnya bertambah satu lagi. Alvin tidak sekedar lupa dengan tragedi di rumahnya. Dia juga masih lupa dengan Keyla. Gadis itu termenung sejenak. Dia tidak begitu mengerti apakah Alvin sejak awal memang lupa kepadanya, ataukah ini efek sampingan dari hilangnya memori akan tragedi itu? Jika itu faktor terakhir maka ia masih tidak mengerti dari sisi mana kaitan antara dirinya dengan tragedi itu.

"Ah, yang jelas aku harus membuat prioritas. Aku perlu mendahulukan upaya memulihkan ingatan Alvin akan peristiwa di rumahnya. Barulah setelah itu aku akan melacak memorinya kepadaku," batin Keyla. Semua teka-teki itu hanya berkutat di pikirannya. Dengan senyum profesional ia tetap menyapa Alvin dan mempersilakannya duduk.

“Selamat datang, saudara Alvin. Terima kasih telah berkenan datang. Anda sudah diberitahu bukan oleh kakak Anda, Ana, tentang tujuan kita di sini? Bagaimana kabar Anda?” tanya Keyla tersenyum.

"Kabar fisik saya sehat, kabar mental saya kacau, kabar keluarga saya berantakan. Kabar mana yang Anda maksud?" tanya Alvin dengan senyum getir.

"Kabar saya baik, alhamdulillah. Itu yang saya maksud. Bagaimanapun, kita harus tetap bersyukur pada Allah masih diberi kekuatan iman. Banyak di antara mereka yang terkena musibah lantas berputus asa," jelas Keyla lembut.

"Anda benar, dok."

"Gelar saya bukan dokter. Apa Kak Ana tidak memberitahu kalau kita dulu teman kuliah? Panggil saja saya Ana, Alvin," ujar Keyla.

"Ah, tidak etis rasanya, Mbak." Alvin menolak dengan datar dan singkat.

"Baiklah, saudara Alvin. Saya bisa mengerti. Kalau boleh tahu, apa yang Anda rasakan sekarang?"

"Saya, yang dominan saya rasakan adalah kesal dengan diri saya sendiri. Ibu saya sangat membutuhkan saya, namun kondisi saya malah begini." Alvin menjelaskan dengan wajah pucat dan lirih.

Lihat selengkapnya