Ingatan Seorang Saksi

Nadzir Arafah
Chapter #16

Kasus Bisu Selektif (2)

Yuni Zahira duduk terdiam saja di ruangan itu. Wajahnya tampak tidak menikmati pertemuan ini. Namun juga tidak sampai menunjukkan raut muka gelisah. Keyla dengan piawai mengamati gadis kecil itu di tengah obrolannya dengan Diana.

"Syukurlah ia masih bisa diajak bertemu orang asing. Tingkat traumanya belum pada level akut," batin Keyla.

"Assalamu'alaikum, hei gadis kecil manis. Apa kabarmu?" sapa Keyla tersenyum. Yuni menatap Keyla sejenak sebelum pandangannya beralih ke meja berukir di hadapannya.

"Yuni, kamu ditanya kakak itu lho. Ayo jawab," bujuk Diana. Keyla dengan sigap memberi isyarat pada Diana. Jari telunjuk ditaruh di depan bibir sambil menggeleng kecil. Jangan dipaksa, Anda tolong diam sebentar. Biar saya yang melakukannya. Diana mengerti dengan maksud dari isyarat sederhana tersebut dan mengangguk pelan.

"Yuni, ini Kak Keyla. Temannya Kak Diana. Boleh ya Kakak juga pengin jadi teman Yuni," lanjut Keyla sambil mencondongkan badannya. Yuni kembali menatap Keyla dengan terdiam.

"Kak Keyla di sini ingin membantumu. Kakak orang baik kok. Kakak tidak akan memarahimu atau menyakitimu. Kakak cuma ingin membantumu. Kamu mau bicara dengan Kakak?" bujuk Keyla kembali. Yuni terdiam beberapa saat lalu menggeleng pelan. Hampir tidak terlihat.

Keyla berpikir sejenak. Ia lalu mengambil pulpen dan selembar kertas HVS kosong.

"Bagaimana kalau kita pakai ini. Kamu menulis saja di kertas. Tidak perlu bicara. Biar Kakak saja yang bicara. Jangan khawatir, tidak ada yang akan mendengar kok. Nanti kertasnya gampang dibuang. Jadi tidak ada yang tahu kalau Yuni tadi menyampaikan sesuatu ke Kak Keyla. Kamu mau?" pinta Keyla lembut.

Kali ini Yuni mengangguk. Keyla kembali tersenyum. Diana ikut terkejut melihatnya. Polisi bukannya tidak pernah mencoba cara ini. Hanya saja reaksi Yuni saat itu malah ketakutan mendengar bujukan polisi wanita itu yang gagal menyembunyikan naluri nada interogasinya.

Yuni mulai menuliskan sesuatu di kertas. Keyla cepat tanggap dan secara natural mengaktifkan rekaman video serta menaruh hapenya bersandar pada buku. Ini bisa berpeluang menjadi barang bukti penting. Ia dengan sabar menunggu gadis kecil itu selesai dan baru bertanya setelahnya, "Apa yang kamu tulis?"

"Saya takut mau bicara," tulis Yuni.

"Apa yang membuatmu takut? Jangan khawatir, kertasnya nanti pasti Kakak buang kok."

Yuni sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menulis lagi, "Saya takut penjahatnya balik lagi dan tahu saya bicara ke orang lain."

"Memangnya muka penjahatnya kayak apa? Kamu beritahu Kakak biar nanti Kakak bisa nyuruh kamu ngumpet dulu kalau penjahatnya datang."

"Dia mukanya berkumis. Giginya ompong satu yang atas."

"Oh begitu. Dia mukanya jelek ya jadi bikin kamu takut. Kalau Kakak gimana, Kakak cantik gak?" Keyla dengan halus menyisipkan metode terapi perilaku kognitif pada Yuni. Terapi yang bertujuan mengubah pikiran negatif menjadi positif.

Lihat selengkapnya