Apotek rumah sakit masih seperti biasanya ramai dan lama antriannya. Termasuk di antara mereka yang jenuh menunggu adalah Alvin dan Ana. Apa boleh buat, di rumah sakit manapun jumlah personil yang tersedia di apotek akan selalu minim.
“Dari dulu selalu ramai di sini. Yah, Setidaknya nomor antrian kita sudah hampir sampai,” ucap Ana.
“Ya, kau benar.” Alvin menjawab sekenanya.
“Alvin, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya, tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan, Kak?"
“Mengapa kamu berbohong tentang perasaanmu pada Keyla?”
“Hah, maksudnya?”
“Kamu pura-pura lupa ingatan tentang Keyla. Walaupun -entah bagaimana- kamu sekarang jadi amnesia betulan soal Vito. Tapi kenapa kamu ngelakuin itu?"
“Akui saja, kamu itu dulu tergila-gila sama Keyla. Kamu gak mungkin bisa melupakan gadis itu bukan?”
"Kau kebanyakan nonton sinetron drakor, Kak."
"Drakor itu bukan sinetron! Heh, jangan mengalihkan isu. Lima hari yang lalu, aku bertemu Keyla di tempat yang sungguh tidak kuduga. Kamu tahu di mana?"
"Di mana emang?"
"Di dekat rumah lama kita. Di Pancoran! Ia mencari tahu kabar keluarga kita dari para tetangga." Alvin termenung mendengar perkataan kakaknya. Entah apa yang sedang ada di benaknya.
"Kami ngobrol cukup lama di kedai minuman. Waktu itu aku merasa agak aneh ketika ia bertanya tentang perubahan sikapmu dalam 3 tahun terakhir. Lalu tadi ia menyinggung soal ingatan segala. Aku baru paham sekarang. Kamu menjauh darinya sejak Ayah mulai berubah kasar. Kutebak, kamu juga pura-pura lupa soal Keyla entah sejak kapan. Kenapa kamu bersikap begitu?"
"Kau berlebihan asumsi, Kak. Kami temenan akrab di kampus. Wajar kalau ia mempertanyakan sikapku ketika aku berubah jadi cuek dengannya," jawab Alvin menghela napas.
"Kenapa emang kamu cuekin Keyla?"
"Aku gak mood bergaul sejak Ayah begitu. Gak cuman ke Keyla, aku juga menjauh dari teman lainnya. Fokusku saat itu cuman ingin cepat selesai kuliah, kerja dan bikin rumah baru buat Vito dan Ibu. Ayah brengsek itu biarin aja hidup sendiri suka-suka dia!" Alvin tidak menyembunyikan rasa geram pada ayahnya. Dia cuma lupa insiden di malam itu. Dia masih ingat kekejaman ayahnya pada seluruh anggota keluarganya.
"Oh begitu. Aku setuju penilaianmu tentang Ayah. Tapi gak sama poin yang lain. Heh, temenan akrab? Kamu mau aku telepon temanmu yang bernama Fina?" sahut Ana tersenyum simpul.