Keyla menatap punggung Alvin yang makin menjauh. "Kenapa dia malah beranjak pergi. Apa dia belum siap bicara denganku? Tidak. Momen seperti ini adalah momen yang terbaik. Kalau dia tidak berani mengambil inisiatif, biar aku saja!" batin Keyla. Ia berjalan cepat menyusul Alvin.
“Alvin, tidak adakah yang ingin kamu sampaikan kepadaku?”
Langkah kaki Alvin terhenti sejenak mendengar suara Keyla di belakangnya. "Nanti saja," jawabnya lirih dan kembali melangkah.
Tanpa diduga Ana maju selangkah di depan Alvin dan menghalangi lajunya. Ia menatap adiknya dan tersenyum. "Kalau kamu masih peduli dengan Keyla, bicaralah sekarang. Cepat atau lambat kamu perlu menjelaskannya. Apa kamu gak kasihan sama Keyla mau menunda-nunda ini lagi?" ujar Ana pelan.
Alvin menatap balik kakaknya dengan terpana. "Kenapa dia jadi pilih-kasih begitu kalau soal Keyla. Kau ini kakakku atau kakaknya?", batin Alvin setengah sebal. Dia bukannya tidak berani bicara dengan Keyla. Hanya saja dia perlu waktu untuk menyusun kata-katanya agar tidak menyakiti Keyla. Namun kata-kata Ana tadi membuatnya terpojok. Bila dia tetap mengabaikan Keyla maka akan terkesan dia sudah tidak peduli lagi. Padahal bukan itu maksudnya.
"Baiklah, aku mengerti. Keyla, ikut aku sejenak. Kita cari tempat yang nyaman."
Ana tersenyum mendengar perkataan adiknya. Diakui olehnya, ia cukup takjub dengan Keyla yang pagi ini saja bisa 'memaksa' Alvin dua kali duduk bicara hati ke hati dengannya di tengah upaya Alvin menghindari gadis itu.
"Kalian bicaralah sesuka kalian. Selesaikan masalah kalian dengan baik. Antrian obat di rumah sakit masih lebih lama dari itu," seloroh Ana yang beranjak pergi.
Mereka berdua duduk berhadapan di kursi taman rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang. Keyla menatap Alvin yang sedari tadi lebih banyak tertunduk dan seperti sedang berpikir. Keyla mengakui iapun harus berjuang keras mengatur rasa gugup, cemas dan gelisahnya di hadapan Alvin. Ia tidak ingin kehilangan harapannya. Yang senantiasa ia lakukan kini adalah menatapnya dengan lembut untuk menenangkan dirinya dan diri Alvin.
“Alvin, aku perlu tahu. Kenapa kamu berpura-pura lupa padaku? Apakah ini semua hanya karena kondisi keluargamu?” Keyla membuka pembicaraan itu dengan halus.
“Jadi kamu sudah menduganya, Key. Gak. Bukan cuma itu. Aku merasa tak pantas mencintai dan dicintai olehmu," ucap Alvin tertunduk.
“Kenapa? Kenapa kamu merasa begitu?”
“Keyla, aku tumbuh dalam keluarga yang penuh dengan kekerasan dan konflik. Ayahku orang yang sulit didekati dan seringkali melampiaskan amarahnya pada kami. Aku takut merubah keluarga impianmu jadi mimpi buruk. Aku takut kamu trauma ketika nanti ikut kena bentak ayahku. Aku takut, aku takut kalau aku bahkan ternyata mewarisi pola kekerasan ini."
“Alvin, aku mengerti bahwa keluargamu memiliki masalah serius. Tapi itu semua bukan kesalahanmu. Aku mencintaimu bukan karena kondisi keluargamu. Tapi karena dirimu yang sejati. Aku gak ingin kamu sampai begitu, merasa tak pantas mencintai dan dicintai," ucap Keyla lirih. Ia prihatin masalah keluarga Alvin telah membuat lelaki yang dicintainya itu jadi kehilangan rasa percaya diri pada orang lain.