Pagi hari yang masih asri turut menyelimuti rumah kontrakan mungil Keyla yang terletak di salah satu kompleks perumahan di Jakarta Selatan. Perumahan itu tidak terlalu jauh dari kantornya. Keyla memilih mengontrak di kompleks perumahan yang relatif lebih terjamin keamanannya. Ia juga belum memutuskan apakah akan tinggal permanen di Jakarta atau tidak.
Dengan kondisi pikiran yang masih fresh Keyla merenungi kembali progress terapinya dengan Alvin. Ia sudah mencoba sekian metode namun belum ada kemajuan berarti. Bila teknik yang sifatnya indirect belum berhasil maka kini saatnya memakai teknik direct.
Keyla berganti metode dengan menerapkan teknik eksposur/pemaparan. Terapi dengan cara mengajak klien bersentuhan langsung dengan hal yang membuatnya trauma. Ia berencana mengajak Alvin mengunjungi TKP, rumah kontrakan di mana keluarganya pindah ke situ lantaran rumah lama mereka dijual ayahnya untuk berjudi dan menutupi hutangnya.
Keyla membaca kembali rincian mengenai TKP dari berkas di tangannya. Ia mencatat hal-hal yang perlu dilakukan olehnya saat meninjau ke sana. Ia juga mengkonsultasikan rencana tersebut dengan Ana, pengacara terdakwa sekaligus kakak kandung Alvin, untuk memperoleh informasi tambahan yang mungkin belum diketahuinya.
Hari demi hari berganti dengan cepat. Tanpa terasa satu minggu sudah berlalu dan kini tiba kembali agenda terapi mereka. Hanya saja kali ini dilakukan dengan terapi outdoor. Di siang hari yang terik mereka berdua pergi ke TKP untuk mencari stimulus yang bisa memicu ingatan Alvin. Selang satu jam kemudian mereka tiba di tempat yang dituju.
Rumah itu kosong, kotor dan tak terawat. Rumput liar di halaman mulai kelihatan tinggi. Sudah sekitar dua bulan yang lalu semenjak tragedi berdarah itu terjadi. Namun belum ada yang berani menghuninya.
Rumah sewaan yang pernah jadi tempat pembunuhan memang selalu membuat dilema pemiliknya. Jarang ada yang berani menghuninya meskipun sampai bertahun-tahun setelahnya. Biasanya tarif sewanya akan diturunkan. Namun orang juga mudah mengasosiasikan tarif sewa murah dengan rumah horor. Akhirnya yang sering terjadi adalah rumah itu dijual dengan harga miring, yang lambat-laun akan dibeli oleh pembeli berbekal the power of kepepet.
Mereka melangkah perlahan menyusuri pelataran rumah. Untunglah kunjungan itu dilakukan siang hari sehingga isi rumah itu cukup terang untuk dilihat lewat pantulan sinar matahari. Keyla mulai menyebutkan hal-hal yang terkait dengan pembunuhan itu.
“Kamu pastinya lebih paham denah rumahmu ini daripada aku, Vin. Tapi kita bukan ke sini untuk itu. Sesuai yang telah kujelaskan sebelumnya mengenai teknik eksposur, aku akan menyebutkan fakta yang relevan terkait pembunuhan Kak Vito. Kamu harus tabah dan kuat. Ingatlah, aku sekarang ada di sini bersamamu.” Alvin mengangguk mendengarnya.
"Aku mengerti. Aku datang ke sini berarti aku setuju dan siap dengan konsekuensinya. Ayo kita mulai!"
Sesampainya di depan pintu rumah Keyla berkata, "Pintu depan rumah ini dalam keadaan terbuka lebar sesaat setelah insiden itu terjadi. Aku tidak tahu apakah pintu itu sudah terbuka sejak sebelum kejadian ataukah setelahnya."
"Aku gak tahu. Aku gak punya memori tentang situasi pintu ini," sahut Alvin tersenyum pahit.
Memasuki ruang tamu Keyla berkomentar lagi. Ia tidak akan melewatkan peluang sekecil apapun untuk disampaikan pada Alvin. Siapa tahu hal yang seolah remeh baginya ternyata bernilai besar bagi Alvin dan menjadi penyebab bangkitnya kembali memorinya.
"Ruang tamu ini tadinya berantakan dan barangnya berserakan. Saksi mata menyebutnya sebagai seperti sehabis terjadi perkelahian," ujar Keyla. Barang-barang di ruangan itu kini ditumpuk di tengah. Mungkin hal itu dilakukan oleh polisi untuk memudahkan akses jalan setelah mereka mendapatkan cukup barang bukti.
Alvin menggeleng kecil pertanda efeknya nihil. "Ayo kita lanjutkan lagi," sambung Alvin.
Mereka kini tiba di ruang tengah. Ruang keluarga. Di ruangan ini salah satu tangan Alvin seketika memegangi kepalanya yang mulai berdenyut sebelum Keyla sempat berkomentar.