Suasana di depan pintu kantor Lapas Manggarai Jakarta Selatan pagi itu tampak lebih ramai dari biasanya. Banyak orang berkumpul dengan wajah antusias. Seirama dengan harapan mereka, terdengar suara pengumuman dari pengeras suara menyebut nama-nama narapidana yang telah dinyatakan bebas. Ya, hari ini, Minggu, 5 Mei 2024 Alvin telah bebas dari penjara.
Alvin dinyatakan bebas setelah menjalani masa 1 tahun hukumannya dikurangi remisi 2 bulan. Masing-masing berasal dari remisi umum hari kemerdekaan sebanyak 1 bulan, remisi khusus hari raya keagamaan sebanyak 15 hari, serta remisi tambahan karena dinilai telah banyak berjasa dalam program lapas sebanyak 15 hari.
Dari hasil bicara hati ke hatinya dengan Keyla, mereka bersepakat untuk mendalami ketrampilan elektronik sebagai bekal diri Alvin seumpama harus singgah sementara waktu di balik jeruji besi. Mereka berharap keahlian Alvin di bidang servis elektronik akan membantu menaikkan citra positif Alvin di mata orang tua Keyla nantinya.
Sejak saat itu lelaki yang mulai belajar dewasa ini giat sekali mengikuti berbagai program pelatihan elektronik di Lapas Manggarai. Baik yang diadakan oleh BLK Dinas Ketenagakerjaan maupun hasil kerjasama dengan SMK setempat. Tentu saja, Alvin menyadari tidak ada jaminan dirinya akan diterima oleh keluarga Keyla. Namun dia harus tetap berusaha.
Pintu depan kantor lapas terbuka. Di tengah derai tawa kebahagiaan di sekelilingnya, mata Alvin spontan tertuju pada keluarganya yang berdiri tak jauh dari pintu. Ah tidak semuanya, ada satu tambahan yang masih berstatus calon keluarga, Keyla.
"Selamat datang, Nak. Ayo kita pulang. Ibu akan masakin nasi goreng petai kesukaanmu di rumah," sambut ibunya hangat.
"Iya, Bu. Makasih banyak. Makasih buat semuanya yang telah datang menjemput. Makasih, Kak Ana. Makasih juga, Keyla," balas Alvin terharu. Matanya turut berkaca-kaca.
Ana dan Keyla tersenyum melihatnya. Dalam iringan dua mobil mereka berempat beranjak pulang menuju ke rumah baru keluarga Bu Sri Handayani yang asri di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Rumah itu dekat dengan sebuah pondok pesantren. Hal yang luar biasa adalah Ana dan suaminya menjual mobil pribadi mereka guna mendapatkan tambahan dana cepat untuk membeli rumah itu.
Kini mobil Ana berganti menjadi mobil kijang tua berwarna biru. Namun ia tak pernah malu. Mobil tua itu dibawanya kemana-mana seperti biasanya. Pada awalnya Bu Sri merasa tak enak dan meminta dicarikan rumah kontrakan saja. Mendengar hal itu Ana cuma tertawa lepas dan berkata, "Bu, Allah dengan perantaraan kandungan Ibu memberikan aku nyawa. Aku memberikan ibu rumah. Apakah itu sebanding?"
***
"Pak, Keyla dengar Alvin dapat remisi karena sering betulin kipas, komputer, sama tivi di lapas. Jadi Bapak nanti jangan khawatir, pokoknya semua perkakas elektronik di sini bakalan beres lagi!" jelas Keyla menggebu-gebu. Ia mengambil cuti dan pulang ke rumah orang tuanya di Cilacap.
Pak Budi dan Bu Sri tersenyum melihat berbinarnya mata putrinya. Entah disadari olehnya atau tidak, tiap kali Keyla bercerita tentang Alvin maka ia seolah kembali menjelma menjadi gadis remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.