Masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, Pak Rajendra bertanya untuk memastikan. “Sekarang kamu juga pulang?”
Menatap nanar pada Bapak yang kini tampak lebih menua dengan rambut yang semakin menipis dan banyak uban, namun wajah tegas dan aura berwibawanya masih tetap sama seperti dulu.
Sigit mencoba tersenyum, namun respon Bapak masih datar dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Mencium tangan lalu bersimpuh penuh penyesalan di hadapan Bapak, Sigit menangis tersedu. “Maafkan Sigit, Pak. Mohon maaf untuk semua kesalahanku di masa lalu.”
Sigit berharap masih ada kesempatan baginya untuk memperbaiki sikap kurang baik dan segala kekhilafan yang pernah dilakukannya dulu.
Tersenyum sinis, Pak Rajendra menepis sentuhan tangan Sigit. Pintu maaf tak bisa semudah itu didapatkan setelah apa yang terjadi. Sekian lama pergi dari rumah dan tanpa kabar juga tak pernah menelpon, tapi sekarang tiba-tiba pulang untuk meminta maaf?
“Maaf? Sekarang kamu pulang hanya untuk minta maaf?”
Kembali mencoba meraih tangan Bapak untuk bisa minta maaf lagi, Sigit kembali terisak tangis. “Maaf Pak. Maaf sekali. Tolong berikan Sigit kesempatan untuk bisa lebih baik lagi.”
Ada sedikit rasa kasihan menatap putra bungsunya yang seketika pulang dan minta maaf dengan penyesalan. Sigit yang dulu sering dimanja dan apa pun keinginannya selalu terpenuhi. Tapi ternyata juga mencontoh dua kakaknya untuk pergi dari rumah dan juga menghilang tanpa kabar selama lebih dari 3 tahun.
Kalau maaf semudah itu diberikan. Tak akan ada pelajaran berharga dan efek jera di masa depan untuk semua kesalahan yang telah dia lakukan. Pasti nanti akan mudah diulangi lagi dan kembali terulang kesalahan yang sama lalu tinggal minta maaf. Tidak bisa segampang itu. Segala permasalahan yang terjadi tidak bisa diselesaikan dengan hanya minta maaf.
Pak Rajendra menarik paksa tangan Sigit untuk berdiri. “Tidak perlu minta maaf. Sudah sangat terlambat minta maaf sekarang!”
“Mulai hari ini, Sigit janji akan menuruti semua perintah dan nasehat Bapak dan Ibu. Tak akan terulang lagi kesalahan yang dulu,” Sigit kembali memohon dengan wajah memelas sambil menggenggam kedua tangan bapaknya. Tapi Pak Rajendra tampak tak terpengaruh sedikit pun.
“Sigit! Anak bungsuku pulang,” panggil Bu Firda dengan suara terisak saat berlari menuju halaman.
“Ibuuuu. Sigit pulang Bu,” sahut Sigit dengan suara getir.
Mengamati keadaan dan tampilan Sigit sekarang yang tampak kucel dan tak terawat dengan pipi dan mata yang lebih cekung juga rambut cepak, membuat Bu Firda kasihan dan semakin bersedih.