Kamu pernah dengar hemofilia?
Itu lho, kondisi di mana tubuh seseorang kekurangan zat pembeku darah. Jadi kalau terjadi pendarahan, entah luar atau dalam, darahnya susah banget berhenti.
Bayangin gini. Orang normal lagi motong bawang pakai pisau (karena ya, nggak mungkin pakai garpu), terus jarinya nggak sengaja keiris. Paling reaksinya cuma, “Aduh!”. Liat jarinya berdarah sedikit, diemut bentar, selesai. Hidup berlanjut.
Kalau penderita hemofilia? Beda cerita. Kalau jarinya keiris pisau, reaksinya bukan cuma “Aduh!”, tapi…
“JARI GUE!! TOLONG!! BAWA GUE KE IGD SEKARANG!! DARAHNYA NGGAK BERHENTI-BERHENTI!!” Sambil panik nyari apapun buat nahan darah; baju, tisu, perban, atau apa aja yang ada di sekitar. Selama belum disuntikan obat, darahnya bakal terus bercucuran sampai kelihatan kayak sebuah adegan film gore.
Hemofilia sendiri dibagi jadi tiga tingkat: ringan, sedang, dan berat.
Yang ringan masih mirip orang normal, cuma sedikit lebih ribet kalau pendarahan. Yang sedang… ya sama, tapi lebih ribet lagi. Nah, yang paling ekstrem itu yang berat.
Penderita hemofilia berat bukan cuma bermasalah kalau pendarahan, tapi juga bisa tiba-tiba memar dan bengkak tanpa sebab yang jelas. Beneran tanpa sebab. Lo lagi duduk santai, nggak ngapa-ngapain, terus tiba-tiba mata kaki lo bengkak dan… ya udah, lo nggak bisa jalan.
Gue adalah penderita hemofilia berat.
Sebagai penderita Hemofilia, banyak hal-hal mengerikan yang terjadi. Bagi orang lain yang denger sih mengerikan, tapi bagi gue adalah sesuatu yang biasa.
Misalnya, gue pernah berantem sama teman sekelas gue dan dia nonjok mata kanan gue. Awalnya sih biasa aja ya… Nggak ada memar atau apapun. Pas malamnya, mata gue ternyata memar sekaligus bengkak kecil di bawah mata. Bagi orang normal, that’s it. Tapi tentu saja nggak bagi gue. Pas bangun tidur keesokan paginya, gue panik karena mata kanan gue nggak bisa dibuka. Pas ngaca…
GILE!!
Mata gue bengkak gede banget. Warnanya juga serem. Kayak… warna kulit bercampur dengan ungu dan merah. Ya ngerti lah ya kalau warna kulit memar tuh gimana. Orangtua gue langsung panik pas ngeliat gue. Mereka jumpalitan ke sana ke mari karena bingung harus ngapain. Pada masa itu, pertolongan pertama kalau gue memar adalah dikasih Minyak Tawon. Untuk memar kecil sih ngaruh ya, tapi nggak untuk yang ini. Gue menolak buat pergi ke sekolah di hari itu karena gue malu.
Seiring hitungan beberapa jam, mata gue semakin parah. Ukurannya makin membesar. Warnanya jadi ungu saja. Hilang sudah perbaduan warna kulit asli gue dan warna merahnya. Warna ungu itu berubah jadi hitam keesokan harinya.
Orangtua, dua nenek gue dan beberapa kerabat panik dengan kondisi gue, karena takut gue buta. Sementara guenya? Menutup mata yang bengkak itu dengan sehelai lap yang diikatkan di kepala, abis itu pura-pura jadi bajak laut.
Waktu gue kecil juga gue sering banget yang namanya mimisan. Soalnya yang namanya anak kecil tuh kan hampir pasti ingusan, nah gue sering nyedot-nyedot ingus.