INI CERITAKU

Adri Adityo Wisnu
Chapter #12

Taman Kenangan

Suatu hari, waktu gue lagi ngajar kelas yang isinya anak-anak kelas 3 sampai 5 SD, tiba-tiba salah satu murid gue nyeletuk,

“Aku nggak sabar pengen jadi orang dewasa. Biar bisa ngelakuin apa aja yang aku mau!” Nada suaranya jelas, dia habis dilarang sesuatu sama orang tuanya.

“Sama! Aku juga bosen jadi anak kecil,” sahut yang lain. “Mau beli ini nggak boleh, beli itu nggak boleh. Jadi orang gede enak, bisa beli apa aja.” Kelihatannya dia juga baru ditolak permintaannya.

Terus ada satu anak cowok yang paling kalem di kelas, dengan wajah datar tapi penuh kebenaran, bilang, “Jadi dewasa nggak enak tau. Nggak bisa tidur siang.”

Dan jujur aja… gue langsung setuju sama dia.

Akhirnya gue ambil peran jadi orang dewasa bijak. Nada suara gue dibuat agak tua, gaya ngomong dibikin kayak bapak-bapak yang lagi ceramah, lalu gue bilang,

“Nikmatin masa kecil kalian selagi bisa. Malik bener. Jadi orang dewasa itu nggak seenak yang kalian kira. Bangun harus pagi banget, pulang malem banget, nggak bisa tidur siang, dan nggak bisa main bebas kayak sekarang. Orang dewasa juga belum tentu bisa ngelakuin apa aja atau beli apa aja.”

“Nih, buktinya Mister,” lanjut gue. Iya, gue dipanggil Mister karena ngajar les bahasa Inggris, bukan karena gue sok bule. “Mister pengen beli PS5 aja belum kesampaian. Mau main game di rumah seharian juga nggak bisa.”

Tapi gue ngerti perasaan mereka. Waktu gue kecil, gue juga mikir begitu. Dan gue yakin, hampir semua anak kecil di dunia pernah punya pikiran yang sama. Saat kita kecil, kita selalu punya ekspektasi besar tentang betapa enaknya hidup setelah dewasa.

Kita ngebayanginnya jadi orang dewasa itu bebas, punya uang sendiri, bisa ngelakuin apa pun tanpa perlu izin siapa pun. Padahal yang jarang kepikiran adalah embel-embelnya: tanggung jawab, tekanan, dan rasa lelah nggak berujung. Dulu kita mikir dewasa itu hadiah. Setelah ngalamin sendiri, baru sadar… Dewasa itu lebih mirip sebuah porsi nasi goreng spesial; isinya campur aduk, dan nggak semuanya enak.

Dan lucunya, di saat anak-anak pengen cepet-cepet gede, orang-orang dewasa justru sering kepikiran pengen balik jadi anak kecil. Pengen tidur siang tanpa rasa bersalah, pengen capek cuma karena main, bukan karena hidup. Mungkin bukan karena masa kecil kita sempurna, tapi karena waktu itu, hidup belum seberisik dan serumit sekarang.

Waktu kecil, momen-momen kayak Lebaran, tahun baru, atau 17 Agustusan itu rasanya asik banget. Ditunggu-tunggu jauh hari, dihitung mundur, dan selalu terasa seru tanpa perlu alasan khusus. Lebaran berarti baju baru, duit THR, dan kumpul bareng sepupu-sepupu yang rumahnya pada jauh. Tahun baru identik sama begadang, petasan, dan impian tahun baru yang dengan senang hati kita buat meskipun nggak dilakukan atau nggak kesampaian. Sementara 17 Agustusan adalah kegembiraan massal: lomba-lomba gila, teriak-teriak, dan hadiah receh yang rasanya lebih berharga dari apa pun.

Tapi pas udah dewasa, semua itu berubah jadi… ya udah, gitu aja. Bukan karena momennya jadi jelek, tapi karena kita yang berubah. Kita masih ikut, masih hadir, tapi hati kita udah keburu capek duluan buat benar-benar ngerasa excited.

Yang bikin gue bisa bertahan sejauh ini sebenarnya sederhana: gue punya hobi, dan gue punya teman-teman yang hobinya sama. Obrolan di circle gue hampir nggak pernah berubah, tetap muter di video game dan segala hal nerdy lainnya. Bedanya, sekarang kami cuma ngobrol. Nggak ada lagi aksi-aksi nekat atau kegilaan khas anak sekolah. Semua kegilaan itu hanya tinggal kenangan.

Lihat selengkapnya